Fiction
Hitam Merah Cinta [7]

22 May 2012

<< cerita sebelumnya

ANITA
Pria itu diperkenalkan seorang teman di sebuah kafe. Sebenarnya, sulit bagi Anita membuka lagi hati untuk kehadiran pria lain. Tapi, pria ini sangat menawan. Berkulit gelap dengan kumis tipis. Bola matanya berwarna cokelat muda, sehingga tampak tembus pandang di kegelapan. Tidak terlalu tinggi, tapi secara keseluruhan, Anita berani memberinya nilai 8. Namanya Budi.

Pendekatan Budi intens sekali. Ia pandai memenangkan hati ibunya. Ia bisa membaca keresahan seorang ibu, yang anaknya dikhianati. Yang 10 tahun setelah itu masih belum berani membuka hati. Budi langsung menghadap ibunya, mengobrol. Kadang-kadang ia sengaja datang sebelum Anita pulang kerja, supaya punya waktu lebih lama untuk mengobrol dengan ibunya, kakak dan adiknya, bahkan para pembantu rumahnya kalau perlu. Kehadirannya di rumah menjadi sangat terasa. Hati Anita mulai berbunga-bunga, nyanyian di hatinya sudah kembali berkumandang. Kiranya Tuhan berbaik hati sekali ini, batinnya.

Budi menelepon hampir setiap hari, dan berusaha menjemputnya dari tempat kerja, tak peduli lalu lintas macet atau lengang. Mereka sudah sangat dekat, kemesraan mereka sudah tak ditutupi. Meski Budi belum resmi melamarnya, Anita telah sering meng­khayalkan pesta pernikahan mereka. Sebuah pesta sederhana dengan bunga melati dan mawar merah memenuhi ruangan, menghadirkan harum lembut yang melingkupi dirinya dan Budi, sementara alunan suara seruling membawa kedamaian di jiwa mereka.

Sore ini ada mendung di wajah Budi. Ia tak banyak bicara. Jika mereka tidak berkomunikasi, Budi akan menggenggam tangannya, dalam hening hati mereka bicara, dan itu lebih dari cukup buat Anita. Tapi, hari ini pria terkasihnya itu muram dan lesu.

“Ada yang kamu pikirkan? Kalaupun aku tidak bisa memberi jalan keluar, setidaknya aku bisa sedikit meringankan.”

“Terima kasih, Nit. Mungkin, besok sudah ada jalan keluar,” Budi menyentuh pipinya dan mengecup keningnya, lalu berlalu.

Esok pagi-pagi sekali, Budi sudah berdiri di muka pintu rumah. Wajahnya kusut. Ia tak pernah mengantarnya pergi kerja, ia biasa menjemputnya pulang kerja. Sesuatu telah terjadi.

“Bisnisku merugi. Aku terlibat utang besar, Nit,” Budi tertunduk.

“Berapa jumlahnya?” tanya Anita.

“Hampir dua ratus juta,” Budi berbisik, tapi Anita mendengarnya bagai gelegar petir, membuat matanya membelalak, napasnya tiba-tiba sesak.

Keduanya kemudian membisu, sebelum akhirnya Anita berjalan ke dalam rumah untuk menemui ibunya, tanpa Budi sempat mencegahnya. Ibu Anita tentu tidak keberatan membantu calon menantunya, merelakan beberapa butir berlian untuk menutupi utangnya.Bulan-bulan setelah itu, Budi agak jarang menjemputnya. Sudah tidak meneleponnya sesering dulu.

Jika Anita meneleponnya, jawabnya hanyalah bahwa ia sedang berusaha mengganti berlian-berlian ibu Anita. Ketika dua minggu penuh tidak terdengar kabar apa pun, Anita mulai cemas. Ia menelepon Indah, yang memperkenalkan mereka berdua.

Belum-belum, Indah langsung memberi kabar buruk.

“Kamu masih ingat Budi? Ia sebentar lagi nikah. Dulu hubungan mereka sempat ditentang keluarga kekasihnya, karena mereka dari keluarga terpandang.”

Anita pingsan.

Kakak-kakak lelakinya memburu perampok itu sampai ia bersumpah akan mengembalikan berlian itu, berikut bunga, biarpun harus mencicil seumur hidup. Rupanya, ia berkeliaran mencari mangsa yang bisa diraup hartanya.
Itulah kesalahan keduanya, mencintai pria yang keliru.

