Laura Paais/Nulisbuku
Belakangan, puisi makin ‘mahal’. Terlibas oleh baris-baris status 140 karakter di media sosial. Tak ada yang sempat membaca puisi, ataupun tertarik menuliskannya. Namun, tidak demikian halnya dengan Laura. Ia jatuh cinta pada kata-kata dan terbius untuk selalu mengolahnya dan bermain-main dengannya. Yang menarik, puisi-puisi di dalam bukunya ini banyak berlatar belakang di tempat-tempat yang jauh; Schenzen, Berlin, Leiden, Aachen, Rajastan, dan lainnya. Seperti sebuah buku pengembaraan, ia mengabadikan setiap tempat lewat baris-baris puitis.(f)


