Menurut prikolog Monty Satiadarma, banyak nilai positif yang bisa diperoleh sebagai dampak pengidolaan, sejauh pengidolaan itu dikaitkan dengan realitas. Misalnya, seorang pelajar yang mengidolakan gurunya, ia bisa jadi lebih giat belajar. Seorang karyawan yang mengidolakan atasannya di kantor, bisa semangat bekerja, meniru langkah sukses atasannya, dan berusaha menunjukkan yang terbaik. Seorang anggota kelompok organisasi yang mengidolakan pimpinannya akan lebih mudah menjadikan pimpinan sebagai panutan.Monty melihat kenyataan di masyarakat, malah ada kelompok-kelompok sosial perjuangan dan religi yang sengaja menjadikan atau menempatkan pimpinan mereka sebagai idola. Selain untuk mengikat secara emosi para anggotanya, hal tersebut membuka peluang berkembangnya kelompok tersebut.
Tak menutup mata, fanatisme kerap dimanfaatkan. Untuk mendapatkan dukungan dan memperkuat kelompok tertentu misalnya, atau mendapatkan keuntungan ekonomi. Seorang penggemar fanatik pasti rela merogoh kocek dalam-dalam demi menonton konser, membela atlet pujaan bertanding, atau membeli benda-benda memorabilia idolanya, bukan?
Namun, di sisi lain, ada juga hal negatif yang kerap dihubungkan dengan pengidolaan dan fanatisme. Mick Jagger dulu kerap diberitakan terlibat skandal seks dengan groupies-nya. Kabarnya, ini juga terjadi pada atlet-atlet basket dan baseball di Amerika Serikat. ”Penyimpangan perilaku atau tindakan di luar kaidah sosial yang ada bisa terjadi dalam konteks apa pun. Tidak hanya pada kasus pengidolaan,” jelas Monty.
Lebih jauh Monty berpendapat, kalaupun ada kasus terjadi kontak seksual antara penggemar dan idolanya, itu sebaiknya tidak dikaitkan dengan pengidolaan, melainkan merupakan penyimpangan kaidah moral dan merupakan dampak dorongan fisik di luar kendali.
Jika memang interaksi antara idola dan fans kemudian melibatkan seks, menurut Monty, ada dua kemungkinan yang menjadi alasannya. Pertama, tokoh idola menyalahgunakan pengaruhnya kepada fans. Bukan tidak mungkin, seseorang yang merasa berada pada posisi superior (sebagai idola), lantas dengan mudah memanfaatkan pesonanya untuk kepentingan pribadi (baca: libido).
Kedua, di sisi lain, fans menggunakan kesempatan untuk merasa lebih dekat dengan tokoh idolanya. Di beberapa kasus, ada juga fans yang tak peduli jika tokoh idolanya itu adalah orang yang sudah berkeluarga, dan mau melakukan apa pun untuk mendapatkan ’cintanya’.
Keduanya dilandasi hak yang sama, yaitu rasa ingin memiliki. Tokoh idola ingin bertindak lebih superior dari orang lain atas diri fans. Atau fans ingin menjadi lebih superior dari orang lain dengan memiliki tokoh idola. Ia merasa bisa memperoleh perhatian khusus dari tokoh idola yang tidak didapatkan oleh fans lain.
”Tidak tepat juga jika dikatakan kekaguman itu akan membuat posisi seorang wanita menjadi lebih lemah dan cenderung mudah diperdaya oleh idolanya. Mengagumi seseorang bukan untuk membiarkan diri diperdaya, melainkan untuk memperoleh gambaran positif dari tokoh idola. Membiarkan diri diperdaya orang lain sama halnya dengan membodohi diri sendiri di bawah superioritas orang lain. Hal ini sama halnya dengan membiarkan diri diperbudak,” tegas Monty.


