Fiction
Kekasih Jiwa [4]

19 Mar 2012

<< Cerita Sebelumnya

Dari mana kamu tahu Indra?” Aku menahan napasku.

“Tidak penting dari mana aku tahu, ‘kan? Aku sudah bilang, Indra tidak berarti apa-apa pada hubungan kita. Dia cuma wanita murahan yang biasa kamu ajak tidur, ‘kan?”

Kata-kata Anne membuatku menahan gemeretak gigiku. Tenggorokanku tersekat. Aku menjalankan mobil perlahan dan diam. Bukan karena rasa bersalah pada Anne, tapi justru karena kemarah-anku. Indra tak pernah tidur denganku, dan Indra tidak murahan....

Malam ini, aku menjemput Indra di kampusnya. Aku menatap Indra dengan beribu rasa. Gadis ini memandangku kasihan, atau aku sendiri yang terlihat kasihan, atau aku bahkan tidak tahu siapa yang seharusnya dikasihani.

“Tidak apa-apa kamu menikah.” Indra mengambil tanganku. “Toh, sewaktu aku mengenalmu, kamu sudah bertunangan.”

Aku tidak sanggup untuk bicara. Memandangnya saja aku tak sanggup. Dia mengetahui semua isi hatiku, sebelum aku ucapkan.

“Aku juga sayang sekali padamu, Leo.” Indra jarang sekali meng-ucapkan kalimat ini. Aku tahu dia tidak berbohong. “Kamu bisa pergi dari aku kapan saja kamu mau. Kamu bisa datang padaku kapan saja kamu mau.”

“Kau tidak akan pergi dari aku?”

Aku menatap matanya, terperanjat dengan jawabannya. Gadis ini selalu menganggap diriku sangat istimewa.
Mata bening Indra menatapku, tanpa air mata. “Apa kamu lihat aku bisa meninggalkan kamu?”

“Anne akan terus menyakitimu, kalau kau tidak pergi dariku.”

“Leo, kalau aku pergi dari kamu, bukan karena aku tidak mampu menanggung penghinaan Anne. Tapi, karena aku tidak tahan merasakan kamu disakiti Anne.”

“Indra, bisakah kita....”

“Aku mau pulang, Leo.”

Indra berdiri terhuyung. Aku merangkulnya dan keluar dari rumah makan yang cukup tertutup. Anne pasti membuntuti aku. Atau menyuruh orang mengikutiku, ke mana pun aku pergi.

“Maafkan aku, Indra,” aku berbisik halus.

Indra hanya menggangguk.

Aku hampir tidak kuat merasakan sakitnya hati Indra. Anne mendatangi Indra minggu kemarin dan berbicara keras di tempat kosnya. Indra tidak pernah mengadu padaku. Tapi, aku tahu, itu akan dilakukan Anne, seperti ancaman sebelumnya, saat aku menjelaskan Indra tidak bersalah. Sepanjang jalan, Indra memeluk lenganku, seakan takut sekali kehilangan diriku. Aku sudah membawa gadis ini pada suatu keadaan yang sungguh menyakitkan. Seperti simalakama bagiku, baginya....

“Kau mau pulang ke tempatku, Indra?” aku berbisik pelan.

“Aku tidak tahu, Leo. Aku takut sekali.”

Untuk pertama kalinya aku melihat Indra meneteskan air mata, membasahi lengan kiriku. Suara Indra sungguh mengiris hatiku.

“Aku mencintai dirimu, Leo. Aku tidak bisa berpa­ling.”

Pagi ini, kudapati Indra tertidur di pelukanku, tanpa busana....

Dan pagi berikutnya, Indra menghilang....

Lima tahun kemudian….
“Pulang, Ndra?” Saskia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, sambil memandang Indra dengan khawatir. “Kau sakit, ya?”

“Tidak, hanya kurang tidur,” Indra menjawab malas. “Mau pergi ke mana?”

“Pulang. Aku capek banget,” Saskia melambaikan tangannya.

Indra membalas tanpa menoleh.

“Mau pulang, Ndra?” tiba-tiba Dewa sudah berdiri di depannya. “Bareng?”

“Aku mau ke....”

“Aku antar,” Dewa memotong cepat. “Kau tidak bawa mobil, ‘kan?”

“Iya, sih. Tapi, aku ditunggu Saskia di bawah.”

“Ya. Sudah.” Dewa mundur. “Hati-hati, ya.”

“Thanks.”

Indra menarik napas, memerhatikan punggung jangkung Dewa meninggalkannya. Dia begitu baik padaku. Tapi, aku mencintai Leo.

Indra masuk mobil Saskia dan memasang sabuk pengaman. “Antarkan aku ke toko buku terdekat, dong.”

“Okay, bos.”

Saskia melambaikan tangan pada Dewa yang berdiri di lobi kantor, sepertinya ingin memastikan bahwa Indra tidak berbohong.

“Sebaiknya aku pulang saja. Pusing sekali.”

Indra membelokkan rencananya.

“Kurasa Dewa orang yang cukup layak buat kamu,” Saskia berkomentar, sambil memutar arah menuju apartemen Indra. “Tampan, cerdas, dan kaya.”

“No comment,” Indra menjawab sambil menurunkan sandaran. “Bangunkan aku, kalau sudah sampai rumahku.”

“Kamu yang nebeng, kok, jadi aku yang repot? Ha...ha...ha.... Masih memikirkan pria rahasia itu?”

“Jangan memulai.” Indra menutup wajahnya dengan saputangan.

“Ia makin sukses.” Saskia mengambil surat kabar di dashboard. “Dia menguasai semua proyek raksasa di Jabotabek. Lihat ini.”

Indra melihat ke koran yang belum sempat dibacanya. Gambar Leo sedang bersalaman dengan salah satu menteri, sambil memamerkan senyumnya yang khas.

“Ia tahu betul harus menikahi siapa. Mertuanya membawanya menjadi kontraktor paling hebat di negeri ini.”
Indra membaca beritanya sekilas dan melipatnya lagi.

“Aku heran, bagaimana kau bisa menjadi simpanannya?”

“Gila kamu. Aku bukan simpanan.”

Indra mengambil ponselnya yang bergetar lalu mematikannya. ”Dewa.”

“Kurasa, dia jatuh cinta betul padamu. Kenapa kau tidak berpacaran saja dengan Dewa?”

“Karena, aku memang tidak ingin berpacaran.”

“Atau, karena pria rahasiamu itu? Kau yakin akan menunggunya sampai bongkok? Itu pun kalau dia masih ingat padamu....”

“Kau lapar?” Indra memutuskan pembicaraan.

Saskia tertawa keras. “Ada restoran Prancis yang baru buka dekat tempatmu. Mau coba?”

“Sure,” Indra menjawab sambil mengambil dompetnya. “Kau yang bayar, ‘kan?”

Saskia tertawa lagi, membelokkan mobilnya, masuk parkir gedung berlantai tiga puluh dua itu.

Indra duduk sambil membaca memo, menunggu Saskia keluar toilet. Kebiasaan Saskia setiap naik lift lebih dari sepuluh lantai.

“Bu Indra?” seseorang dengan seragam safari berdiri di depannya.



Penulis: Lie Phan



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?