Trending Topic
Era Serba Instan

30 Apr 2014

 
Berjalan di lorong supermarket, serbuan beragam produk instan kemasan rasanya sulit untuk dihindari. Mulai dari mi, bubur, makanan kaleng, bumbu masakan, dan aneka minuman. Coba saja perhatikan, berapa banyak makanan atau minuman kemasan yang masuk dalam keranjang belanja bulanan Anda.

Namanya makanan instan, dicari karena kepraktisannya. Tapi, lama-kelamaan, karena terbiasa, kita juga mencandui rasanya. Dan, tanpa sadar menjadikannya sebagai menu utama sehari-hari. Pertanyaannya, apakah makanan instan dapat memenuhi asupan gizi yang dibutuhkan tubuh?

Di Indonesia, produk instan tinggi peminatnya. Hal ini menyebabkan pasar Indonesia juga dilirik oleh banyak produsen internasional. Lihat saja, di pasaran kini kita bisa dengan mudah menemukan produk dari Korea dan Jepang.

Studi yang dilakukan oleh Kantar Worldpanel Indonesia menemukan bahwa penggemar makanan beku, kalengan, dan awetan di Indonesia angkanya terus meningkat. Tahun 2013, tercatat jumlah pembelian bahan makanan beku seperti sosis, nugget, dan kornet, naik mencapai 63% dari total rumah tangga urban di Indonesia.

Angka ini naik 8 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam satu tahun, makanan beku dibeli rata-rata 11 kali, yang berarti hampir  tiap bulan,  tiap rumah tangga membeli makanan beku.

Bahkan, dibandingkan makanan beku, makanan kalengan dan awetan mengalami kenaikan yang cukup signifikan, mencapai 68% dari total rumah tangga urban di Indonesia. Terutama di kalangan rumah tangga muda tanpa anak, jenis makanan instan ini sangat digemari.

Sedangkan pada rumah tangga yang lebih dewasa, kecenderungan untuk membeli makanan instan kaleng dan awetan lebih kecil. Hal ini bisa disebabkan oleh kecenderungan rumah tangga pasangan muda lebih menyukai sesuatu yang cepat, sedangkan perhatian rumah tangga yang lebih dewasa terhadap kesehatan jauh lebih tinggi.  

Menurut Budi Djanu Purwanto, S.H., M.H., Kepala Biro Hukum dan Humas BPOM, yang disebut dengan makanan instan adalah makanan yang cepat larut untuk dikonsumsi setelah melalui proses pemasakan dengan waktu singkat.

Hal ini karena sebelumnya bahan pangan tersebut sudah mengalami proses pre-cook (pemasakan awal), seperti bubur dan mi instan; ukuran partikel yang dibuat lebih kecil, misalnya terbuat dari tepung gula yang lebih mudah larut; dibantu dengan bahan tambahan pangan tertentu yang membantu proses pelarutan massa padat (makanan instan) dan massa cair (air atau susu, atau cairan lainnya). (f) 



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?