Ketika
kampanye pilpres lalu, femina memberi kesempatan kepada pembaca untuk
menyampaikan pertanyaan untuk Jokowi. Salah satu yang menjadi
pertanyaan terbanyak adalah ketenangan Jokowi menghadapi kampanye hitam
dan fitnah yang bertubi-tubi.
Bapak bisa tenang menghadapi hal itu?
Saya sudah latihan menghadapi hal ini. Sejak di pilkada wali kota, hal itu juga ada. Di pilkada gubernur, juga ada.
Tapi, bukankah tidak seberat ini?
Kalau
yang ini panjang dan sadis, ya? Ha…ha…ha…. Bukan hanya saya, tapi
anak, istri, ibu saya juga kena, bahkan almarhum Bapak saja kena. Saya,
sih, biasa saja, tidak sedih. Karena itu, mana pernah saya bales.
Mengapa?
Apa
gunanya? Lebih baik saya kasih penjelasan. Ketika saya dibilang orang
Singapura, saya jelaskan saja, “Ndak, saya anaknya orang desa. Ibu saya
dari desa ini, bapak saya dari desa ini.”
Adakah teman berbagi di kala masa-masa berat?
Karena
saya merasa biasa-biasa saja, saya tidak pakai curhat-curhatan. Justru
anak-anak yang curhat ke saya. “Pak, kok, saya ditulis begini-begini.”
Saya bilang, “Ah, enggak apa-apa. Paling sebulan juga hilang.” Ketika
istri mengeluh, saya bilang, “Ah, paling seminggu juga akan rampung….”
Ketenangan itu, Bapak belajar dari mana?
Sejak
dari lahir saya sudah biasa jatuh bangun. Namanya penderitaan, usaha
jatuh bangun itu sudah biasa. Jadi, ya menghadapi hal seperti itu biasa
saja, meski masif, sistematis dan terstruktur, ha… ha… ha….
Masih sempat mendengarkan lagu favorit?
Kalau
ingin dengerin musik, ya, bisa di mobil. Masih suka mendengarkan
Metalica, Gun n Roses, Megadeth. Jadul semua, ya? Sempat nonton Linkin
Park, tapi kurang suka karena menurut saya terlalu bersih, kurang
keras.
Kalau pulang ke Solo, apa kegiatan Bapak?
Tidur. Tapi kadang-kadang juga makan di luar. Karena saya kurus, saya harus banyak makan, ha…ha…ha…. (f)


