Pertama kali mengeluarkan album rohani pada Natal 2002, Edward langsung mencetak ratusan ribu kopi album di pasaran. Padahal, jika diperhatikan segmentasi pasar yang disasarnya bukanlah target komersial. “Kebanyakan orang menganggap bahwa lagu rohani Mandarin itu lagunya orang tua, sehingga jarang anak muda mau terjun ke bidang ini,” ujar penyanyi yang pertama kali berkarier di usia 24 tahun ini.
Tapi, siapa sangka, melirik segmen berbeda justru mengangkat nama Edward Chen sebagai penyanyi rohani berbahasa Mandarin dari Indonesia. Padahal, ia memulai semua itu setelah mengalami musibah saat bermain sepak bola, yang menyebabkan tulang kering di kakinya lepas. Kondisi ekonomi keluarga yang serba pas-pasan memaksa Edward untuk bertahan dengan pengobatan tradisional. Hingga akhirnya, seorang kerabat membantu biaya pengobatannya di Surabaya.
Proses pemulihan selama 1 tahun menjadi momen baginya untuk menyadari kebesaran Tuhan. Kala itu, gitar dan pensil menjadi temannya untuk mencurahkan isi hati lewat lagu-lagu yang ia ciptakan. “Dari peristiwa tersebut saya belajar lebih dalam mengenal Tuhan dan saya sadar akan kebaikan-Nya menyelamatkan hidup saya,” kenang Edward.
Peristiwa yang menguji keimanannya ini pun menginspirasinya untuk melayani Tuhan melalui nyanyian. Baginya, menjadi seorang penyanyi rohani adalah hal yang serius. Ia pun bergabung dengan grup rohani D’Gift dan mulai membuat lagu sendiri.
Ia mulai gigih menawarkan lagu ke label rekaman, walaupun hanya mendapatkan penolakan. Hingga akhirnya bersama teman-temannya ia memproduksi album indie. Ternyata, lagu ciptaannya menyentuh hati Jeffry S. Tjandra, seorang penyanyi rohani senior. Ia pun mengajak Edward untuk membuat album solo. “Saya nothing to lose, karena saya tahu segmen pasarnya terlalu sempit. Lagu rohani yang dinyanyikan dengan bahasa Mandarin, siapa yang mau dengar?” kenangnya.
Benar saja, meski sudah ada yang mendanai pembuatan albumnya, ia tetap menghadapi penolakan dari beberapa label rekaman. Penolakan yang datang justru kian meneguhkan hati Edward. Baginya, tetap berada di jalurnya adalah pilihan yang tak bisa diganggu gugat. “Karena Tuhan memercayakan saya untuk memilih jalur tersebut, jadi saya pikir saya hanya akan berkarier pada apa yang Tuhan percayakan kepada saya, yaitu menyanyikan lagu Mandarin,” katanya.
Keteguhan hatinya terjawab, ketika album solo pertamanya yang bertajuk Desire keluar. Tanpa promosi dan hanya menitipkan album tersebut ke toko-toko musik, penjualannya terbilang sukses di pasaran. Ratusan ribu kopi album terjual. “Saya dan perusahaan rekaman sama-sama terkejut dengan hasilnya. Ini benar-benar istimewa,” papar Edward, bangga.
Perlahan tapi pasti namanya kian dikenal, bahkan hingga ke luar negeri. Ia beberapa kali diundang untuk melakukan pelayanan di gereja-gereja di Singapura, Malaysia, Hong Kong, Taiwan, Eropa, Amerika Serikat, Australia, hingga Kanada. Baru-baru ini ia juga melakukan pelayanan di Cina, atas undangan gereja lokal.
“Cina adalah salah satu negara yang sulit untuk ditembus. Tapi, berkat kuasa Tuhan untuk memberikan berkat pada masyarakat di sana, saya menjadi satu-satunya penyanyi yang diundang ke sana,” tutur penyanyi yang menerima penghargaan Best Male Indonesian Gospel Singer 2008 ini.
Tahun 2012, ia melakukan rekaman album internasional pertamanya berjudul Lean On You, di Taiwan. “Saya bersyukur dengan talenta yang diberikan ini lagu-lagu tersebut bisa memberkati orang-orang di negara yang berbasis bahasa Mandarin,” ujar Edward, yang
sempat pula mengeluarkan album lagu pop berbahasa Mandarin.
Meski memiliki album pop, Edward mengaku tak berambisi untuk mempromosikan dirinya di jalur tersebut. Ia justru lebih nyaman menjadi penyanyi rohani, meski untuk merepresentasikan tiap lagu yang ia nyanyikan untuk Tuhan bukanlah hal yang gampang.
Hampir 12 tahun berkarier dan menelurkan 24 album rohani, Edward merasa bahwa kasih Tuhanlah yang membuatnya berada di posisi ini. Dukungan dari istrinya, Agnes Prawoto, juga menjadi kekuatan untuk terus melayani Tuhan melalui talenta yang dimilikinya. Bahkan, ia pun memberikan dorongan kepada sang istri untuk melakukan hal serupa, dengan membuat album duet bersama berjudul Cinta dalam Hidupku. (f)


