Dikembangkan di Jerman, Electric Muscle Stimulator (EMS) awalnya digunakan sebagai alat terapi untuk mengatasi nyeri punggung, menyembuhkan nyeri sendi, dan pemulihan setelah stroke. Seiring waktu, alat ini kemudian berkembang menjadi alat kecantikan untuk menguruskan badan. Hingga empat tahun lalu, pusat-pusat kebugaran di Jerman menggunakannya sebagai alat olahraga. Bahkan, pemain sepak bola Bayern Munich Football Club juga menggunakannya dalam latihan fitness rutin mereka.
Memanfaatkan daya dari aliran listrik yang terpasang dari alat ke vest, upper arms bands, dan upper thigh bands, EMS memberi beban pada tubuh ketika melakukan gerakan olahraga. Gerakan yang dilakukan sendiri bermacam-macam, mulai dari gerakan stretching, weight training (tanpa barbell, dumbbell, bench press, atau alat weight training lainnya), squat, push up dan sit up, hingga muay thai.
Jadi, meski Anda melakukan gerakan melatih biceps tanpa dumbbell, Anda akan merasa seolah-olah melakukannya menggunakan dumbbell seberat 6 kg. Biasanya, untuk pemula, trainer di gym akan meminta kita untuk menggunakan beban seberat 2,5 kg saja. Tapi entah bagaimana, Anda akan mampu melakukannya.
Ternyata, aliran listrik tersebut memang memberi sinyal kepada otak untuk memerintahkan tubuh memberikan tenaga yang lebih besar. “Tak perlu khawatir akan kewalahan. Beban latihan EMS bisa diatur sesuai dengan fitness level tiap orang. Karena itu, latihan dengan EMS harus selalu didampingi certified trainer,” papar Bams, distributor dan pengguna alat ini. Ia sendiri sudah berolahraga dengan EMS sejak tahun lalu.
Tubuh juga memiliki kekuatan yang lebih besar karena aliran listrik dari EMS mampu mencapai hingga lapisan otot ketujuh dan menggerakkan 38.250 titik otot. Ibaratnya, jika selama ini otot Anda yang bekerja hanya 10%-20%, alat ini akan mendorong 100% otot Anda untuk bekerja.
Karena makin banyak otot yang dilatih, makin banyak juga massa otot yang akan dibentuk, otomatis pembakaran lemaknya pun akan makin tinggi. Karena itulah, 20 menit berolahraga menggunakan EMS sama efektifnya dengan berolahraga selama 1,5 hingga 2 jam di gym konvensional.
Setelah berlatih dengan EMS, bisa dipastikan keesokan harinya Anda akan merasa otot-otot tubuh Anda nyeri. Tak perlu khawatir, itu adalah reaksi normal atas latihan yang Anda lakukan. Tandanya, otot Anda sedang bekerja memperbaiki dirinya dan meningkatkan massanya. Dengan begitu, pembakaran lemak pun masih terus berlangsung hingga dua hari setelah latihan.
“Karena itu, sebaiknya olahraga dengan EMS tidak dilakukan dua hari berturut-turut. Setidaknya berilah selang waktu sehari atau dua hari. Otot Anda perlu waktu untuk memulihkan diri terlebih dahulu,” ujar Bams. Ia juga melarang olahraga ini dilakukan lebih dari tiga kali seminggu untuk menghindari cedera otot. Karena, dalam sekali latihan saja, otot sudah didorong untuk bekerja semaksimal mungkin.
Jika Anda sudah berolahraga dengan EMS, tapi masih ingin melakukan olahraga lainnya, sebaiknya jangan memilih weight training untuk menghindari otot Anda over trained. Pilihlah jenis olahraga yang melatih faktor kesehatan tubuh lainnya, seperti yoga atau pilates untuk melatih fleksibilitas tubuh, atau aerobik dan renang untuk melatih pernapasan dan meningkatkan kebugaran.
EKA JANUWATI


