Yang namanya dibandingkan, sudah pasti tidak menyenangkan. Apalagi jika dibandingkan dengan adik ipar oleh ibu mertua. Irma Makarim menjelaskan, hubungan antara mertua dengan menantu memang unik. Hubungan ini bisa berjalan penuh pengertian, kasih sayang tetapi juga mudah terjadi gesekan bila tidak berhati-hati. Padahal, di sisi lain, mertua bisa jadi sumber dukungan yang sangat berarti bila diberi kesempatan.
Terimalah kondisi ini dengan hati ringan, buka hati untuk melihat dan menghargai kelebihan yang ada, ketimbang kekurangannya. Ini akan membuat kita lebih mudah beradaptasi dengan hal baru. Tak ada salahnya menyesuaikan dan melakukan kompromi, untuk kebaikan bersama. Bukan berarti kita harus menjadi orang lain atau terus mengalah, tetapi lakukan ini sesuai kapasitas. Kita tidak bisa mengubah kebiasaan mertua, tetapi kita bisa mengubah reaksi kita. Jangan biarkan diri terintimidasi atau berkecil hati, apalagi.
Tunjukan penghargaan Anda terhadap kelebihanan ipar dan tentunya juga pada mertua yang telah dengan baik mendidiknya, bahkan mungkin sesekali minta masukan beliau. Setiap apresiasi pasti akan terasa menyenangkan. Beri pengertian bahwa setiap orang punya potensi berbeda, jika beliau mulai membandingkan kita dengan ipar. Tunjukkan bahwa Anda merasa cukup nyaman dengan diri Anda, karena itu mintalah beliau untuk menerima Anda apa adanya
Sedangkan menurut Psikolog Monty Satiadarma, hidup kita tidak harus ditentukan oleh perbandingan yang dilakukan oleh orang lain. Lingkungan punya hak untuk membandingkan, dan Anda boleh membandingkan diri dengan orang lain guna menelaah kekurangan dan mengejar ketertinggalan, tapi bukan untuk merasa kecewa karena kurang setara dengan orang lain.
Satu hal yang perlu diingat, ada orang yang terlalu peduli jika dibandingkan dan mengalami hambatan oleh komentar orang lain, ada yang justru bisa menggunakan komentar orang lain untuk evaluasi diri guna berkembang lebih baik. Pilihan ada di tangan kita. (f)


