Celebrity
Gecul dan Cuk

16 Feb 2015


Lahir di Sukoharjo, Solo dari ayah seorang dalang (alm) Ki Sri Joko Raharjo dan ibu yang seorang penari tradisi, Sri Maryati, darah seni mengalir ke pembuluh nadi Endah Laras dan ketiga adiknya, Supanjang Raharjo, Sruti Respati dan Retno Musthi Sari. Gamelan, wayang dan tembang Jawa menjadi mainan mereka sehari-hari. Bersama-sama memainkan kesenian tradisi itulah yang menjadi acara keluarga setiap hari dan secara alami membagi peran yang berbeda sesuai bakat masing-masing. Supanjang, menguasai dalang dan kerawitan.  Sruti kini terkenal sebagai pesinden dan penyanyi, sedangkan sang bungsu Retno mahir memainkan gamelan selain menyanyi.

Justru karena menjadikan tari dan nyanyi sebagai kegiatan sehari-hari, semasa kecil Endah tidak menyadari bahwa talentanya itu istimewa dan kelak akanmenjadi jalan hidupnya. Seperti umumnya anak kecil pada masa itu, ia bercita-cita menjadi dokter. Sebuah kebetulan juga yang membawa Endah menapaki kariernya kini.

Ia mengenang, tahun 1995 selepas lulus SMA di Jakarta, Endah memutuskan untuk kembali ke Solo. Disewanya sebuah truk untuk mengangkut semua barangnya. Selesai packing yang melelahkan, dia segera mandi. Rutinitasnya saat mandi adalah menyanyi -satu kebiasaan yang dilakukannya hingga kini di kamar mandi mana pun dia berada. Seusai mandi, sopir yang juga pemilik truk yang rupanya mendengarkan nyanyian Endah, langsung mengajukan permintaan supaya Endah menyanyi pada acara pernikahan anaknya bulan depan.
   
“Emoh, aku dudu (tidak mau, saya bukan) penyanyi,” tolak Endah, “aku akan jagong wae (saya datang kondangan saja).”
“Kalau tidak mau, barang-barang ini tidak jadi kuangkut,” ancam sopir truk yang rupanya terlanjur terpesona pada suara Endah.
“Yo wes, tapi harus dijemput,” jawab Endah mengajukan syarat.  Sebenarnya dia tidak terlalu serius menanggapi undangan itu, kalaupun mengiyakan lebih karena merasa sungkan pada seorang yang lebih tua.

Tak disangka tepat pada harinya, seorang utusan benar-benar datang dengan mengendarai motor berjenis Honda Tiger 2000. Karena naik motor, Endah pun santai mengenakan celana jeans. Tampillah dia di panggung pesta menyanyikan lagu Jawa  “Yen Ing Tawang Ana Lintang” (Jika di Langit ada Bintang), sebuah lagu keroncong terkenal yang dinyanyikan penyanyi legendaris Waljinah. Suara merdunya langsung memukau hadirin, juga grup orkes keroncong pengiring yang langsung mengajaknya bergabung. Sedemikian mengesankannya tampilan perdana itu sehingga membuat Endah mendapat julukan “Endah Tiger 2000” sebagai penanda motor pengantarnya.

Sejak saat itu, dimulailah perjalanan kariernya sebagai penyanyi profesional, baik lagu keroncong, campursari atau sinden.  Album pertamanya muncul tahun 1996 bertajuk “Gemes” bekerjasama dengan Anjar Any, seniman keroncong senior. Sesudah itu album barunya muncul setiap tahun, bekerjasama dengan beragam pekerja seni lainnya. Baik sesama seniman keroncong, dalang, campursari, kelompok ketoprak maupun seniman teater dan musisi pop bahkan penari kontemporer.

Pembawaan Endah yang ramah membuatnya luwes berkolaborasi dengan siapa saja. Karya seninya seolah tanpa batas, tak hanya seniman tradisi, tapi dengan siapa pun dia mampu berkolaborasi. Namun ayahnya sempat tak setuju dengan pilihannya ini dan lebih menginginkannya untuk menekuni jalur tradisi murni.

