Sudut matanya basah tatkala mahkota kemenangan disematkan Puteri Indonesia 2014, Elvira Devinamira, di atas kepalanya. Di kursi penonton, ibunda tercinta menangis menyambut keberhasilan Anindya Kusuma Putri (23) menjadi Puteri Indonesia 2015. Padahal, dulu sang ibu sempat khawatir dengan tingkah pola anaknya yang tomboi sejak kecil. Siapa sangka, kini Anindya telah menjelma menjadi sosok putri nan anggun yang memiliki cita-cita menyuarakan perubahan bagi kaum muda.
Jiwa Aktivis
Menjadi model terkenal ternyata bukanlah tujuan yang ingin Anindya capai ketika mengikuti ajang pemilihan Puteri Indonesia, 20 Februari lalu. Sebelumnya, pada tahun 2011, ia pernah mengikuti ajang pemilihan ini, tapi langkahnya terhenti di tingkat Provinsi Jawa Tengan sebagai 1st runner up.
“Bagi saya, menjadi Puteri Indonesia ini membuka banyak peluang. Selain networking-nya bagus, jika saya berhasil menyandang gelar ini, maka suara saya akan lebih didengar untuk membuat suatu perubahan,” tutur mahasiswi jurusan Planologi Universitas Diponegoro ini, antusias.
Salah satu tujuan terbesarnya mengikuti ajang pemilihan ini tak lain karena ia ingin suaranya bisa mengajak, khususnya anak muda, untuk terlibat dalam berbagai proyek sosial. “Ketika mengikuti pertukaran pemuda ke Vietnam mewakili AISEC, bersama dengan perwakilan pemuda dari berbagai bangsa, saya banyak melakukan kegiatan sosial. Saya mengajar anak-anak, memberi penyuluhan akan ancaman HIV, dan menumbuhkan semangat wirausaha di tengah masyarakat pedesaan. Semua itu benar-benar menginspirasi saya untuk berbuat lebih banyak lagi,” kisah Anindya, yang selalu masuk peringkat 10 besar di bangku sekolah ini.
Sejak remaja, Anindya memang sudah memiliki segudang aktivitas. Salah satunya, saat kuliah, ia bergabung dengan AISEC. “Awalnya saya bergabung dengan AISEC karena motivasi ingin fasih berbahasa Inggris dan bisa jalan-jalan ke luar negeri,” kata wanita yang terpilih menjadi presiden organisasi kepemudaan AISEC periode 2013-2014 ini.
Keinginan Anindya untuk melihat dunia luar pun terwujud ketika pada tahun 2011 mewakili AISEC Indonesia, ia terbang ke Vietnam. Dari sinilah, jiwa aktivisnya terus berkembang hingga ia mengikuti berbagai organisasi yang menjadi kendaraannya untuk berkegiatan sosial. Tahun 2014 lalu, ia juga terpilih menjadi Duta Muda Indonesia dalam The 41st Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program (SSEAYP).
Diakuinya, bergabung dalam berbagai organisasi kepemudaan berskala internasional ini ia menemukan banyak keuntungan. Selain bisa bertemu dan bertukar pikiran dengan banyak pemuda dari berbagai negara, ia juga punya keasyikan baru belajar tentang leadership dan public speaking. Semua kegiatan itu dirasakan Anindya telah memberikan dampak positif bagi pengembangan karakter sekaligus membuka wawasannya. Hal inilah yang pada akhirnya menjadi modal kekuatan wanita yang sempat menjajal dunia modeling saat berusia 16 tahun hingga akhirnya mampu bersinar di panggung pemilihan Puteri Indonesia ini.
“Saya pikir, kemenangan saya di Puteri Indonesia tak lepas dari bekal pengalaman menjadi duta pemuda di luar negeri. Rasanya, hal ini yang membuat saya berbeda dari kontestan lainnya,” tutur Anindya, yang juga pernah menjadi pemain gitar bass dalam band indie di SMA-nya.
Tak dipungkri, di antara 37 kontestan Puteri Indonesia 2015 ini, penampilan Anindya memang terlihat menonjol. Dengan tinggi tubuh menjulang, paras wajah nan ayu, dan segudang jam terbang untuk membawa nama Indonesia di forum internasional, sosok wanita penyuka olahraga basket dan lari ini langsung mencuri perhatian juri.
“Semua kontestan cantik-cantik, begitu juga Anindya. Namun, jejaring dan pengalaman yang ia miliki di organisasi kepemudaan internasional dan kemampuan public speaking serta leadership membuat Anindya stands out dan layak terpilih menjadi duta bangsa,” kata Petty S. Fatimah, Editor in Chief femina, yang menjadi salah satu juri Puteri Indonesia 2015.
Kini, setelah menyandang gelar Puteri Indonesia, Anindya tak sabar untuk memulai satu tahun tugasnya sebagai duta Indonesia baik di dalam maupun di luar negeri. Ia pun mengaku tak sabar ingin memperkenalkan pariwisata Indonesia ke dunia internasional dalam ajang Miss Universe 2016 yang akan diikutinya sebagai bagian dari rangkaian tugas menjadi Puteri Indonesia.
“Ini karena saya suka sekali traveling dan gemas melihat potensi yang Indonesia miliki tapi kurang gaungnya di luar negeri. Saya malu ketika banyak yang tak tahu tentang Indonesia saat menjadi duta pemuda di tengah perwakilan 125 negara lain,” katanya, prihatin.
Ia pun mengaku terinspirasi dan bangga melihat pemerintah daerah Jawa Tengah sukses mengangkat Dieng sebagai tujuan wisata dengan mengembangkan lebih dari 10 desa wisata di sana. “Pariwisata yang maju bisa mendongkrak kesejahteraan penduduk lokal. Otomatis kemiskinan tereduksi,” katanya, serius.(Reynette Fausto)


