Konsep feminin sudah banyak diterapkan dalam desain interior. Gaya yang dianggap memiliki sifat kewanitaan ini cenderung didominasi detail lentik, bentuk geometris, dan garis-garis lengkung yang lembut. Seiring berkembangnya desain interior, konsep feminin pun melebur ke dalam banyak gaya desain. Contohnya, gaya shabby chic, vintage, klasik rococo, bahkan pop art. Jadi, konsep feminin tidak perlu terpaku pada dekorasi ruang yang frilly, seperti bahan renda, motif floral, dan warna pastel. Konsep feminin dapat dikembangkan lebih bebas dan tidak selalu harus tampak girlie.Ada beberapa hal yang menjadi kunci utama dalam menerapkan konsep feminin pada interior, di antaranya:
Lengkung dan Geometris
Bentuk lengkung dan geometris yang tak bersudut dapat menggambarkan sifat lembut dan dinamis dari konsep feminin. Ini dapat menjadi panduan Anda dalam memilih furnitur, seperti round coffee table, chandelier, dan pilihan kursi berkaki lengkung.
Tidak harus Pink
Banyak warna yang bisa diterapkan dalam konsep feminin, sehingga Anda tidak harus terpaku pada warna-warna yang dipersepsi feminin, seperti merah atau pink. Terlebih lagi saat ini makin banyak jenis warna yang menjadi tren dan cukup netral untuk masuk ke dalam konsep feminin, misalnya fuchsia, ungu, turquoise, tangerine, teal, dan marsala (oranye gelap) yang menjadi warna tren 2015. Untuk menghindari kesan terlalu ramai, padukan warna-warna tersebut dengan warna yang lebih kalem dan netral, seperti putih, krem, atau abu-abu.
Tekstur juga Detail
Bahan renda, motif floral, dan warna pastel memang merupakan detail yang bersifat feminin. Tapi, Anda juga dapat menambahkan detail lainnya, yaitu tekstur. Permainan tekstur dapat Anda aplikasikan lewat pemilihan upholstery (kain pelapis sofa), pelapis dinding, dan material lantai. Anda bisa gunakan bahan beledu sebagai cushion cover, shaggy rug, wallcover bermotif timbul, dan lantai parket. (f)


