Fiction
Gadis Oriental [3]

19 May 2012

<< cerita sebelumnya

“Hmm… harum,” Vivian mencium kartu undangan pernikahan, yang baru selesai dicetak. ”Siapa yang pertama kali kita undang?”

“Yang pasti, aku akan mengundang Romeo terlebih dahulu. Soalnya, dia yang mempertemukan kita berdua,” jawab Sultan, menjawab kalem. “Tanpa dia, undangan ini nggak akan pernah ada.”

Vivian tertawa kecil. “Kasihan Romeo. Dia mirip anak kucing yang mengangsurkan ayam goreng miliknya ke moncong harimau.”

Sultan melirik curiga. “Maksudmu, dia menaruh hati padamu?”

Vivian tersadar bahwa ia telah salah bicara. “Aku hanya asal membuat perumpamaan saja, kok,” Vivian buru-buru membantah. “Jangan diambil hati, ya….”

“Kalau aku tahu dia naksir padamu, dia tidak akan kuberi kesempatan pergi denganmu. Kenapa baru bilang bahwa dia mendekati kamu? Apa kamu berencana menggaetnya jadi kekasih kedua?”

“Siapa bilang dia berusaha mendekati aku? Aku cuma membuat perumpamaan saja, kok. Memang, dia menaruh hati padaku. Tapi, sejak aku menjalin hubungan denganmu, dia tidak pernah coba-coba main gila denganku,” Vivian berbohong, takut Sultan marah. Ia lalu mengubah sikap duduknya, sambil mendaratkan ciuman-ciuman kecil di wajah Sultan.

Hati Sultan luluh. “Sudah, dong. Bahaya, nih!”

Tapi, Vivian malah menggelitik leher Sultan dengan ujung jarinya. Sultan kaget, bercampur geli. Mobil yang dibawanya melenceng dari jalur. Dari tikungan curam di depan mereka, muncul sebuah bus antarkota berukuran besar dengan kecepatan tinggi.

Refleks, Sultan membuang setirnya ke kiri, hingga mengeluarkan suara decit di aspal. Dan… braaak! Lolos dari bus, moncong mobil Sultan tak mampu menghindari pohon besar. Mobil itu rusak parah di bagian kanan. Sultan pingsan dengan dada menekan kemudi. Vivian, yang tak sempat menjerit, tak sadarkan diri.

“Apa? Sultan akan lumpuh?” Nyonya Fatimah terpekik dengan wajah pucat. Devina dan Mirah berpegangan tangan.

“Tidak, Sultan tidak akan lumpuh,” Dokter Harun menggeleng, sambil tersenyum. “Dia hanya harus menggunakan kursi roda, karena kakinya terjepit. Tapi, tidak akan permanen. Dengan terapi, dalam waktu singkat, Sultan sudah akan berjalan seperti biasa.”

Semua menarik napas lega. Diam-diam, Devina melirik tubuh Sultan yang terbaring di atas tempat tidur. Wajah pemuda itu tampak tampan, jika matanya terpejam seperti itu. Penuh kasih sayang, digenggamnya jemari Sultan.
Devina memejamkan mata. Getaran kasih sayang yang mengisi relung hatinya seolah disalurkan melalui genggaman tangannya pada jemari Sultan. Setelah beberapa menit, Devina membuka mata, mengamati wajah Sultan. Sepasang mata Sultan terpejam tak berdaya. Namun, garis keras di wajah itu masih memperlihatkan kecerdasan dan keteguhan tekad si empunya wajah.

Perlahan, dilepaskannya jemari Sultan. Dengan ujung jemarinya, ia membelai kulit lengan Sultan dari bahu hingga ke pergelangan tangan, lembut. Kulit pria itu halus, tapi berkesan jantan, karena ditumbuhi rambut halus. Dada Devina bergetar saat membayangkan dirinya dalam rengkuhan tangan itu.

Tapi, kemudian ia mendesah, kecewa. Ia sadar, impiannya itu tidak mungkin jadi kenyataan. Dalam waktu beberapa minggu, Sultan akan bersanding dengan wanita lain.

“Dev,” suara Mirah mengejutkan Devina. “Sebaiknya, kita keluar saja, cari angin. Biar Mami yang jaga Sultan di sini.”

Devina ragu sejenak. Matanya melirik Sultan yang terbaring diam.

