Memulai karier di dunia entertainment di usia 18 sebagai presenter acara musik, Herjunot Ali (29) kini menjelma sebagai bintang film jaminan mutu untuk film berbujet besar. Aktingnya di beberapa film, seperti 5 cm dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, menarik perhatian penikmat film. Totalitasnya di dunia film ternyata tak main-main, dia telah menyiapkan segalanya untuk terjun kembali setelah vakum beberapa waktu.
Jaminan Mutu
Merunut ke belakang, di usia 18 tahun, tanpa membutuhkan waktu lama Junot sudah menjadi idola di kalangan anak muda saat terpilih sebagai salah satu finalis VJ Hunt. Dari sini, tawaran job lainnya terus berdatangan. Salah satunya, bermain di film Lovely Luna (2004). Aktingnya pun makin diperhitungkan ketika membintangi film Realita Cinta dan Rock N Roll (2006), dilanjutkan dengan film Gara Gara Bola (2008).
Setelah itu, nama Junot seperti menghilang di dunia entertainment. Bukannya kembali dengan film baru, Junot malah muncul dengan profesi barunya sebagai disc jockey (DJ). Masa vakum di dunia keartisan juga diisinya dengan membangun bisnis fashion design. Semua itu ia jalani dengan totalitas. Tapi, ia masih merasa belum menghasilkan karya apa pun. “Saya seperti masih berada di tempat yang sama, tak ada kemajuan,” katanya.
Berangkat dari rasa tak puas, Junot mulai mengubah idealisme dan pandangan hidupnya. Jika dulu berkarya sekadar untuk dianggap keren, Junot kini lebih realistis. Seni selalu berjalan beriringan dengan bisnis, terutama dunia film.
“I need to live a mark every time I make something,” ungkapnya. Kematangan yang mengiringinya dalam berkarier di dunia entertainment ini nyatanya sejalan dengan kesempatan yang terbuka di bidang akting. Kematangan ini juga yang membuatnya tak lagi sinis untuk masuk ke ranah film mainstream.
Pada saat itu, Junot merasa harus membuat sebuah lompatan besar untuk karier dan hidupnya. Semua keinginannya mungkin tercapai jika ia berada di proyek film besar, big budget movie dan big studio. Kesempatan ini pun akhirnya ia dapat ketika ia lulus casting untuk memerankan tokoh Hamid di film Di Bawah Lindungan Ka’bah (2011). Film inilah yang sukses mengangkat nama Junot kembali di perfilman Indonesia.
“Saya enggak bisa main film hanya sekadar ‘main’. Tapi, saya ingin secara akting dihargai, dan secara komersial film ini bisa box office. Karena itulah, yang paling penting dari suatu karya, bagus dan bisa dikonsumsi,” jelasnya.
Acuan Junot tak lain adalah sosok James Cameron yang mencetak rekor membuat film terlaris sepanjang masa. “Karena Cameron bisa membuktikan bahwa sebuah film itu bisa memenuhi semua unsur, berkualitas secara sinematografi, namun juga bisa dikonsumsi masyarakat luas hingga mampu mencetak box office.”
Bagi Junot, sebuah eksistensi bukanlah seberapa banyak film yang ia bintangi. Tapi, sejauh mana penonton dan masyarakat mengingat namanya. Junot tak ambisius untuk membintangi selusin film dalam setahun, yang lebih penting baginya adalah berapa lama film itu bertahan, karakter yang ia mainkan selalu diingat dan menjadi perbincangan, dan baik dari segi bisnis dan juga kualitas.
Image sebagai ‘jaminan mutu’ inilah yang pelan-pelan tengah Junot bangun untuk dirinya. Ia berusaha untuk konsisten membuat karya yang berkualitas hingga nantinya dirinya menjadi sebuah tolok ukur untuk kesuksesan sebuah film. Untuk ini juga, Junot selalu mengikuti perkembangan film-filmnya saat baru keluar.
“Saya akan menunggu bagaimana kritikan saat premier. Berapa jumlah penonton saat peluncurannya, berapa penonton di 2 minggu pertamanya. Saya selalu menunggu data-data ini,” jelasnya. Baginya, data inilah yang menjadi tolok ukur kesuksesannya dalam membintangi sebuah film. Junot tak ingin dinilai berdasarkan subjektivitas beberapa orang yang hanya menyukainya, ia tak mencari pengakuan.
Junot selalu tahu apa yang ia inginkan dan langkah apa yang harus ia ambil. Menurutnya, kesuksesan adalah sebuah hal yang formulatif dan bukanlah titik akhir. “Kesuksesan adalah perjalanan yang bergerak dinamis untuk menemukan hal-hal baru dan melewati berbagai cobaan yang nantinya membuat kita lebih kuat dan baik,” katanya.
Ayu Widya S.


