Setelah
seorang presiden terpilih, proses pemilihan anggota kabinet seolah
menjadi drama tersendiri. Banyak orang berpendapat, banyak pihak
berharap bisa menjadi pembantu presiden. Kontroversi muncul, apakah
harus dari kalangan profesional atau dari orang partai politik.
Kadangkala, topik ini justru lebih diminati ketimbang misalnya
langkah-langkah yang akan diambil si pemimpin baru untuk mewujudkan
janji kampanye: membawa rakyat Indonesia ke arah yang lebih baik.
Revolusi mental apa yang akan Bapak langsung terapkan?
Di
birokrasi, saya ingin melakukan perbaikan sistem. Hal ini akan
merevolusi sikap mental kita karena ini berkaitan dengan integritas dan
kejujuran. Artinya, orangnya yang harus mengikuti sistem.
Konkretnya seperti apa?
Misalnya
dengan penerapan e-budgeting, e-purchasing, e-catalog, e-audit, pajak
online, IMB online. dan lain sebagainya. Semua itu untuk mempersempit
ruang penyalahgunaan. Bujet juga dibuka, dengan membuat poster atau
dibuka di website sehingga semua orang bisa mengawasi, rakyat bisa
mengawasi.
Hal ini juga untuk memberantas korupsi?
Persoalan
korupsi memang harus dijawab dengan tindakan yang jelas. Kalau saya
dibarengi dengan membangun sistem. Kepolisian, KPK, itu kan tindakan
hukum, law enforcement. Tapi harus disadari, 70% (upaya pemberantasan
korupsi) itu harus preventif, yaitu dengan pembangunan di sistemnya.
Apakah ada tendensi orang Indonesia susah mengikuti sistem?
Oh,
tidak… itu karena sistemnya saja yang belum benar. Coba saja lihat
orang Indonesia ke Singapura, maka dia akan bisa mengikuti sistem yang
ada di sana. Selain itu, yang penting adalah harus diberi contoh
konkret, lead by example.
Apakah rencana spesifik Bapak untuk memperhatikan kebutuhan wanita?
Yang
pasti adalah pendidikan dan kesehatan, terutama untuk kelas bawah. Kita
lihat sendiri bagaimana para ibu pontang-panting bayar sekolah anaknya.
Makanya, akan ada Kartu Indonesia Pintar. Atau betapa pusingnya ibu-ibu
kalau anak sakit, tidak punya uang. Maka kita buatkan kartu sehat. Saya
kira ini adalah jawaban yang konkret untuk mereka, pegang kartu bisa
dipakai di mana-mana.
Apakah akan ada kementerian khusus untuk wanita?
Nanti
ada yang minta menteri khusus laki-laki, ha...ha…ha…. Kita kurang apa,
sih? Maksudnya, wanita presiden kita sudah punya. Bahkan Amerika saja
belum punya. Gubernur sudah, bupati/wali kota sudah banyak. Apa lagi?
Politikus banyak banget. Maksud saya, ini bukan lagi isu yang perlu
dibesar-besarkan. Emansipasi sudah kita lihat sehari-hari.
Lalu, seperti apa konsep Bapak?
Kita
harus mengemasnya dalam sebuah program dan melekat ke semua
kementerian. Menurut saya, yang perlu diperhatikan itu adalah apakah
programnya sudah ter-deliver kepada wanita dan anak-anak atau tidak.
Bukan masalah ada dan tidaknya kementerian khusus itu.
Melihat pertumbuhan wirausaha yang terus meningkat, apa yang akan dilakukan agar pertumbuhan mereka bisa optimal?
Harus
fokus. Coba cek ke semua kementerian, semua memiliki program pembinaan
UMKM. Karena itu, sekarang harus difokuskan ke satu kementerian. Yang
penting sekarang ini adalah mengidentifikasi masalah-masalah UMKM.
