Travel
Dublin, P.S. I Love You!

20 Jun 2011

Gambaran tentang Eropa dari foto-foto yang pernah saya, Aulia Halimatussadiah, lihat, rasanya tidak ada yang jelek. Salah satu negara Eropa yang saya taksir adalah Irlandia, yang terkenal karena keelokan alamnya. Terus terang, selama ini, saya tidak tahu banyak tentang Irlandia. Yang saya tahu, grup boyband favorit saya dulu, Boyzone, berasal dari sini.

Hujan Tanpa Payung
Angin kencang yang luar biasa dingin langsung menyerang, begitu kami menjejakkan kaki di Dublin. Rasanya seperti masuk ke freezer! Cuaca di Dublin berubah setiap jam. Apa pun musimnya, yang pasti, hujan selalu turun di Irlandia. Tak heran, orang-orang Irlandia sudah tidak terlalu peduli dengan hujan dan tak tergantung pada payung, saking seringnya turun hujan. Jika hujan turun, mereka akan berjalan cepat menembus hujan dengan mantel antiair. Kami pun ikut-ikutan mencoba bertahan tanpa sering memakai payung.

Dengan jumlah penduduk sekitar 1 juta jiwa dari total penduduk Irlandia yang 4 juta jiwa, Dublin terlihat teratur rapi. Jalan rayanya bebas macet. Naik mobil ke mana-mana di dalam kota hanya memakan waktu maksimal 15 menit. Kami menyukai bangunan-bangunan kuno kotanya yang bergaya Victoria, yang tampaknya sengaja dilestarikan oleh pemerintah setempat.

Cuci Mata di Grafton Street
Salah satu tempat pejalan kaki paling terkenal di Dublin adalah Grafton Street. Di sinilah pusat perbelanjaan dan urban attraction. Atraksi yang unik antara lain  pose diam seperti patung, atraksi semacam sirkus jalanan yang memacu adrenalin dengan sepeda tinggi dan peralatan lain, hingga musikus jalanan yang memainkan gitar dan harpa dengan indah. Ada  saja tontonan unik yang mampu mengundang kerumunan orang.

Kami juga terkagum-kagum menjumpai kreasi pasir pantai yang dibuat berbagai macam bentuk, dipamerkan di pinggir jalan. “Ternyata orang dewasa juga suka main istana pasir, dan hebatnya bisa jadi tontonan!” gumam saya.

Sebagai orang yang gemar membaca, favorit saya di Grafton Street tentu toko buku. Harga buku di sini rata-rata 3 euro (sekitar Rp40.000). Padahal, buku impor di Indonesia harganya mencapai ratusan ribu. Tentu saja, kami jadi kalap belanja buku.
Selain faktor murah, toko-toko buku kecil di sini juga menawarkan kenyamanan dan suasana intim yang membuat kami betah. Salah satu toko yang menarik adalah Books Upstairs. Di tempat ini, saya malah bisa berbincang-bincang dengan pemiliknya yang sangat ramah, dan ia merekomendasikan saya membaca karya-karya terbaik penulis Irlandia. Senangnya…!

Jika sudah di Grafton, jangan lupa untuk menyempatkan makan di Bewleys. Restoran ini menjadi tempat favorit, karena   nyaman, makanannya enak, dan harga terjangkau. Suasananya kental dengan ornamen kayu dan gaya vintage, menyuguhkan kesan hangat dan homy. Karena saya berpantang makan babi, untuk amannya, pilihan menu saya adalah fruit pancakes, harganya 4,5 euro (Rp55.000). Hidangan lain yang menarik untuk dicicipi adalah irish mussels atau kerang yang dimasak dengan saus putih yang lezat. Sedap sekali!

Kota Sastra
Sebagai penulis, saya mencoba mengeksplorasi Dublin dari sudut pandang literatur. Baru saya tahu, khazanah literatur Dublin sangat kaya. Dublin adalah rumah bagi The Book of Kells, salah satu buku tertua dengan ilustrasi terindah di dunia. The Book of Kells tersimpan dengan baik di The Old Library of Trinity College Dublin. Perpustakaan besar ini menyimpan buku dan manuskrip kuno berdasarkan abjad.

