Sebegitu pentingnya kata maaf bagi kehidupan yang lebih baik, sehingga di akhir bulan Ramadan, umat Islam harus saling memaafkan. “Sebulan puasa yang diakhiri dengan hari raya Idul Fitri merupakan momen di mana umat manusia kembali fitrah,” kata Budi.
Kata-kata fitrah sendiri berarti kondisi natural yang berkaitan dengan naluri manusia atau sesuatu yang esensial dalam diri manusia. “Biasanya, konsep ini merujuk kepada hukum yang melengkapi atau mendorong naluri tertentu, misalnya naluri kebersihan atau kesucian. Konsep fitrah ini juga dipercaya secara general, termasuk oleh agama lain sebagai hal paling esensial untuk menjadi manusia seutuhnya,” jelas Tokoh pluralisme Budi Munawar Rachman.
Agar memperoleh kembalinya fitrah, sesama manusia sebaiknya saling memaafkan. “Sejatinya, cara ini memiliki kekuatan penyembuhan atau self healing luar biasa, yang juga telah menjadi pandangan utama dalam keilmuan psikologi dan sosial,” tambah Budi.
Menurut Psikolog Monty Satiadarma, memberi maaf itu bisa menyembuhkan hati yang terluka. “Karena memberi maaf itu sama dengan membebaskan orang lain dari tuntutan kewajiban, yang artinya membebaskan pula diri dari niat menuntut dan mewajibkan,” jelasnya.
Tuntutan dan kewajiban ini mengikat satu sama lain. Yang satu diikat tuntutan, yang lain terikat menuntut. Kata maaf lah yang mampu mengurai ikatan itu. Namun, tentunya maaf yang tulus yang menurut Monty memiliki kekuatan untuk membebaskan semua ikatan. Maaf yang dilandasi kesadaran bahwa kenyataannya manusia tidak ada yang sempurna, dan setiap individu berpotensi melakukan kesalahan.
Memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa memberikan maaf yang tulus. “Pada bulan puasa ini, cobalah gunakan bulan suci ini sebagai kesempatan emas untuk membuat diri dewasa secara spiritual melalui langkah-langkah asketis (menyingkirkan keduniawian) dengan tidak makan dan minum, tidak bicara, mengisi pikiran hanya dengan kitab suci, dan perlahan-lahan melaksanakan buku suci itu dalam keseharian,” saran guru spiritual Gede Prama.
Menumbuhkan keikhlasan memang penting dalam memaafkan orang lain. “Sesungguhnya ada 3 tiga jenis ikhlas. Pertama, ikhlas karena diperintahkan agama. Kedua, ikhlas karena menemukan kedamaian ketika kita melakukannya dan ketiga sebagai hasil kedewasaan dan kematangan spiritual,” kata Gede Prama. Ikhlas yang sempurna itu menurut Gede Prama bisa dilatih dengan banyak-banyak kontemplasi dan yang paling dalam adalah meditasi. “Sesugguhnya, setiap kejadian dan pengalaman itu ibaratnya hanya awan-awan yang tidak kekal. Meditasi membuat seseorang berhenti jadi awan, belajar menjadi langit yang menyaksikan semuanya dengan ketenangan,” kata Gede Prama.
Bila di era digital ini teknologi menyediakan fasilitasnya sebagai ‘penyambung kata maaf’, menurut Budi sebaiknya kata maaf itu keluar ketika kedua belah saling bertemu di dunia nyata. Cara meminta maaf secara tidak langsung melalui media sosial, BBM dan SMS memiliki kekurangan secara mekanik, di mana permintaan maaf menjadi terasa abstrak dan terbilang kurang tulus.
Seperti Intan, meski kesal luar biasa ketika dikhianati temannya, dia merasa harus bertemu untuk menjernihkan persoalan. “Mendingan bicara langsung ke orangnya daripada keadaan makin keruh,” katanya.
“Manusia terlahir dengan wujud fisik, bukan hanya roh saja. Permintaan maaf secara langsung merupakan bukti nyata bahwa manusia itu benar-benar ada,” kata Budi. Lagipula, ada kenikmatan tersendiri yang bisa dirasakan ketika bertemu langsung dengan orang yang dimintai maaf.
Harus diakui, meminta maaf memang butuh ketahanan mental. Bayangan menyeramkan akan mendapatkan perlakuan tidak enak dari orang yang telah ia lukai, seringkali menyiutkan nyali. Jadinya, banyak yang ragu-ragu untuk melangkah. “Kalau Anda memang ragu untuk meminta maaf secara langsung dapat meminta bantuan rekan untuk menjadi mediator atau penengah. Melalui bantuan mediasi, seseorang dapat menyampaikan permintaan maafnya untuk kemudian disambungkan atau dipertemukan kepada orang yang ingin dimintai maaf,” saran Budi. Dua orang yang tengah dilanda konflik, lalu dipertemukan oleh penengah, akan berdampak besar pada jiwa masing-masing.(f)


