Celebrity
Buah Kerja Keras Iskandar Widjaja

6 Jan 2016


Belajar bermain piano di usia tiga tahun dan bermain biola di usia empat tahun, Iskandar Widjaja telah memutuskan bahwa ia ingin menjadi musikus sejak usia tujuh tahun. Sejak saat itu, tiada hari ia jalani tanpa latihan, bahkan hingga detik ini. Berbagai penghargaan, seperti medali emas di 1st International Hindemith Violin Competition, beberapa First Federal Prize di Jugend Musiziert (YouthMaking Music), Best Bach & Best Beethoven Sonata di 21st Concorso Violinistico Internazionale, dan masih banyak lagi, berhasil diraihnya. Bahkan, dengan berbagai penghargaan ini pun ia tetap memandang dirinya sebagai seorang murid.
   
“Bagi seorang seniman, belajar adalah proses yang tidak pernah ada habisnya. Jika saya berhenti belajar, maka saya akan berjalan mundur,” jelas pria yang akrab dipanggil Issi ini. Dengan pijakan ini, ia terus membuka diri, dan dengan rendah hati menerima masukan-masukan baru, sembari terus mengembangkan diri. “Seperti Pablo Casals, maestro cello asal Spanyol, yang terus berlatih hingga akhir hayatnya,” lanjutnya, menyebut sang inspirator.
   
Bukan hal yang mudah, memang. Namun, konsekuensi itu telah ia sadari sejak dulu. Issi kecil tak pernah keberatan jika ia harus kehilangan waktu bermain demi mengejar mimpinya. “Mungkin saya kehilangan sesuatu, tapi saya meraih hal yang lain. Dalam hidup, kita memang harus membuat pilihan karena kita tidak bisa mendapatkan semuanya,” ujarnya.
   
Memang, tak ada kesuksesan yang lahir tanpa kerja keras. Namun, tak ada yang menyangka bahwa Issi muda bukanlah murid paling berbakat di kelasnya. Ketika belajar di Hans Eisler College of Music dan divisi pre-college di Berlin University of Arts, ia harus berhadapan dengan anak-anak yang telah berlatih biola secara serius sejak umur 4 tahun. Teman-temannya pun sering memperolok bahwa ia tak bisa bermain biola.
   
Masa remaja, itulah saat-saat terberat dalam hidupnya. Mimpinya saat itu adalah menjadi soloist dan pemain biola di konser. “Ketika saya merasa yakin bahwa saya bisa, ada orang-orang yang menolak saya dan mengatakan bahwa saya tak mungkin bisa,” kenangnya. Di sisi lain, ada juga orang-orang yang mendukung dirinya.
Bagi remaja seusianya saat itu, hujan opini yang saling bertentangan ini kerap membingungkan. “Apa pun yang terjadi, saya giat berlatih 8 jam sehari demi menyempurnakan teknik permainan saya,” tekadnya, mencoba menepis kebingungannya saat itu.

Kekuatan determinasi itu telah membawanya menjadi violinist muda yang paling diperhitungkan di Eropa. Tahun 2013, ia diterima di Soloist Advancement Program “Orpheum Foundation” atas rekomendasi Zubin Mehta dan Christoph Eschenbach, dua komposer terkemuka di Eropa. Ia telah bermain bersama di sejumlah concert hall paling bergengsi dan tampil bersama orkestra terkemuka dunia, mulai dari Sydney Symphony Orchestra, l'Orchestre de la Suisse Romande, the Munich Philharmonic, the Konzerthausorchestra Berlin, the Deutsche Symphonieorchester Berlin, hingga Brandenburgisches Staatsorchester Frankfurt.

Setelah konsernya di Jakarta Oktober lalu, ia sudah memiliki daftar show panjang. Dari penampilan kecil untuk 50-an orang di sebuah gereja di Jerman Utara hingga pertunjukan besar untuk ribuan orang di Hong Kong.

Satu hal yang ia nikmati ketika berada di Indonesia, ia lebih memiliki kebebasan dalam berekspresi. Ia merasa, dunia musik klasik di Eropa sangat penuh tekanan. Tiap kali dirinya merasa kacau, ia akan melakukan meditasi untuk menenangkan pikiran dan batinnya. Kebiasaan yang diperolehnya dari mengamati sang ibu saat ia masih berusia dua atau tiga tahun. “Ibu saya memang tipe orang yang sangat spiritual. Lalu saya mulai menirunya, mungkin saat usia saya tujuh atau delapan tahun. Ternyata, saya menikmatinya,” ceritanya.

Sang ibu, Chin Widjaja, adalah seorang pianis dan guru piano. Ia merupakan salah satu sosok dengan pengaruh terbesar dalam hidup Issi. Ibunyalah yang memperkenalkan dan membuat Issi cilik jatuh cinta  pada musik lewat berbagai konser musik klasik untuk anak-anak. Ayahnya, almarhum Ivan Hadar, seorang sosiolog dan pengamat politik, adalah figur yang berjasa menanamkan kecintaan Issi terhadap tanah airnya, meski ia berada jauh di tanah Eropa.
   
Seberat-beratnya standar pasar musik klasik Eropa, Issi merasa beruntung lahir dan tumbuh di Jerman. Di negara inilah ia berkesempatan mengenyam metode pendidikan musik klasik yang sangat maju. “Namun, jika saya dilahirkan di Indonesia, saya mungkin akan memilih jalan hidup yang berbeda dan tetap dapat merasa bahagia,” tambahnya.
   
Meskipun sudah menjadi warga negara Jerman, Issi tetap merasa bangga dengan darah Indonesia yang mengalir di dalam dirinya. Di  tiap penampilannya, dari Spanyol, Swiss, Italia, Slovenia, Kroasia, hingga Hong Kong, ia selalu mengatakan bahwa ia adalah orang Indonesia. Negeri yang menurutnya sangat indah dan kaya dengan kebudayaan serta orang-orang yang penuh talenta. “Saya merupakan bagian dari Indonesia, negara asal saya, dan saya tak ingin menyembunyikannya,” cetus cucu dari Udin Widjaja, musikus yang sangat terkenal di era Presiden Soekarno ini.

EKA JANUWATI




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?