DARI CALIFORNIA HINGGA INDONESIA
Berasal dari Jazirah Arab, pohon kurma (Phoenix dactylifera) menyebar lintas kontinental ke berbagai penjuru dunia. Bukti arkeologis mengungkap keluarga palma yang buahnya bermanfaat sebagai bahan pangan ini telah dibudidayakan di bagian Arab timur, sejak tahun 6000 Sebelum Masehi.
Budidaya serupa juga dilakukan masyarakat Mesir Kuno, sekitar tahun 4000 SM. Dari peradaban-peradaban tua ini, kurma yang sekujur tumbuhannya bermanfaat, menyebar ke India, Pakistan, Bangladesh, Cina, dan kawasan Asia lainnya. Kurma juga menyebar ke Sudan, Libia, Aljazair, Maroko, hingga ke gurun Timbuktu di Mali, Afrika.
Di masa kekhalifahan Islam di abad ke-7, pohon buah penuh berkah yang disebut sebanyak 20 kali dalam ayat Al Qur’an, ini mulai mampir ke Eropa. Lewat Maroko kurma menyeberang dan tumbuh di kawasan Kordoba di selatan Spanyol. Lewat Turki yang pernah menjadi pusat kekuasan dinasti Khalifah Usmani, kurma menyeberangi Selat Bosporus terus ke Yunani, Italia, dan Perancis.
Di rentang Abad Penjelajahan, tepatnya tahun 1765, pelaut Spanyol membawanya dan menanam di ‘benua baru’ Amerika, khususnya di Meksiko dan wilayah Mission San Ignacio yang kini menjadi California, Amerika Serikat. Tak mau kalah dengan kompatiternya dalam mencengkeramkan pengaruh politik di kawasan baru yang mereka ‘temukan’, pelaut Inggris juga membangun kebun-kebun kurma di Australia, beberapa saat James Cook mendarat di terra incognito atau benua tak dikenal itu. Peradaban terus berlanjut.
Kini kurma telah mondial (mendunia), tumbuh subur dan berbuah di banyak negeri, juga di beberapa tempat di Indonesia dan Masjid At-Tin – Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.(f)