“Kamu nggak usah khawatir. Sultan akan baik-baik saja.”

“Mirah benar, Devina. Kamu berada di sini sejak semalam. Lebih baik kamu pulang untuk istirahat. Sore nanti baru kembali lagi,” kata Nyonya Fatimah, sambil menepuk bahu Devina dengan lembut.

“Baiklah, Tante. Saya mungkin pulang untuk mandi dan mengisi perut saja,” kata Devina, tersenyum tipis. Ia mengikuti langkah Mirah yang keluar dari kamar rawat Sultan setelah berpamitan dengan Nyonya Fatimah. Dalam diam, mereka berjalan beriringan. Keduanya menunduk, menekuni kotak-kotak ubin di bangsal rumah sakit, sambil sesekali menghela napas panjang.

Mirah mendesis. “Sultan kecelakaan pasti karena dia. Sultan sa­ngat disiplin. Saat menyetir, ia pasti berhati-hati. Tidak mungkin ia mengalami kecelakaan begitu saja. Pasti ini karena ulahnya.”

“Bisa saja ada faktor lain yang membuat Sultan lengah.”

Mirah menggeleng, sambil menghela napas panjang. Tak mau percaya pada teori yang dikemukakan Devina. Ia tetap ngotot.

“Jangan menuduh sembarangan, Mir.”

“Kamu ini memang aneh. Kenapa kau membelanya?”

“Tidak adil rasanya kita menuduh orang secara sepihak.”

Mendadak, Mirah menyenggol lengan Devina, menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba, memonyongkan mulutnya, menunjuk ke depan koridor yang mereka lalui. “Lihat, tuh!”

Dari arah yang ditunjuk Mirah, Vivian dan Romeo berjalan mendatangi. Di tangan Vivian ada seikat mawar merah cantik.

“Sayang sekali, dia cuma memar.” Tiba-tiba Mirah menangis.

Vivian dan Romeo yang sudah tiba di hadapan mereka, berhenti dan menatap Mirah dengan heran. “Selamat siang,” Romeo menyapa dengan senyumnya yang khas. “Kenapa, Mir? Apa… Sultan baik-baik saja?”

“Baik-baik apanya?” Mirah menyentak. Air matanya merebak. Devina heran, bagaimana Mirah yang tadinya bersikap biasa-biasa saja, tiba-tiba menangis sedih seperti itu.

“Dia lumpuh seumur hidup!” suara Mirah menyentak.

Vivian dan Romeo kaget. Devina juga.

“Tapi…,” Devina hendak membantah, tapi Mirah menginjak kaki gadis itu dengan cepat. Hampir saja Devina menjerit,.

“Untung kamu datang,” Mirah menggenggam tangan Vivian. Tapi, dengan cepat Vivian menarik tangannya kembali. “Sultan seharian menanyakanmu. Sultan ingin bertanya padamu, apakah kamu masih tetap mau menikah dengannya setelah ia lumpuh?”

Wajah Vivian yang agak pucat, bertambah pucat. Ia kelihatan gugup dan terkejut. Tapi kemudian, dengan galak ia membantah ucapan Mirah. “Omong kosong!” katanya, ketus. “Semalam Sultan baik-baik saja. Bagaimana mungkin ia bisa mendadak lumpuh?”

“Kamu boleh melihatnya, kalau tidak percaya,” Mirah menarik tangan Vivian. “Ayo, dia sudah menunggumu di atas kursi roda.”

Vivian menepiskan tangan Mirah, melangkah mundur. “Dulu kamu terang-terangan menentang aku. Sekarang, setelah Sultan lumpuh, kamu malah menjodohkan aku dengannya.”

“Sultan hanya mencintaimu, Vi. Tolonglah… dia membutuhkan kehadiranmu…,” Mirah memohon dengan wajah memelas.

Sejenak Vivian berdiri bimbang. Entah apa yang ada di pikirannya. Tapi, ia tampak ragu memenuhi ajakan Mirah. Mendadak, ia membalikkan tubuh. Kaki jenjangnya melangkah terburu-buru. Bunga di tangannya dilempar ke tempat sampah di sisi bangsal. .

“Nah, kamu lihat sendiri, ‘kan…,” kata Mirah, dengan senyum kemenangan. “Dia bukan gadis yang tepat untuk Sultan.”

