<<< Cerita SebelumnyaFia memeluk Melia dan mencium kedua pipinya, juga kedua pipi Nailah. Dia membisikkan sesuatu di telinga Melia, yang membuat Melia mengangguk sebentar. Lalu, abang becak membawa Fia ke terminal bus. Kata Melia, dia naik bus ke Surabaya, lalu ganti pesawat di Juanda.
Sepeninggal Fia, Melia mengajakku masuk. Dia meletakkan Chacha yang sudah tertidur di boksnya. Lalu, meregangkan kedua tangannya yang mungkin terasa pegal.
“Kau benar-benar menikmati peran barumu, Lia. Aku salut kau bisa begitu cepat mempelajarinya.”
Dia tertawa. “Semua wanita dilahirkan untuk jadi ibu. Lagi pula, umurku sudah tiga puluh empat. Sudah waktunya, ’kan?”
“Kenapa tak menikah lalu hamil, melahirkan anakmu sendiri?”
“Memang seharusnya begitu, sih, tapi belum ada yang mau denganku. Ada yang mau, tapi tidak tepat.”
“Kenapa tidak tepat?”
“Banyak hal. Pendeknya, semua yang tidak tepat terkumpul menjadi satu. Jadi, lebih baik tidak dan melupakannya saja.”
“Aku jadi penasaran, pria dengan kriteria macam apa yang dicari oleh wanita sukses sepertimu? Kau bergaul dengan banyak orang dan kalangan. Aku yakin, banyak yang seharusnya pantas jadi kandidat.”
“Kau mau bilang aku mematok standar yang terlalu tinggi? Ah... kau tahu Ros, yang kuinginkan cuma orang yang kucintai dan mencintaiku, sehingga kami bisa mengekspresikan cinta itu. Sederhana, ’kan? Tapi, hal yang sederhana terkadang malah susah diraih. Padahal, itu saja rasanya sudah cukup.” Matanya tampak sungguh-sungguh. “Apa yang lebih kau inginkan daripada adanya seseorang yang menemanimu di akhir hidupmu, saat kau tak cukup berdaya lagi bahkan cuma untuk sekadar berdiri?”
“Hei... kenapa jadi melankolis seperti itu?”
Dia tertawa kecil. “Tapi, sepertinya sudah menemukan teman untuk hari tuaku nanti.” Dia mengerling pada bayi yang sedang tidur itu. “Memang, satu saat nanti dia akan keluar dari rumahku. Tapi, aku harap dia tidak akan keluar dari hidupku. Kalau aku mencintainya dengan cukup dan memperlakukannya dengan baik, dia tidak akan melupakanku, walau aku hanya ibu angkatnya.”
“Jadi, itu tujuanmu mengadopsinya? Untuk merawatmu kelak, saat kau tua dan sakit-sakitan?”
Kali ini dia tergelak. “Tentu aku tidak sejahat itu, Ros! Cuma, aku akan berterima kasih, jika dia mau menemani hidupku dan tetap menjadi anakku, walau akhirnya dia tahu tidak ada setetes pun darahku dalam tubuhnya.”
“Soal teman hidup, sebenarnya kau bisa pecahkan dengan satu cara yang akan memberimu semuanya, tidak cuma anak angkat.”
Melia mengangguk. “Aku tahu, pernikahan kan yang sebenarnya kau maksud? Cuma masalahnya adalah belum ada yang benar-benar tepat.”
“Kau tidak akan menemukan, jika mencari yang benar-benar tepat. Tidak pernah ada yang benar-benar tepat, Lia. Karena memang, manusia tidak pernah ada yang sempurna.”
“Aku tahu. Tapi, masalahnya, apa yang kutemukan sekarang benar-benar tidak tepat. Percayalah, seperti yang kukatakan tadi, semua yang tidak tepat berkumpul menjadi satu. Jadi, tidak adalah pilihan yang paling tepat, walau rasanya tidak enak sama sekali.”
“Benar-benar seburuk itukah?”
Melia mengangguk sambil mengembuskan napasnya. “Sudahlah, I’m OK. Dengannya aku berharap keadaan akan lebih baik lagi. Jadi, sebenarnya bukan cuma dia yang membutuhkan aku. Tapi, aku juga membutuhkannya.” Dia menunjuk si kecil mungil yang tengah nyenyak itu dengan dagunya, lalu menuju ke kamar mandi.
Aku jadi penasaran, apa yang membuat Melia menganggap pria itu tidak tepat sama sekali. Seharusnya jika ada cinta yang mengental, tidak ada cukup banyak hal yang tidak bisa dikompromikan dan diselesaikan. Aku masih ingin bertanya, tapi sepertinya sahabatku itu enggan membicarakan hal itu. Dia langsung masuk kamar mandi, setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya tadi.
“Bagaimana, sudah selesai membaca novelku?” katanya, begitu keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah. Wajahnya masih agak kuyu, tapi sudah lebih segar daripada tadi.
“Belum. Risetmu hebat sekali.”
“Riset?”
