Health & Diet
Cegah dan Tanggulangi Bahaya Asap

11 Nov 2015

“Kondisi idealnya, tidak ada asap. Kalau tidak ada asap, maka tidak ada yang sakit,” ungkap Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI dr. Achmad Yurianto. Komentar ini dikeluarkan terkait bencana asap di beberapa provinsi di Indonesia yang berdampak pada kesehatan masyarakat.

“Beberapa kasus kematian yang bisa muncul adalah pada kelompok yang rentan, yaitu yang kondisi imunitasnya jelek, seperti pada anak. Begitu sakit, kalau tidak diobati akan cepat memburuk dan menyebabkan kematian,” jelasnya. Atau, pada orang yang dari awalnya memiliki masalah pada paru-parunya, misalnya penderita ashma, bronchitis kronis. Di beberapa tempat terjadi kematian pada anak yang menderita TBC dan belum sembuh. 

Media massa marak memberitakan jatuhnya nyawa akibat bencana kabut asap. Di Riau sendiri dikabarkan setidaknya ada sembilan korban jiwa akibat gangguan pernapasan. Menanggapi hal ini, dr. Achmad mengatakan bahwa semua laporan perkembangan kasus kesehatan yang terjadi di daerah telah masuk ke pusat.
   
Menurutnya, untuk kasus pertama meninggal (Hanum), pihak rumah sakit yang menangani telah melakukan klarifikasi dalam jumpa pers, didampingi Kepala Dinas. Benar dia telah meninggal di rumah sakit, tapi penyebab primernya bukan karena asap. Tetapi dari perawatan sebelumnya ternyata ia terkena radang selaput otak, atau meningitis. “Namun, kondisi asap ini memperparah kondisinya sehingga ia meninggal,” jelas dr. Achmad.
   
Kasus lainnya, dr. Achmad menyebutkan, ada anak dibawa ke rumah sakit dalam kondisi buruk. Sebelumnya, telah mendapatkan pengobatan di luar. Karena tidak membaik akhirnya di bawa ke rumah sakit dalam kondisi tidak sadar, napasnya cepat. Ketika ditanya, orang tuanya mengaku bahwa anak sebelumnya mengalami diare. “Sehingga data-data yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Provinsi inilah yang saat ini ada di tangan Kemenkes,” lanjut dr. Achmad.
   
Ia menjelaskan bahwa ada dua komponen yang ditakuti dari asap. Komponen pertama, yaitu gas CO dan CO2, dua gas yang lazim terbentuk dalam proses pembakaran. Gas ini bersifat toksik bagi manusia, sehingga jika dihirup dalam konsentrasi yang tinggi pasti akan menyebabkan pusing-pusing. Bahkan, jika itu terjadi dalam ruangan tertutup dengan konsentrasi tinggi, bisa menyebabkan kematian!
   
Komponen ke-2 yang sangat berbahaya adalah partikel yang ada di dalam asap, atau partikulat. Kami memonitornya dengan alat pemantau ISPU. Pada kadar 0-50 ppm, udara sehat masuk dalam kategori sehat, di atas 50 – 100 udara sedang (tidak berpengaruh pada kesehatan). Kadar 100-200 ppm udara sudah tidak sehat, di atas 200-300 ppm adalah sangat tidak sehat, sementara 300 ke atas dikatakan sangat berbahaya.
   
Menurut dr. Achmad, di beberapa daerah, di Riau dan daerah lain seperti Kalimantan, kadar ISPU sempat mencapai di atas 500 ppm, bahkan pada suatu waktu sempat di atas 1000 ppm, yaitu sangat berbahaya!

Upaya pertama untuk terhindar dari resiko gangguan kesehatan akibat partikel asap adalah dengan menghindari udara yang tercemar. Dari udara ber-ISPU tinggi ke udara yang ISPU-nya lebih rendah. Misalnya dengan membangun tempat-tempat dengan kualitas udara yang lebih baik. “Kita mengenalnya dengan istilah shelter, atau rumah singgah,” ujar dr. Achmad.

Ia mencontohkan, misalnya, mereka yang mampu dengan rumah yang dilengkapi AC dan air purifier mengundang tetangga-tetangganya untuk singgah di rumahnya. Bahkan, di Pemda sendiri, di beberapa ruang rapat tertutup yang dilengkapi AC di kantor Pemda digunakan untuk menampung masyarakat yang tidak mampu.

Upaya kedua adalah mengurangi paparan asap. Misalnya dengan mengenakan masker untuk menyaring udara. Tapi, harus benar caranya, tidak hanya menutupi mulut, tapi juga hidung. Jangan juga memilih masker yang tidak menempel sempurna ke wajah, atau menyisakan ruang terbuka bagi asap. Atau mengenakan masker yang memang tidak didesain untuk dia, misalnya memakaikan masker N95 yang berbentuk mangkuk kepada anak-anak. Karena tidak didesain untuk anak, menyisakan lubang. Sebisa mungkin dalam kondisi asap yang pekat, jangan melakukan aktivitas di luar ruangan.

Apabila asap dibiarkan maka akan menyebabkan gangguan kesehatan Influenza-Like Illness (ILI). Jika tidak segera ditanggulangi, maka penyakit ini akan menyebar ke tenggorokan dan paru-paru sehingga bisa menyebabkan radang paru-paru atau pneumonia. Apabila ini juga tidak segera diobati, maka bisa paru-paru bisa gagal berfungsi, dan pada akhirnya menyebabkan kematian. “Untungnya, pagi ini (4/11) saya cek ISPU sudah beranjak normal, yaitu di angka 100 ppm, sudah dalam ambang normal,” ujarnya senang.

Naomi Jayalaksana




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?