Misalnya, mengidentifikasi produk-produk apa saja yang memiliki daya
saing dan kompetitif untuk ekspor. Bila sudah, negara harus hadir untuk
ikut membantu memasarkan. Dengan demikian, rakyatnya terus memproduksi,
tugas negara adalah ikut memasarkan.
Siapa ‘negara’ dalam hal ini?
Menteri
perdagangan harus seorang marketer, para duta besar harus bisa
memasarkan produk daerah, produk kampung, produk desa, di mana pun dia
ditempatkan. Misalnya di negara-negara yang sedang saja, Afrika
misalnya, ya, cari produk yang sedang-sedang saja, yang marketable di
sana. Tapi, kalau kita punya produk yang bagus, larikan ke negara yang
sudah maju. Kenapa tidak?
Selain itu?
Menteri
pariwisata juga harus orang marketing. Dia harus tahu bagaimana menjual
produk pariwisata, tahu bagaimana mempromosikan destinasi wisata.
Thailand yang saya lihat, promosinya dari kota ke kota, dari negara ke
negara, ada yang muter terus berpromosi, dan kalau ada yang tertarik
tinggal disodorkan orang-orang pelaku pariwisata yang ikut bersama
mereka. Jadi, pekerjaan mereka itu tidak hanya gini… (sambil tangannya
memperagakan seolah menggunting sesuatu- Red).
Sudah menemukan calon-calonnya?
Ha…ha…ha….
Kriteria sebagai menteri Bapak itu apa?
Punya
integritas yang baik dan punya kemampuan manajerial. Bisa dari kalangan
parpol, bisa juga tidak. Saya tidak mempermasalahkan latar belakang,
yang penting bisa kerja, mengerti masalah pekerjaannya, dan tahu
lapangan. Kita ini butuh orang-orang lapangan, bukan konseptor.
Karena?
Sudah banyak rencana, tapi tidak ada yang dieksekusi dan diimplementasikan.
Bapak bersedia untuk tidak populis dengan rencana menaikkan harga BBM. Seperti apa kondisi keuangan negara ini?
Kita
ini mengalami double deficit, ya, defisit neraca perdagangan dan
defisit anggaran. Kita harus memberikan penjelasan itu kepada masyarakat
mengenai cash flow-nya. APBN kita, 433 triliun rupiah untuk subsidi
BBM, 400-an triliun rupiah untuk bayar utang. Kemudian alokasi lain yang
mengikat misalnya pendidikan sekian persen, untuk desa sekian. Jadi
berapa yang untuk pembangunan? Kalau harga minyak dinaikkan, subsidi
itu dialihkan untuk usaha-usaha produktif di masyarakat. Misalnya,
usaha mikro di kampung, UMKM ibu-ibu di desa-desa. Usaha petani yang
berkaitan dengan benih, pupuk, irigasi. Usaha nelayan, untuk beli solar,
untuk beli mesin-mesin kapal. Daripada subsidi ini diberikan untuk
bensin yang dibakar dan dinikmati. Sebenarnya subsidi ini dialihkan saja
dari subsidi untuk kenikmatan ke subsidi untuk produktivitas. Kita
ingin memindahkan perilaku kita dari perilaku konsumsi ke perilaku
produksi. Itu saja.
Bagaimana memastikan pengalihan itu tepat sasaran?
Sistem
kartu yang dihubungkan dengan bank. Itu yang paling mudah. Misalnya,
membuat kartu petani, kartu wirausaha. Artinya, jangan memberikan orang
uang tunai, karena mereka tidak mengerti itu untuk apa. Kalau diberikan
cash, dua hari bisa langsung habis.
Dalam 5 tahun ke depan, apa yang ingin Bapak capai untuk rakyat?
Ya,
yang tadi telah saya sebutkan. Selain itu, kalau sekarang beras masih
impor, gula masih impor, jagung masih impor, ya, distop. Untuk itu,
harus disiapkan strategi untuk mencapai swasembada pangan. Saya kira
bukan sesuatu yang sulit. Ini berkaitan dengan niat dan kemauan. (f)


