Kebanyakan pendatang baru akan mengiyakan setiap tawaran main di layar lebar. Tak peduli apa perannya, yang penting wajah mereka cepat dikenal orang. Prinsip ini agaknya tidak berlaku bagi Prisia Nasution (27). Hampir 10 tahun ia menunggu peran yang tepat sebelum akhirnya mengangguk setuju. Bukan Pendatang Baru
“Karakter ini 100% punya saya,” tegasnya kepada Ifa Isfansyah, sutradara Sang Penari. Tak hanya asal bicara, wanita yang akrab disapa Pia ini benar-benar membuktikannya. Ia bahkan tak segan beradu argumen dengan sutradara untuk menjaga karakter Srintil yang telah dibangunnya dengan susah payah.
Seperti yang terjadi di tengah latihan adegan menari di scene 30. Dengan alasan agar lebih bagus, sutradara tiba-tiba mengganti alat musik gendang yang mengiringi tarian Srintil dengan calung. Tidak terima, Pia protes keras, “Ini seperti mengambil mainan sawah-sawahan saya dan diganti dengan Play Station.” Karena mogok menari, latihan hari itu pun bubar.
Ia tidak takut dicap sebagai trouble maker. Sebaliknya, ia sangat menyadari bahwa kekerasan hatinya ini bisa memicu konflik. Namun, Pia punya alasan kuat untuk bertahan. Menurutnya, di scene 30 inilah seluruh luapan emosi Srintil tertumpah. Sebab, di adegan ini Srintil pertama kali menari untuk membuktikan kepada Kertareja bahwa ia layak diperhitungkan. Makanya, khusus untuk adegan ini Pia tak mau sekadar berakting. Ia juga ikut menentukan, mulai dari gerakan tari, musik pengiring, dan isi tembang yang dibawakannya saat menari. Semua dilakukan berdasarkan riset dengan penari asli Banyumas yang menjadi sumber referensinya.
“Melalui adegan ini, bukan hanya Srintil yang ingin menunjukkan kepada Kertareja bahwa ia bisa menari. Tapi, seorang Pia juga ingin membuktikan kepada banyak orang bahwa Pia yang dibilang tomboi dan tidak mungkin bisa membawakan peran Srintil, ternyata bisa,” tegas Pia, yang dengan inisiatif pribadi menyempatkan diri tinggal selama seminggu bersama penduduk Banyumas demi penjiwaan peran.
Kerja keras dan keteguhan hatinya dalam menjaga karakter Srintil membuahkan hasil yang manis. Di Festival Film Indonesia 2011, ia berhasil membawa pulang Piala Citra untuk gelar Aktris Terbaik. Film Sang Penari sendiri berhasil meraih 10 nominasi dan memboyong penghargaan utama, untuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Aktris Pendukung Terbaik (Dewi Irawan).
Sebelum bermain sebagai Srintil, Pia yang sudah berprofesi sebagai model dan bintang iklan ini telah banyak bermain di layar FTV. Beberapa di antaranya, Bosku Galak, Bosku Cantik, dan Cinta Gara-Gara Jengkol.
“Setiap kali dipercayai sebuah peran, saya selalu berusaha menunjukkan bahwa keputusan mereka untuk memilih saya tidak salah! Meski ada adu argumen, begitu masuk frame, mereka memercayakan sepenuhnya karakter itu kepada saya,” ungkap pemeran Ibu Guru Muslimah di serial TV Laskar Pelangi ini.
Sikap tidak mau tanggung-tanggung ini juga diperlihatkan melalui kehati-hatiannya saat memilih tawaran main film. “Saya tidak mau mengerjakan sesuatu yang saya sendiri tidak bisa mengapresiasinya. Saya tidak keberatan terus menunggu hingga benar-benar mendapatkan film yang tepat. Sang Penari adalah jawaban dari penantian saya. Ceritanya luar biasa, casting-nya serius, pengerjaannya serius. Semua keseriusan ini memberi akhir yang baik bagi film ini,” jelasnya.


