Trending Topic
Cantik dan Nyaman

24 Dec 2014

Menurut pengamat mode, Syahmedi Dean sebelum membeli pakaian untuk anak cobalah banyak membaca dan mencari referensi dari majalah atau internet. "Karena supaya nyaman dan enak dilihat, anak berpakaian harus sesuai dengan sikon serta sesuai usianya," jelas Dean.
Demikian juga dengan memberikan baju merek premium. Tak ada yang salah jika ingin memberikan anak baju bermerek. Jika Anda mampu, kenapa tidak? Namun, akan lebih baik jika Anda melihat juga usia si anak. Anak balita pasti tidak peduli mau dipakaikan apa saja, karena tidak mengerti.
    Kalau memang ingin membelikan barang yang bernilai, tunggu hingga anak sudah masuk SD. “Anak usia 8 tahun ke atas sudah bisa diberikan barang agak mahal. Karena ia sudah harus bertanggung jawab dengan barangnya,” tegas Psikolog Vera Itabilyana Hadiwidjojo, Psi.
    Namun, supaya anak tidak merasa lebih atau berbeda dari yang lainnya, sebaiknya ditekankan ke anak kalau membeli sesuatu lebih kepada fungsinya. Misalnya, kenapa kita membeli baju merek ini? Bukan karena harganya mahal, tapi karena bahannya bagus, lebih awet, dan lain-lain. Jadi yang ditonjolkan itu harus yang menunjukkan kualitas barang tersebut.
    “Dengan demikian, anak-anak jadi tahu kalau dibelikan barang tersebut karena kualitasnya bagus, awet, tidak gampang sobek, warnanya tidak mudah pudar, bukan karena mereknya dan mahalnya. Mahal adalah efek sampingnya saja. Ini akan membuat anak memandang sesuatu dengan logis, bukan emosional,” ungkap Vera.
    “Anak itu kan sebenarnya tidak punya sense of pricing, mahal atau murah tidak tahu esensinya apa. Kecuali orang tuanya yang sengaja ‘memberi tahu’. Misalnya bilang, ‘Jangan malu-maluin Mama, ah, pakai baju murahan gitu,!’” kata Dean. Padahal, anak itu tidak tahu murahan atau mahal itu apa. Yang pasti, kalau mahal  membuat mamanya senang.
    “Nah, yang mengenakan baju mahal dan bolak-balik menyebutkannya, biasanya secara finansial pas-pasan. Sedangkan orang yang mampu akan merasa bahwa memiliki barang dengan merek-merek mahal itu bukan hal istimewa, biasa saja. Jadi ia tak akan menyebutkannya di depan umum,” ujar Dean.
    Yang menunjukkan bahwa sebuah merek mahal amat berarti buat dia, ini karena ia ingin menunjukkan effort-nya. “Bahwa ia sudah mencapai suatu titik ingin diketahui semua orang kalau ia sudah mampu membeli merek A. Istilahnya, knocking tetangganya. ‘Ini lho, saya bisa membelikan anak saya merek ini,’” ungkap Dean.



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?