“Ora sah sing-sing (tidak usah macam-macam), jadilah sinden yang tenanan (serius). Anak dan cucu dalang kok isone (bisanya) nyanyi Cucak Rowo,” kata ayahnya tegas.
Bukan hendak memberontak kehendak ayahnya bila Endah membuka dirinya pada beragam jenis musik. Ia merasa, kemampuannya menjuarai lomba lagu seriosa dan keroncong juga tim paduan suara, membekalinya semangat untuk mempelajari banyak hal. Perbedaan pendapat ini justru memicunya untuk membuktikan bahwa dia akan sanggup meng-uri-uri (melestarikan) seni tradisi pada wilayah yang tak terbatas. Endah tahu bahwa dia harus membangun karakter yang khas, yaitu kental pada tradisi sekaligus luwes berpadu dengan seni apa pun.

Saat bekerjasama dengan sineas Garin Nugroho untuk pementasan Opera Jawa: Tusuk Konde, Endah tak paham apa perannya di situ. Saat pendukung lain telah mendapatkan jatah peran, Garin hanya memintanya wara-wiri di panggung.  Ia pun melakukan hal itu: berjalan ke berbagai sudut panggung demi sebuah penafsiran dan menjadikannya sebagai laku meditatif.

Kemudian, muncullah inspirasi karakter bernama Limbuk, sebuah karakter kocak (gecul) yang akan mencairkan panggung.  Untuk membangun karakter ini Endah belajar pada Ibu Milko, seorang komedian tradisional senior. Ia pelajari dengan serius gerak dan ekspresi gecul yang khas. Meski mahir menari dan memenangkan berbagai lomba tari, Endah tetap merasa perlu belajar pada ahli lainnya untuk memahami sebuah karakter baru.
Garin juga memintanya untuk memainkan sendiri musik pengiringnya. Meneima tantangan itu, Endah memilih ukulele/cuk (gitar kecil) dan belajar memainkan cuk pada Sapto, seorang musisi keroncong. Tak disangka karakter gecul dan cuk itu memberikan karakter baru dan kemudian menjadi ciri khas Endah Laras. Di panggung, Endah meniupkan nyawa yang segar dengan ekspresi dan tingkahnya yang lucu dan spontan sekaligus kepiawaiannya memainkan ukulele setiap kali ia nembang.

Dengan karakter yang khas ini Endah selalu berhasil menciptakan suasana interaktif dengan para penontonnya. Ada banyak senggakan (improvisasi dalam bahasa universal) yang digunakannya untuk membuat penonton berperan serta. Misalnya seruan “yak e, yak e” seperti dalam lirik lagu Jangkrik Genggong. Seruan ini mudah ditirukan siapa saja, bahkan yang terkendala perbedaan bahasa atau pun anak-anak, sehingga setiap penonton bisa bernyanyi bersama Endah.

Begitu lekatnya Enah dengan gecul dan cuk, seniman Jepang Akiko Kitamura juga memberinya karakter gecul pada pementasan “To Belong” di Chino Culture Complex Nagano, Jepang. Dalam pentas internasional lainnya, cuk juga selalu bersamanya seperti di Tropen Museum di Amsterdam, Musee du Guai Branly di Paris dan saat berkolaborasi dalam album Field Recording dengan music director Yasuhiro Morinaga di Tokyo.
Saat tampil bersama Ayu Laksmi, Ariani Willems dan Dewi ‘Dee’ Lestari di Indonesia Booth, sebuah pentas khusus untuk menyambut Indonesia sebagai Guest of Honor pada Frankfurt Book Fair pada Oktober 2014 di Jerman. Endah juga tampil solo menyanyikan “Serat Joko Tingkir” dengan cuk-nya dan mendapatkan sambutan yang sangat meriah sehingga menyanyikan lagi beberapa lagu tambahan.(f)



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?