Trending Topic
Eksklusivitas Baru?

14 Jan 2014


Sebenarnya pesta pernikahan yang terbatas ini bukanlah sesuatu yang baru. Menurut Ida Ruwaida dari Universitas Indonesia, pada masyarakat komunitas Cina misalnya, pernikahan semacam ini adalah hal yang biasa. Dilihat dari segi sejarahnya, Cina sebagai kelompok yang memiliki ruang gerak terbatas membuat mereka cenderung mengundang orang tertentu, dengan marga tertentu juga. “Namun, ketika para selebritas dan public figure di Indonesia mulai mengadakan pesta yang lebih intim, barulah konsep ini kemudian seakan-akan lebih penting. Istilah private wedding seolah-olah jadi eksklusif, sebuah kemasan yang baru,” tambah Ida.

Isu lain yang muncul untuk penyelenggaraan pesta pernikahan yang terbatas adalah munculnya eksklusivitas baru. Dulu,  menikah di hotel berbintang atau function hall tertentu dengan jumlah undangan yang sangat banyak, pernikahan semacam itulah yang disebut sebagai pesta eksklusif. Pandangan tersebut kini bergeser. “Justru pernikahan dengan undangan terbatas yang disebut eksklusif dan berbeda. Karena keunikan inilah yang membuat pesta pernikahan ini menjadi penting dan menjadi perhatian masyarakat,” tambah Ida. 

Jika Anda menganggap bahwa dengan mengadakan pesta terbatas, dengan tamu yang datang kurang dari 400 orang, maka biayanya akan lebih murah, pikirkan lagi. Pada pesta pernikahan yang bersifat pribadi ini, uniknya, biaya bukanlah hal yang terlalu penting. Pada dasarnya, para pengantin ini memiliki peluang untuk mengadakan pesta pernikahan secara besar-besaran karena memiliki dana yang cukup. Tetapi, mereka memilih sebaliknya: mengundang tamu dalam jumlah terbatas.

Tengoklah sejumlah lokasi favorit sebagai tempat pesta pernikahan privat ini: masih di hotel berbintang, di pulau pribadi, atau di  luar kota dan luar negeri. “Bali masih menjadi venue favorit di luar Jakarta. Dengan suasana yang berbeda, akan menciptakaan mood yang berbeda pula. Anak muda sekarang sangat suka dengan konsep natural yang dituangkan pada pesta outdoor, dan Bali menunjang untuk kebutuhan tersebut,” papar Tiara Josodirdjo dari Tiara Josodirdjo & Associates.

Selain itu, dekorasi, pilihan menu makanan  hingga suvenir juga tidak kalah mewah dibandingkan pernikahan besar pada umumnya. “Tema untuk private/smaller party  biasanya lebih detail dan semua harus terlihat bagus. Berbeda dengan pesta yang lebih besar, detail kecil tidak akan terlalu terlihat,” ujar Tiara.

Untuk urusan pernak-pernik pada pesta yang tergolong kecil ini ternyata membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Diakui oleh Ria Indra dari Artea Wedding Organizer, rata-rata klien yang datang padanya untuk mengadakan private wedding party memiliki bujet besar.

“Beberapa klien yang saya tangani mengadakan pesta pernikahan di luar kota dan hotel berbintang lima. Makin sedikit undangan yang datang, biasanya suvenirnya  makin bagus. Misalnya, kain batik tulis, atau suvenir lain yang harganya tidak kurang dari Rp100.000. Dan biasanya, karena teman pengantin juga banyak, pesta yang eksklusif itu tidak diadakan hanya satu kali, tetapi dua kali. Misalnya, di Bali dan Jakarta, atau di Pulau Seribu dan Jakarta,” paparnya.
 
Walaupun sudah makin banyak pasangan muda yang tertarik menikah dengan konsep ini, private wedding party sepertinya belum menjadi tren pesta pernikahan di tahun mendatang. Menurut Tiara, saat ini permintaan untuk mengadakan pesta pernikahan dengan  1.000-1.500 undangan kembali marak. “Sampai sekarang masih banyak klien yang menginginkan pesta besar, dengan jumlah undangan lebih dari 300,” tambah Ria.



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?