“Tentang kehidupan para homoseksual itu. Kau detail sekali menggambarkan Permadi, Frans, dan kehidupan mereka. Detail-detail hubungan seperti itu tak akan kau dapatkan tanpa riset, ’kan? Kau berhasil membuat pembacamu mengerti.”
“Kau sadar, Ros, mereka sebenarnya ada di mana-mana. Jika kau berpikir mereka tak ada dalam lingkungan hidupmu, kau salah. Cuma masalahnya, kau tidak kenal mereka sehingga kau beranggapan mereka ada di luar duniamu. Mungkin, kau hanya bersentuhan dengan para transeksual yang bekerja di salon-salon kecantikan. Selebihnya mungkin gelap.”
“Kau simpati sekali pada mereka, Lia.”
“Bukan simpati sebenarnya. Cuma tahu pasti dan kenal banyak dengan mereka. Jakarta tempat berkumpul segala macam manusia, Ros. Kalau kau tahu banyak tentang mereka, kau akan tahu betapa beruntungnya kau sebagai seorang yang punya pasangan yang kau cintai dan mencintaimu dan kalian sudah punya sebuah perkawinan. Mungkin belum adanya anak jadi masalah, tapi tetap saja kalian sangat beruntung.”
Aku jadi langsung teringat Arman. Tadi pagi aku masih bersikap kaku kepadanya. Ah, Arman, aku belum pulih dari marah dan kecewa.
“Di luar sana, orang-orang seperti Permadi dan Frans sibuk menutupi identitas diri dan perasaan mereka dengan bermacam cara. Sebab, bagaimanapun, masyarakat kita belum bisa menerima keberadaan mereka. Juga tidak ada agama yang membenarkan. Posisi mereka sulit.”
“Tapi, banyak juga yang menjadi homoseksual, karena kesalahannya sendiri. Ada banyak yang awalnya normal-normal saja, lalu berubah jadi homoseksual, karena alasan yang macam-macam. Malah ada yang bilang, itu semacam lifestyle.”
Melia menarik napas dalam.
“Untuk yang itu, aku tidak bisa berkomentar. Aku yakin, suatu saat mereka akan sadar bahwa mereka telah memilih jalan yang sulit, apa pun alasannya dulu. Aku cuma sering kepikiran dengan mereka yang menjadi seperti itu sejak dilahirkan. Mereka yang seolah berada dalam raga yang salah. Seumur hidup harus menerima itu, seumur hidup bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan tentang diri sendiri, yang jawabannya selalu susah ditemukan, sehingga begitu susah untuk sekadar berdamai dengan diri sendiri. Hal yang tidak terjadi pada kalian yang normal-normal saja.”
Kulihat mimik mukanya serius sekali, walau dia mengucapkan semua itu sambil memberesi pernik-pernik Chacha yang berserakan di tempat tidurnya.
“Itu yang kau ingin sampaikan pada pembacamu?”
Dia memonyongkan bibirnya, lalu tersenyum. “Sebenarnya, aku ingin memperlihatkan sebuah realitas di sekitar kita. Realitas yang banyak dianggap sebagai satu dunia tersendiri, yang terpisah dari sebuah kehidupan normal. Memang tidak terlalu salah, jika mereka menganggapnya sebagai satu dunia tersendiri. Karena, komunitas itu adalah komunitas yang cenderung tertutup. Karena, ada identitas-identitas yang dirasa perlu untuk ditutupi. Juga karena adanya penolakan-penolakan. Sebenarnya, aku cuma ingin kita semua mengerti bahwa mereka ada, dan tidak membuat prasangka apa pun.”
“Tapi, Lia, kadangkala dunia mereka gelap dan mereka melakukan hal-hal yang buruk.”
“Ya, memang. Tapi, banyak juga yang benar-benar menjadi orang baik, yang selalu mengajak kepada kebaikan, juga produktif dan profesional dalam pekerjaannya. Banyak sekali kutemukan yang seperti ini, walau banyak juga yang terjebak dalam kehidupan liar, apa pun alasannya. Bukankah mereka yang normal juga ada yang baik dan ada yang tidak?”
“Jadi, kau setuju jika ada pelegalan pernikahan untuk mereka?”
Lagi-lagi dia menarik napas dalam. “Rasanya tidak juga. Sebab dalam semua agama, jelas-jelas itu dilarang. Sebenarnya, maksudku tidak untuk sejauh itu. Aku berpikir, rasanya aneh juga jika satu negara melegalkan sebuah peresmian cinta, sedangkan negara yang lain melarangnya. Padahal, masalahnya cuma satu: cinta. Intinya, aku ingin kalian tahu dan menerima keberadaan mereka. Kau tahu, Ros, sebenarnya yang mereka butuhkan adalah teman. Teman yang mau mendengarkan kegelisahan, pertanyaan, dan ketakutan mereka. Sebenarnya, justru mereka yang normal yang lebih mampu untuk membantu. Semua orang pasti senang ada seseorang di sampingnya, jika sedang berada dalam sebuah kerumitan, apa pun itu. Iya, ’kan?”
Tentu saja dia benar.
Penulis: Ina B. Alasta