FIONA
Fiona serba salah. Ia sadar telah jatuh cinta. Ia sadar inilah cinta sejatinya yang kedua. Tapi, pria itu pandai sekali menarik ulur tali perasaannya, meresahkan hatinya. Ia tak pernah memberi sinyal lebih dari sekadar menghabiskan kesenangan bersama.

Terombang-ambing dalam ketidakpastian, Fiona masih menggapai-gapai dalam pencarian cinta. Kadang-kadang, ia ingin sekali menyudahi semuanya, dan memindahkan hatinya pada pria lain. Tapi, hatinya tak dapat didustai. Ia sadar telah terjebak dalam cinta sepihak.

Pria yang lain ini gigih sekali berusaha memenangkan hatinya. Bonar namanya. Mereka bertemu di acara komunitas. Sayangnya, tak pernah ada debar di hati Fiona, meskipun pria itu jelas-jelas memerhatikannya. Terkadang Fiona merasa kekurangan ruang gerak karena Bonar tidak melonggarkan pendekatannya. Tanpa sadar ia sering menunjukkan sikap kurang bersahabat, tetapi Bonar tak pernah marah atau menunjukkan rasa sakit hati.
Fiona sering berpikir, hatinya ingin menunggu hingga Arie membawa hatinya. Tapi, yang datang menyodorkan cinta di nampan perak malah pria yang sama sekali tidak dicintainya, tidak pernah diharapkan kehadirannya. Tadi sore Bonar melamarnya. Malam ini Fiona kian resah, jarum jam di dinding sudah memeluk angka tiga, tapi matanya belum juga terpicing.

Keputusan besar telah dibuatnya. Mereka bertunangan di kapel kecil di Davenport, kota kecil di pinggir laut yang penuh bangun­an kuno. Rencana pernikahan akan dilangsungkan di Indonesia, saat liburan musim panas datang nanti. Arie menyalaminya tanpa berkata-kata, sama diamnya seperti saat Fiona mengatakan telah menerima lamaran Bonar dan akan menikah dengannya.

Fiona tak tahu apa yang ada di dalam kepalanya, meski ia sangat berharap Arie sedang menyesali kekalahan langkahnya. Tapi, apakah ini memang kekalahan buat Arie? Fiona malu memikirkan itu. Tapi, ia tetap berharap Arie mengejarnya. Tapi, itu hanya dalam khayal­annya. Arie tidak mengejarnya ke pintu, juga tidak bereaksi. Justru itulah yang membuat Fiona gemas, sekaligus perih dan merindu.

Fiona merasa jarak Bonar dan dirinya kian menyempit. Ini malam pertama mereka berada dalam ruangan tertutup ukuran 3 kali 3. Sebelumnya, mereka selalu ada di tempat terbuka. Tanpa sadar, Fiona mulai gemetar.
“Kamu sakit? Mungkin, kamu kelelahan. Kita istirahat, ya.”

Fiona sudah menghentikan pencarian cintanya. Ini hidup yang telah dipilihnya, ia akan belajar mencintai Bonar. Tapi, hatinya tak mau berdamai dengan kepalanya.

SARAS
Saras mau membayar apa saja, demi memenangkan hati Bart. Tapi, pria itu belum menginginkan komitmen. Ia terlalu menyadari kelebihannya, ia merasa mudah mendapatkan wanita mana saja. Saras kecewa.
Setelah perpanjangan cutinya karena ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Bart, tidak ada tanda hubungan itu akan dibawa ke mana. Saras pulang ke Indonesia dengan merana. Saras menangis. Mengapa ia harus selalu berjuang untuk cintanya?

Saras masih berkomunikasi dengan Bart lewat e-mail. Setidaknya, ia tidak membiarkan tali kemungkinan itu terputus sama sekali, membiarkan segala kemungkinan tetap terbuka. Tanpa putus asa, Saras tetap mengundang Bart untuk datang berkunjung.

Ketika akhirnya Bart mengatakan bahwa ia akan datang, Saras merasa ingin melompat-lompat dan memeluk semua orang, senyum tak lepas dari bibirnya selama berhari-hari. Antara geli dan bahagia, ia merasa bagai gadis remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.

