Makin terbatasnya jumlah lahan di Indonesia tak pelak membuat masyarakat kesulitan mendapatkan hunian. Ini menjadi tuntutan tersendiri bagi para arsitek dan desainer interior untuk merancang rumah layak huni di atas lahan yang terbatas ataupun terbilang mungil. Maka, konsep compact house pun menjadi solusi tepat bagi permasalahan keterbatasan lahan ini. Konsep compact house dapat diartikan sebagai konsep perancangan hunian di mana skala prioritasnya adalah ruang-ruang utama yang paling dibutuhkan. Contohnya, kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan ruang keluarga. Penambahan ruang hanya didasarkan pada kebutuhan primer, agar pemanfaatan lahan jadi maksimal.
Hal tersebut coba diterapkan oleh arsitek Bambang Wicaksono ketika memutuskan untuk memecah lahan seluas 135 m² agar di atasnya dapat dibangun dua rumah sekaligus. Masing-masing rumah didesain dalam bentuk facade minimalis dan terbagi atas tiga lantai dengan luas keseluruhan satu bangunannya 130 m².
Untuk perancangan zona interiornya, si arsitek mengacu pada desain hunian yang telah lama mengusung konsep compact, yakni apartemen. “Sebuah unit apartemen dapat dikatakan sebagai hunian yang mungil, tapi semua ruang dan kebutuhan tersedia. Jadi, saya mencoba memindahkan konsep tersebut ke dalam rumah,” jelas pria yang akrab disapa Wicak ini.
Pembagian zona yang mengacu pada konsep apartemen terlihat jelas pada tiap lantai di rumah tersebut. Layaknya memasuki apartemen, maka Anda akan langsung menjumpai zona servis. Itulah yang tampak pada lantai satu rumah, sebuah dapur, area cuci-jemur, dan area transisi menuju lantai berikutnya.
Di lantai dua barulah terlihat ruang-ruang utama yang masih bersifat zona publik, yakni ruang keluarga, ruang makan, dan pintu menuju kamar anak serta kamar mandi. Sedangkan lantai tiga memang ditujukan untuk zona yang paling privat, yaitu kamar tidur utama.
Tak sampai di situ, konsep compact house juga makin ditegaskan lewat pengoptimalan area penyimpanan. “Rumah mana pun pasti membutuhkan banyak area penyimpanan. Apalagi di rumah yang terbilang kecil, area penyimpanan harus lebih optimal agar barang-barang tak tampak memenuhi ruangan,” tutur Wicak. Karena itu, Wicak memanfaatkan tiap sisa ruang untuk diolah menjadi lemari built-in.
Dari kolong bawah tangga, plafon di atas tempat tidur, hingga sisi dinding yang tak simetris karena mengikuti kemiringan lahan, menjadi rapi dan fungsional karena ditambahkan lemari built-in.
Untuk konsep warnanya, warna putih tampak dominan pada tiap ruang. Bukan sekadar mengikuti tren minimalis, penerapan warna putih yang dominan ditujukan juga untuk membantu membiaskan pencahayaan pada interior rumah tersebut. Hasilnya cukup efektif, di siang hari pencahayaan alami dari jendela di sisi depan bangunan begitu maksimal menerangi tiap lantai. Dan, karena bangunan menghadap ke arah selatan, cahaya matahari yang masuk tidak membuat bagian dalam rumah jadi panas. Untuk menghindari kesan monoton, beberapa elemen ruang berwarna keabuan dan material kayu jadi aksentuasi yang ringan.
“Lewat pembangunan rumah ini, saya ingin membuktikan bahwa di atas lahan 60 m² pun dapat dibangun rumah seluas 130 m² yang memenuhi semua kebutuhan ruang penghuninya. Bahkan, masih ada sedikit sisa lahan sebagai garasi dan teras. Hal tersebut tidak bisa didapatkan pada hunian jenis apartemen,” ungkap Wicak. Karena kagum pada hasil rancangannya sendiri, salah satu dari dua rumah di lahan terbagi tersebut ia beli untuk dihuni bersama keluarga kecilnya.