Dublin juga tempat lahirnya pemenang nobel sastra, seperti William Butler Yeats, George Bernard Shaw, dan Samuel Beckett. Tak mengherankan, Dublin dinobatkan oleh UNESCO sebagai City of Literature, karena komitmen kota ini pada sastra sejak ribuan tahun lalu. Udara yang sejuk dan lingkungan yang indah  membuat Dublin menjadi kota yang dirindukan setiap penulis untuk berkarya.

Saya dan teman-teman juga mengunjungi National Library of Ireland. Mereka sedang mengadakan bulan William Butler Yeats untuk mengenang penyair kebanggaan mereka. Ada juga berbagai tulisan tangan dari penulis Irlandia yang dipamerkan, untuk memperlihatkan proses kreatif yang dilalui para penulis. Yang paling menyenangkan adalah poetry zone mereka. Penasaran, kami pun bergabung, duduk, dan mendengarkan puisi dibacakan, sambil melihat slideshow gambar yang menenangkan hati.

Kami sempat bertemu penulis Irlandia bernama Claire Kilroy. Ia menulis novel bertema thriller, All Names Have Been Changes. Sambil makan malam di restoran makanan Indonesia, The Chameleon, Claire banyak bercerita soal proses kreatifnya. Ia adalah full time writer yang menulis dari pukul 9 pagi sampai pukul 5 sore. Ia memilih tidak memasang koneksi internet di apartemennya. “It’s a distraction!” katanya. Ups! Saya yang tidak bisa hidup sedetik pun tanpa internet, jadi merasa tersindir.

Napak Tilas di Wicklow County
Salah satu penulis Irlandia yang terkenal saat ini adalah Cecilia Ahern, penulis buku P.S. I Love You, yang sudah diangkat ke layar lebar. Pemandangan alam Irlandia dalam film itu tampak sangat indah, membuat kami tak sabar ingin merasakannya juga! Jadilah kami sangat bersemangat dengan perjalanan kami ke Wicklow County, salah satu setting film P.S. I Love You.

Pemandangan indah dengan padang hijau dan domba-domba kriwil yang gemuk sedang asyik merumput terhampar di depan mata. Sesekali kami berhenti di area pedesaan, minum teh atau makan roti untuk merasakan kehidupan penduduk lokal.

Kami sempat melihat Guinness Lake, yang airnya berwarna hitam dan ujungnya ada pasir putihnya (seperti guinness dengan buih putihnya). Kami juga pergi ke Glendalough, sebuah area pemakaman yang dulu pernah menjadi tempat syuting Braveheart-nya Mel Gibson. Di sana, ada St. Kevin's Celtic Cross, sebuah tanda salib besar di tengah pemakaman. Konon, jika kita bisa memeluk dan tangan kita bisa saling bertemu, maka semua keinginan kita akan terkabul. Sayangnya, saya tidak berhasil melakukannya!

TIP
  1. Penerbangan ke Dublin, transit di Kuala Lumpur dan Amsterdam. Dari Jakarta ke Amsterdam sekitar 16 jam dan Amsterdam ke Dublin sekitar 2 jam.
  2. Hotel Harcourt berada di tengah Kota Dublin, tinggal jalan kaki ke Grafton Street dan beberapa taman kota lain. Biayanya mulai 89 euro - 119 euro (Rp1 juta – Rp1,5 juta) per malam.
  3. Transportasi publik bisa menggunakan bus dan kereta listrik. Ada juga taksi, mulai dari yang sedan hingga berbentuk van.
  4. Jika ingin keliling kota, bisa mencoba city tour dengan bus tingkat warna merah yang berhenti di depan Trinity College (terletak dekat dengan Grafton Street).

Aulia Halimatussadiah



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?