Tidak seperti hipertiroid yang memberikan gejala nyata (pembesaran leher atau timbul benjolan), hipotiroid sering kali tidak disadari gejalanya. Akibatnya, banyak penderita yang tak sadar dirinya memiliki kadar tiroid yang rendah.
Kelainan hipotiroid harus diwaspadai oleh wanita usia produktif. Karena, saat hamil, janin belum dapat memproduksi sendiri hormon tiroidnya di 5 bulan pertama kehidupannya. Si janin bergantung sepenuhnya pada produksi hormon si ibu. Tak ayal, bila janin tak mendapat cukup yodium, maka perkembangan otaknya akan terhambat yang dapat mengakibatkan kecacatan fisik (tumbuh kerdil/cretin) dan keterbelakangan mental (down syndrome).
Bila seorang wanita mengalami hipotiroid, kekurangan hormon itu harus segera dinormalkan lewat terapi hormon. Dia tidak boleh hamil selama minimal 6 bulan. Wanita dengan kelenjar tiroid normal pun cenderung akan mengalami kekurangan yodium saat hamil. Karena itu, dokter biasanya menyarankan konsumsi suplemen potasium yodium tiap hari selama masa kehamilan dan menyusui untuk menghindari risiko.
Bagi wanita yang telah mengetahui dirinya pengidap hipotiroid harus menginformasikan dokter kandungan dan anaknya saat hamil/melahirkan. Ada baiknya dilakukan screening TSH pada tiap bayi yang baru lahir untuk mengetahui apakah terdapat kelainan kelenjar tiroid. Tiap bayi yang dilahirkan memiliki peluang 1/8.000-1/10.000 untuk terkena kelainan kelenjar ini. Bila terdeteksi dini dan segera diobati, maka bayi pun luput dari kecacatan. (f)


