Perpaduan sempurna antara talenta besar dan wajah jelita membuat Deepika Padukone (29) laris membintangi film Bollywood bergengsi. Yang terbaru, ia bermain dalam Piku (2015) bersama aktor legendaris, Amitabh Bachchan. Deepika pun masuk dalam deretan aktris Bollywood dengan bayaran termahal, versi majalah Forbes 2014. Ironisnya, di balik pencapaian karier yang cemerlang itu, Deepika ternyata tengah berjuang keras melawan depresi yang telah ia alami sejak setahun lalu. Agaknya, kecantikan dan popularitas tak membuat Deepika merasa nyaman dan bahagia. Apa yang sebenarnya ia cari?
Banyak yang tak menyangka Deepika menderita depresi, mengingat nyaris tak terlihat tanda-tanda di fisiknya. Namun, dalam sebuah wawancara eksklusif di New Delhi Television (NDTV), wanita kelahiran 5 Januari 1986 ini mengaku mulai merasa ada yang aneh dalam dirinya, sejak Februari 2014. “Suatu pagi, saya terbangun dengan susah payah. Saya seperti terjatuh dalam lubang besar, namun tak bisa keluar lagi. Saya merasa takut sekali,” kisah Deepika, yang saat itu meminta Ujjala Padukone, ibunya, untuk menemani.
Keterpurukan mental itu sungguh berbanding terbalik dengan pencapaiannya sebagai aktris. Setahun sebelum didiagnosis mengalami depresi, Deepika baru saja menerima penghargaan Best Actress dari Filmfare dan Screen Awards lewat peran di film Chennai Express (2013) dan Goliyon Ki Raasleela Ram-Leela (2013).
Saat baru-baru ini membintangi film keluarga, Piku, ia juga mampu mengimbangi akting Amitabh, yang terbilang jauh lebih senior darinya. Di film ini, ia memerankan tokoh Piku, seorang wanita tangguh yang berupaya menyeimbangkan kehidupan pekerjaan dan keluarga. “Bagi saya, film yang mengangkat eksistensi wanita perlu kita apresiasi dengan positif. Sudah saatnya wanita tak lagi muncul sebagai properti,” tegas wanita yang juga aktif menyuarakan isu feminisme ini.
Kekuatan Piku ternyata tak dimiliki Deepika dalam kehidupan nyatanya. Ketidakstabilan emosi kerap membuat Deepika lemah. Tapi, ia bersyukur masih bisa bekerja dan berkarya dengan baik. Diakuinya, saat berada di depan kamera, ia sanggup tampil ceria dan tersenyum bahagia, seolah tak terjadi apa-apa. Namun, usai syuting, wanita kelahiran Kopenhagen, Denmark, ini mengaku akan segera menyepi ke kamar kecil ataupun ruang ganti.
Di tempat tersebut, ia akan mengunci diri lalu menangis sejadi-jadinya. “Ada juga masa-masa di saat saya sangat kelelahan dan tidak ingin bangun dari tempat tidur. Untung ada Ibu yang terus menemani hari-hari saya,” ungkap Deepika yang setelah itu segera meminta bantuan medis untuk mengatasi masalah kejiwaannya.
Lewat terapi medis, Deepika akhirnya menyadari bahwa ia mengalami depresi. Dan, secara terang-terangan, aktris yang mulai meroket sejak membintangi film Om Shanti Om (2007) bersama Shakhrukh Khan ini tak merasa malu mengakuinya di media. “Masalah psikologis yang saya alami ini memang membingungkan. Saya bisa tiba-tiba merasa sedih tanpa tahu apa penyebabnya,” terangnya dalam sebuah wawancara.
Keterbukaannya soal penyakitnya itu membuat banyak orang kagum, tapi tak sedikit pula yang mencibir. Menanggapi hal itu, Deepika tak ambil pusing. Baginya, penyakit depresi bukan lagi tentang dirinya, tapi juga menyangkut orang banyak. Dengan berbagi cerita, ia ingin penderita lain bisa mendapatkan bantuan yang tepat dan cepat, sebelum terlambat.
Deepika tak ingin pengalaman seorang temannya yang memutuskan bunuh diri karena tak kuat menanggung beban depresi, terjadi pada dirinya atau orang lain. Terlebih lagi, dengan adanya fakta bahwa orang dewasa usia 15-29 tahun di India memiliki kemungkinan lebih besar melakukan bunuh diri ketimbang negara lain. Sebagai bukti keseriusan melawan depresi, Deepika mendirikan Yayasan Live, Love, Laugh, yang akan diresmikan pada Oktober nanti.
Lewat yayasan tersebut, rencananya, ia tak hanya membantu pemulihan penderita depresi melalui konseling medis, tapi juga berupaya meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai penyakit mental ini. “Depresi bukan penyakit memalukan. Masyarakat tidak seharusnya menganggap penyakit mental sebagai hal negatif,” katanya, mantap.


