Celebrity
Dian Sastrowardoyo, Popularitas bukan tujuan utama saya

19 Sep 2015


Orang lain boleh beranggapan saya sosok yang perfect. Cantik, pintar, tangguh, berbakat, punya keluarga bahagia, dan jauh dari gosip. Namun, saya merasa itu anggapan berlebihan. Saya tidak pernah merasa sempurna, bahkan jauh dari kesan tersebut.

Waktu masih muda, saya memang sempat agak kaget di saat orang yang tidak saya kenal menyapa dengan ramah, lalu meminta foto. Mereka juga sering kali memuji-muji saya. Terlebih lagi sejak saya memerankan tokoh Cinta dalam film  Ada Apa Dengan Cinta?. Kadang-kadang risi rasanya di saat orang selalu mengaitkan eksistensi saya sebagai Dian dengan peran saya sebagai Cinta. Rasanya ingin juga lepas dari image Cinta. Bagi saya, Cinta itu karakter di dunia fiksi dan tak ada hubungannya dengan saya di dunia nyata.

Namun, seiring waktu, saya belajar menyikapi hal tersebut dengan lebih matang dan dewasa. Saya kini melihat sisi positif dan mensyukuri popularitas tersebut, di mana saya memiliki kesempatan lebih besar menyuarakan hal positif. Kepopuleran  membuat orang lain lebih mudah mendengarkan suara saya. Kalau saya bukan figur publik, belum tentu mereka mau mendengarkan dan memperhatikan kontribusi saya. Namun, saat ini  saya tidak terlalu mikirin popularitas, karena hal itu bukan tujuan utama hidup saya
  
Walau begitu, masih saja ada orang yang belum bisa menerima bahwa saya juga bisa menjalani karier profesional di luar dunia entertainment. Waktu bekerja sebagai konsultan Human Resources (HR) di Hay Group, masih saja ada orang yang menganggap saya sebagai selebritas. Ini terjadi saat meeting bersama klien. Bukannya sibuk berdiskusi, mereka malah mengajak saya berfoto maupun selfie. Padahal, saat itu saya sedang memakai ‘topi’ konsultan, bukan aktris ataupun pekerja seni.

Memang agak susah menyikapinya. Tapi, lama-kelamaan saya menemukan formula yang enak, yakni menolak tapi dengan mengajak bercanda (misal, kalau nanti foto sama saya, bisa dikirimin invoice, lho, dari manajemen). Intinya, saya belajar say no dengan manis, playful dan charmingly. Rasanya kalau kita bisa melakukannya, akan sangat membantu dalam menghadapi aspek hidup sehari-hari. Di saat bersamaan, itu juga empowering dan liberating.

Bagi saya, ketenaran bukanlah beban, sehingga hal itu tidak membatasi ruang gerak saya dalam berkarya. Saya sebenarnya manusia normal yang hidup biasa as a real people. Keseharian saya juga biasa saja, antara keluarga dan pekerjaan. Saya juga membuat prioritas daftar aktivitas sehari-hari, agar urusan pekerjaan tidak tercampur dengan kehidupan pribadi.    

Saya ingin bekerja di luar dunia seni. Salah satu bidang yang menarik minat saya adalah keuangan. Saya selalu kagum pada bidang keuangan, di mana orang bisa membaca data berdasar angka-angka. Itu juga salah satu alasan saya mengambil S-2 manajemen keuangan. Saya pribadi punya ketertarikan di banyak hal, di antaranya pendidikan dan pemberdayaan wanita.

Saat ini, saya mencoba mensyukuri hidup saya, serta bekerja dan jalani apa pun profesi kita dengan passion. Terserah, deh, orang lain mau menganggap saya seperti apa. Yang penting, saya tak terbebani dengan persepsi itu, sehingga tak ada kewajiban untuk membuktikan apa pun kepada orang lain. (f)



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?