Melihat foto seorang freediver sedang berenang bersisian dengan hiu paus atau penyu tentu menimbulkan niat untuk melakukan hal serupa. Eitss, jangan sembarangan. Menurut Jason Hakim, instruktur freediving berlisensi AIDA (Association Internationale pour le Développement de l'Apnée), perlu persiapan khusus untuk melakukan pose-pose indah di kedalaman air, apalagi laut. “Risiko yang dapat terjadi saat seseorang belum siap bahkan belum mengetahui cara melakukan freediving dengan cara yang aman dan benar adalah black out atau kehilangan kesadaran yang bisa berakhir pada kematian,” ujarnya. Untuk menghasilkan foto dalam air yang indah, selain kelenturan tubuh, kita harus bisa berada di dalam air untuk beberapa detik. Karena manusia tidak berinsang, maka saat berada di dalam air kita harus menahan napas. Itulah gunanya mempelajari teknik-teknik lalu berlatih freediving. Perlu waktu dan kesabaran yang tinggi untuk nyaman berada di dalam air.
“Lamanya latihan yang diperlukan agar seseorang bisa ber-freediving adalah 3 kali pertemuan. Dimulai dari pembahasan teori dan praktik kolam untuk latihan menahan napas (STATIC) serta teknik duckdive maupun finning di bawah air. Berlanjut ke sesi open water selama 2 hari di laut. Umumnya, setelah 3 kali pertemuan di tingkat basic freediving (AIDA2) tersebut mereka sudah dapat melakukan freediving sampai kedalaman 10 - 15 meter serta menahan napas mereka selama 2 menit lebih,” jelas pelatih LetsFreedive di Senayan ini.
Yang perlu diperhatikan adalah mengetahui batas diri masing-masing dan jangan pernah takabur. Pasalnya, jika dipelajari secara benar, hanya butuh waktu 15 menit sampai seseorang bisa menahan napas di bawah air hingga dua menit. Kondisi tersebut dapat memicu seseorang menjadi sedikit merasa berlebihan atau merasa mampu. Hal inilah yang menurut Jason bisa membuat celaka.
Karena itu, pengendalian diri sangat dibutuhkan dalam mempelajari freediving, terutama dalam mengendalikan emosi dan ego diri sendiri. Itu sebabnya, freediver pemula harus dibimbing dan diperhatikan agar mereka dapat mengendalikan diri serta memahami batasan diri mereka masing-masing.
Ia juga mengingatkan agar kita tak belajar freediving dari membaca artikel di internet atau melihat Youtube saja. “Video freediving di Youtube kebanyakan dilakukan oleh professional freediver dan yang sudah memiliki tingkat tinggi dalam freediving. Sangat berbahaya jika ditiru oleh pemula yang biasanya bersifat tidak sabaran dan mau yang instan saja, tanpa berpikir panjang akan keselamatan diri mereka sendiri,” sarannya.
Ketimbang hanya ingin mendapat like banyak di media sosial, Jason mengemukakan manfaat dari freediving, seperti meningkatnya kapasitas volume paru-paru, memperlancar peredaran darah, dan meningkatkan kekuatan fisik sekaligus mental. “Banyak juga murid saya yang awalnya perokok berat sekarang total berhenti merokok semenjak rajin latihan freediving,” ujarnya. (f)


