Trending Topic
Hati-hati Ambisi!

7 Oct 2015


Sebuah studi yang dilakukan oleh unit kepemimpinan global di New York, Amerika Serikat (AS), McCann Truth Central, menyimpulkan bahwa sepertiga wanita di dunia berambisi ingin menjadi supermom. Ambisi tersebut terkait dengan upaya mereka mewujudkan kesempurnaan dalam segala aspek, baik untuk diri sendiri, suami, anak, keluarga, urusan rumah tangga, maupun pekerjaan.     
   
Atas nama mengejar kesempurnaan mengurus berbagai hal tersebut, tak mengherankan bila para ibu akhirnya merasa kewalahan, kelelahan, dan stres sendiri. Weekend, yang seharusnya bisa mereka manfaatkan untuk refreshing bersama keluarga pun tak berjalan optimal karena para ibu masih merasa bimbang: ingin menyenangkan diri sendiri, keluarga, atau mengurusi pekerjaan?

Banyak di antara ibu bekerja yang harus jungkir balik menjaga keseimbangan dalam membagi waktu antara rumah dan kantor, termasuk di akhir pekan. Hati kecil masih ingin menikmati me time ataupun waktu berduaan dengan pasangan, namun di sisi lain para ibu ini juga tidak mau mengabaikan urusan anak dan rumah yang sepertinya tidak ada habis-habisnya.    

Ambisi dan keinginan para wanita untuk menjadi ibu sempurna sebetulnya tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di negara yang beranjak menuju negara maju, seperti di India, Cina, juga di Meksiko. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh McCann Truth Central pada tahun 2012, sebanyak 25% wanita di India, 30% wanita di Meksiko, dan 35% wanita di Cina berambisi ingin menjadi supermom.  Di negara semaju Amerika Serikat masih ada 55% wanita yang berambisi jadi ibu sempurna.
   
Ambisi menjadi supermom ini, menurut survei tersebut, terkait dengan keinginan mencapai keberhasilan dalam semua aspek, baik sebagai ibu, istri, maupun individu. Para ibu ambisius ini bahkan tak menyadari bahwa pasti ada pengorbanan dan konsekuensi atas  tiap pilihan. Tak mengherankan, survei itu juga menemukan fakta bahwa sikap ambisius ingin menjadi supermom memicu stres ketika mereka merasa gagal mencapai waktu berkualitas, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun pasangan.
    
Perasaan nelangsa maupun kebimbangan membagi waktu antara diri sendiri dan keluarga seperti yang dirasakan para ibu ini bisa dimengerti oleh psikolog keluarga dan anak dari klinik terpadu Universita Indonesia, Anna Surti Ariani. Hal ini menurutnya salah satunya disebabkan oleh standar hidup yang terlalu tinggi. Maksudnya, sering kali para ibu berambisi mengejar kesempurnaan: bisa menyenangkan semua pihak, baik diri sendiri maupun keluarga.
   
“Kebanyakan, para ibu ingin jadi superwoman, termasuk dalam mewujudkan waktu berkualitas untuk diri sendiri maupun keluarga. Padahal, ambisi seperti itu malah bikin mereka jadi capek dan stres,” jelas psikolog yang biasa disapa Nina ini. Ia mengungkapkan, dalam mencapai waktu berkualitas, Anda perlu menetapkan standar sesuai kemampuan dan kenyataan.

Bila Anda memang hanya sanggup mewujudkan 50%, tak perlu berambisi bisa mencapai target sebesar 75%. “Maka dari itu, bertanyalah kepada diri sendiri. Mana yang lebih penting? Me time atau family time? Tetapkan rencana Anda dengan bijaksana agar bisa menjalani konsekuensi dengan legowo,” cetus Nina.
   
Sikap legowo terbilang penting dalam menjalankan peran sebagai ibu agar Anda tidak mudah nelangsa ataupun larut dalam penyesalan saat tak bisa mencapai target. “Syukurilah hal-hal baik yang telah Anda lakukan untuk keluarga. Namun, bila belum sanggup, jangan terlalu menyesalinya. Sikap seperti ini hanya akan menghabiskan energi,” tegasnya.

Rizka Azizah



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?