Minggu ini sangat sibuk bagi Saras. Ia sudah mempersiapkan diri selengkapnya. Potong rambut dengan model baru, merapikan kamar yang akan diisi Bart, dan mengatur tanggal untuk makan malam bersama teman-temannya. Ketika Bart benar-benar muncul di bandara, berdiri di hadapannya dengan senyum polos, Saras tiba-tiba menyadari betapa ia sangat merindukannya. Saat Bart memeluknya, Saras tidak ingin melepasnya.

Tapi, Saras harus menelan kecewa, karena Bart lebih suka menjual pesona pada teman-temannya, daripada mencoba menjalin kasih mereka yang terpaut jarak. Setelah bertemu teman kantornya, Bart berkomentar, “Tania kelihatan seksi dengan bibirnya itu.” Saras tidak pernah mengajaknya bertemu Tania lagi.

“Saya rasa, Dara naksir saya.” Keterlaluan! Bahkan, Dara yang sedingin itu pun dikira suka padanya. Saras kesal, tapi ingin tertawa.

Dua bulan setelah itu, Bart mengiriminya e-mail dari Belanda, mengabarkan ia sudah punya kekasih, seorang gadis Prancis bernama Francoise. Meski Saras kesal dan sakit hati karena tingkah laku Bart, hatinya tetap merasa terluka. Saras tak bisa membunuh perasaannya, tak bisa memindahkan cintanya pada yang lain.

“Walau ia pria terakhir di dunia, aku tak akan memilihnya. Apa hebatnya ia, sampai dipikirnya semua wanita memburunya?” kata Dara, pedas. “Aku tidak mengerti, Saras, apa yang kamu sukai dari dia?”

Saras tidak bisa menjawab, karena ia sendiri memang tidak tahu. Saras malah bertekad untuk menyusul Bart. Apalagi, ketika adik bungsunya menikah. Ini kali kedua Saras dilangkahi adik lelakinya. Bagi keluarga Jawa, itu peristiwa yang sangat memalukan.


DARA
Dara keluar dari tempat kerjanya. Perusahaannya gulung tikar. Ia harus menerima pekerjaan di sebuah perusahaan ekspor dengan bayaran kecil. Tetapi, bos besar suka padanya. Usianya hampir 75 tahun. Dari tiga perkawinannya, ia tidak punya anak perempuan. Karena itu, bos besar sangat menyayanginya, sering memberi uang tambahan, malah dua kali lipat dari gaji resminya.

Dara menghormati bos besar, tak pernah terlintas dalam pikir­annya bahwa ia akan menjadi istrinya yang keempat. Pikiran itu membuat Dara bergidik. Dara percaya, kasih sayang bos besar padanya benar-benar kasih seorang ayah untuk anaknya. Tapi, kecemburuan dari istri bos besar dan pandangan iri dari teman-teman sekantor, membuatnya marah.

Dara menelepon ayahnya, menyampaikan maksudnya untuk berhenti. Ayahnya berkata, ”Kasihan bos besar, ia pasti kecewa. Kamu harus bertahan Dara. Orang yang sukses adalah orang yang berhasil mengatasi segala rintangan.” Dan, Dara harus bertahan, menelan perlakuan tak adil akibat kecemburuan yang menurutnya tak beralasan. Dara hampir putus asa.

Dara ingin berontak. Hidupnya dikuasai orang-orang yang tidak berhak, ia merasa sesak napas. Ini hidupnya, ia berhak menentukan jalannya sendiri. Mungkin, ia harus lebih tegas, lebih egois memikirkan kepentingan sendiri.
Inilah titik balik hidupnya. Bos besar menolak surat pengunduran dirinya. Ketika Dara tidak muncul di kantor, bos besar menyuruh sopir menjemputnya, tapi Dara menolak. Bos besar meneleponnya tiap hari, tapi Dara tak mau menerimanya. Ia mengepak semua barangnya di tempat kos, dan seminggu kemudian berangkat ke Jakarta.
Krisis belum berlalu, tapi roda ekonomi sudah mulai kembali bergerak. Dara berhasil masuk di perusahaan multinasional.


Penulis: Dela Tan



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?