Seiring kemajuan peradaban, budaya berpakaian ikut berevolusi. Pakaian tak lagi sebatas pelindung tubuh, lebih dari itu menjadi penanda status sosial seseorang.
Tak hanya fungsinya yang berubah, proses pembuatan pakaian pun menjadi sebuah industri yang kian kompleks. Tuntutan orang pada model pakaian terbaru di pasaran membuat industri pakaian berkembang menjadi besar dan sangat massal.
Tren fashion pun berubah dengan cepat. Membuat orang tidak ingin ketinggalan dan mencari pakaian model terbaru mengikuti tren yang ada. Hingga muncul konsep ready to wear yang mengimplementasikan tren desainer internasional dalam bentuk pakaian dengan harga yang lebih terjangkau serta jumlah yang banyak. Fast fashion clothing pun kemudian menjadi fenomena global. Ini adalah istilah untuk tren fashion yang berganti dengan cepat, di mana fashion terbaru yang ditampilkan dalam fashion week di beberapa kota mode dunia diproduksi secara massal dalam produk fashion siap pakai.
Coba perhatikan baik-baik pakaian yang Anda kenakan. Sebelum benar-benar menjadi benda yang nyaman melindungi tubuh dan memperindah penampilan, pakaian itu hanyalah sehelai kain. Berkat keterampilan seseorang, kain tersebut dipotong-potong menjadi beberapa bagian yang lalu dijahit dengan benang.
Bayangkan proses panjang yang telah berlangsung secara bertahap untuk menjadi sehelai pakaian. Rantai proses produksi tersebut dimulai dari bahan baku tekstil yang bisa berasal dari binatang (wol, sutra), tumbuhan (cotton), mineral (fiber glass), atau sintetis (nylon, polyester). Bahkan, sebelum menjadi kain, ada proses panjang yang harus dilakukan. Belum lagi jika di pakaian yang Anda kenakan ada ornamen berupa kancing, retsleting, atau yang lainnya, berarti ada proses produksi lain yang juga ditempuh.
Makin banyak baju yang diproduksi secara massal berarti makin banyak bahan wol, sutra, katun, nylon hingga retsleting dan kancing baju yang harus dibuat. Bisa dibayangkan, berapa banyak sumber daya alam sekaligus tenaga kerja untuk menghasilkan semua itu. Di sisi lain, rantai produksi yang begitu panjang tentunya membutuhkan biaya dan waktu produksi yang tak sedikit.
Padahal, masyarakat kini menginginkan pakaian siap pakai dengan model terbaru dan harga terjangkau. Harus diakui, ketika melihat pakaian yang terpajang di etalase sebuah toko retail besar dengan model terbaru, orang akan langsung tertarik untuk membelinya. Belum lagi jika pakaian itu punya discount up to 70%, bisa dipastikan makin banyak orang yang tak tahan untuk belanja.
Daya beli terhadap pakaian yang kian meningkat ini ‘disambut’ oleh keinginan produsen untuk membuat target produksi yang banyak dengan harga tetap minimal. Tak hanya itu, produksi pun harus berlangsung cepat, mengingat pakaian yang dijual di pasaran haruslah yang up to date, mengikuti pergerakan tren fashion yang berjalan cepat.
Salah satu cara yang dilakukan oleh brand internasional untuk menghasilkan pakaian dalam jumlah banyak dengan waktu produksi yang cepat dan harga terjangkau adalah dengan pola kemitraan perdagangan. Dalam hal ini, sebuah brand akan memproduksi barangnya lewat berbagai pabrik outsourcing yang ada di berbagai negara.
Tak heran jika kemudian banyak brand internasional yang kemudian melempar produknya untuk dikerjakan oleh pabrik-pabrik di negara berkembang. Alasannya, selain upah buruh di negara-negara ini relatif murah, jumlah tenaga kerja yang tersedia juga banyak dan memadai. Meski awalnya ide ini memberi angin segar bagi perkembangan industri baru yang mampu menyerap tenaga kerja, pada perkembangannya tak dipungkiri timbul beragam masalah. Tenaga kerja menjadi persoalan yang tak kunjung usai di pabrik-pabrik garmen tersebut.Faunda Liswijayati