Ketika tiba di rumahnya, Vivian segera keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Panggilan Romeo sama sekali tidak digubris olehnya. Tapi, dengan langkah kaki yang panjang, Romeo berhasil menangkap Vivian.

“Pulanglah, Rom!” Vivian melepaskan tangan Romeo. “Aku butuh waktu untuk menyendiri.”

Romeo menggeleng. “Aku akan di sini menemanimu. Aku bisa jadi teman bicaramu. Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini.”

“Kamu tahu?” Vivian mengangkat alis. “Kamu tidak memiliki kekasih yang mendadak lumpuh, bagaimana mungkin kamu bisa tahu perasaanku? Sudahlah, kamu jangan macam-macam. Aku sedang tidak ingin berdebat!”

“Aku bukan mau berdebat, Vi. Malah, aku menyediakan diriku untuk menjadi tempat berkeluh kesah bagimu.”

“Aku tidak perlu tempat untuk berkeluh kesah!”

Romeo meraih tubuh Vivian. Ia memegang kedua bahu gadis itu, hingga mereka berdua berdiri berhadapan dan saling tatap.

“Pandang aku, Vi,” Romeo berkata lembut. “Perhatikan diriku baik-baik.” Sejenak Romeo merasa bergetar. Dalam keadaan terguncang pun, Vivian terlihat cantik. Semua yang ada pada diri gadis itu membuat jantung Romeo melonjak-lonjak tak keruan.

“Aku ini teman baikmu,” kata Romeo, setengah berbisik. “Apa pun yang kamu rasakan, aku turut merasakannya. Jangan kamu sembunyikan kesedihanmu. Aku tahu kamu kecewa. Tapi, izinkan aku menghiburmu. Izinkan aku menjadi curahan hatimu.”

Vivian mendesah. Mata indahnya mengerjap lesu. Kebimbangan dan kesedihan yang menggayuti hatinya terlukis jelas di wajahnya. Beberapa detik lamanya, ia tak sanggup berkata apa-apa. Tapi, kemudian, ia menjatuhkan kepalanya ke dada Romeo. Tangisnya pecah seketika. Dadanya turun-naik karena sesak. Beberapa tetes air matanya membasahi baju Romeo.

“Aku tidak mengerti, kenapa Sultan harus lumpuh?”

Romeo membelai punggung Vivian untuk memberikan kekuat­an. “Tidak ada yang menduga akan terjadinya bencana ini.”

“Tapi… aku tidak mungkin memiliki suami berkaki lumpuh. Tidak mungkin, Romeo…,” keluh Vivian.

Seulas senyum tipis mengembang di bibir Romeo. Senyum yang tidak mungkin dapat dilihat oleh Vivian. Inilah yang diharapkan Romeo sejak dulu. Ini kesempatannya merebut cinta Vivian! Tapi, tentu saja, kegembiraan ini tidak diperlihatkan pada gadis yang tengah menangis di bahunya.

“Kenapa kamu berkata seperti itu?” kata Romeo, berpura-pura lembut. “Bukankah kamu mencintai Sultan?”

“Ya, tapi bukan berarti aku mau menikah dengan orang lumpuh!” sentak Vivian, kesal. Gadis itu melepaskan dirinya dari pelukan Romeo. “Sudahlah, lebih baik kamu pulang saja, Rom. Kamu tidak akan mengerti perasaanku!”

“Siapa bilang aku tidak mengerti? Kamu ingin membatalkan pernikahanmu dengannya. Iya, ’kan?”

“Bukan begitu, aku cuma…,” Vivian menggantung kalimatnya. Ia mendesah beberapa kali dengan wajah bimbang.
“Kenapa bingung? Kalau tidak mau menikah dengannya, katakan saja dengan jujur. Toh, tidak ada yang berhak memaksamu.”

Vivian menatap wajah Romeo. Ia lalu tercenung. Rasanya, sulit membayangkan ada pria lain yang lebih baik daripada Sultan. Vivian tidak dapat melupakan, betapa lembutnya Sultan memperlakukan dirinya. Betapa indah masa-masa bahagianya. Tapi, sekarang Sultan lumpuh. Vivian tidak dapat membayangkan dirinya bersanding di pelaminan bersama pria lumpuh. Ia bergidik, membayangkan harus mendorong kursi roda seumur hidup.



Penulis: Itong Rahmat Hariadi



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?