Tinggal bersama dengan anak dan menantu memang tak selamanya mulus tanpa masalah. Apalagi, anak dan menantu sering sekali bertengkar dan tidak mau mengalah. Tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga anak, namun kasihan melihat cucu yang tertekan melihat kedua orang tuanya bertengkar. Menurut Irma Makarim, tinggal bersama dalam sebuah rumah tangga yang penuh pertengkaran, tentu tidak nyaman. Tak mudah bagi Anda menutup mata, tetapi sulit juga untuk turun tangan atau menghakimi pertengkaran mereka. Dapat dimengerti betapa besar rasa prihatin Anda harus melihat cucu tumbuh dalam suasana penuh pertengkaran dan kekerasan di antara orang tuanya. Demi kebaikan semua pihak, terutama anak mereka, mungkin Anda perlu mengungkapkan keprihatinan Anda dan mengajak bicara anak-menantu. Anda perlu memperlihatkan pada mereka, bagaimana dampak buruk bagi anak mereka jika ia terus dibiarkan tumbuh dan berkembang dalam suasana penuh pertikaian.
Sebagai ibu, Anda bisa berbicara mengenai nilai-nilai kehidupan positif dalam mendidik anak-anak. Anda perlu menekankan pada anak-menantu Anda, bahwa kewajiban mereka sebagai orang tua adalah menciptakan suasana rumah tangga yang damai dan memindahkan nilai-nilai positif pada anaknya, bukan sebaliknya. Anda bisa menekankan pada mereka, bahwa perilaku mereka akan dicontoh oleh anaknya karena memang orang tua adalah panutan bagi anak.
Dengan demikian Anda bukan saja membantu anak Anda menggali kembali nilai-nilai kehidupan mereka, tetapi juga memberikan inspirasi untuk mengembangkan nilai-nilai ini dalam kehidupan rumah tangganya. Tak perlu berkecil hati bila usaha Anda belum berhasil. Anda sendiri bisa berperan aktif dengan memberi contoh yang baik bagi cucu Anda. Semoga ini akan bisa menjadi inspirasi bagi anak-menantu, untuk mengubah sikap hidup mereka.
Monty Satiadarma menyarankan, posisi Ibu relatif sulit menengahi karena cenderung akan dianggap berpihak kepada anak, betapapun ibu bertindak objektif. Alangkah baik jika Ibu menyarankan mereka menghubungi konselor perkawinan dan meminta bantuan secara profesional sebelum kondisinya menjadi lebih kompleks, dan memberi dampak negatif pada perkembangan anak-anak.
Jika anak kerap menyaksikan konflik di antara kedua orang tua mereka, maka anak cenderung belajar mengembangkan interaksi sosial dalam bentuk konflik. Seperti caranya membina hubungan sosial, cenderung menggunakan bahasa konflik saat berinteraksi dengan orang lain, termasuk pola intonasi ucapan serta ekspresi verbal yang mengarah pada suasana konflik. Anak belajar berperilaku dengan mencontoh. Mereka amat mudah terpengaruh contoh dari orang tua.
Masalah lain yang perlu dipertimbangkan adalah, kondisi konflik menyebabkan anak berada dalam atmosfer kecemasan. Ia sendiri belum tahu dan memahami apa yang terjadi, namun ia menangkap suasana hidup yang penuh pertentangan, sehingga menimbulkan rasa cemas dan bingung. Kondisi ini secara bertahap akan memengaruhi pembentukan kepribadiannya.


