Travel
Berkelana di Kebun Anggur

1 Apr 2015


Menyusuri petak-petak kebun anggur yang hijau adalah salah satu cara menghabiskan waktu liburan alternatif. Berwisata kuliner memang tidak hanya soal makan, tapi juga minum. Beristirahat sejenak dari acara jalan-jalan dan shopping, tempat yang tepat adalah bersantai di winery, menyesap wine terbaik, sambil memandang hamparan kebun anggur yang memanjakan mata. Berikut ini beberapa winery pilihan mereka yang patut dicoba.


Niagara Peninsula, Kanada
Pilihan Tria Nuragustina, Redaktur Eksekutif Boga

Di suatu akhir musim gugur menjelang musim dingin, saya mengunjungi daerah seluas 5.440 hektare di Southern Ontario yang merupakan pusat penghasil wine. Dengan 80 winery yang dimiliki daerah ini, sebetulnya tur bersepeda sambil mencicipi icewine adalah keharusan. Apalagi, mengingat Kanada adalah satu dari tiga negara dingin terbesar yang memproduksi icewine, selain Jerman dan Austria. Namun, kali ini saya lebih beruntung, karena dijamu dan diantarkan naik limousine.

Jika anggur merah atau anggur hijau dipetik di bulan September-Oktober, icewine justru dipetik di tengah malam bersalju, kala suhu setidaknya -8° C, dan pohon-pohon anggur ditutupi salju. Pemilik Vineland Estates Winery, Allan Smith, bercerita bahwa dengan penerangan seadanya (pukul 11 malam hingga subuh), petani berjaket tebal menyibak jaring-jaring yang melindungi anggur, memetiknya dengan tangan kosong, bukan gunting.

Saya juga sempat mencoba vice (singkatan vodka-icewine). Hanya Vineland yang memproduksi campuran ini. Rasanya tak semanis icewine murni. Dan, karena mengandung vodka, kadar alkoholnya lebih tinggi (20%).

Berpindah ke tengah kebun Pillitteri Estates Winery, di tengah suhu 5° C, saya menghangatkan diri dengan memetik beberapa anggur Cabernet Sauvignon. Di kancah internasional, winery berumur 19 tahun ini dikenal rajin mengeluarkan varian icewine.

Rasa icewine relatif manis. Jika white wine mengandung 0-30 g residual sugar/L, di icewine melonjak menjadi 200 g/L. Rasanya yang lembut juga karena alkoholnya hanya 10%-12%. Rasa manis diperoleh dari konsentrat gula yang optimum --sekitar 35° Brix, atau 20% dari seluruh bagian anggur-- hal alamiah kala anggur membeku. Dalam kondisi itu, jus anggur mengkristal, namun tidak nektar gulanya. Sehingga, saat diperas hanya nektar manis ini yang mengalir.

Hanya setetes sirop manis mampu dihasilkan sebutir anggur. Kira-kira, untuk 375 ml botol icewine, dibutuhkan 3 kg anggur! Karena tak murah, orang Kanada hanya meminumnya 3-4 kali setahun untuk perayaan, atau sebagai hadiah.


Hawke’s Bay, Selandia Baru
Pilihan Yoseptin Pratiwi, Redaktur Pelaksana Features

Sinar matahari yang panas dan embusan angin laut yang menderu menyambut saya di Napier setelah perjalanan udara selama sekitar 1 jam dari Auckland. Ketika saya berkunjung ke sana, musim gugur sedang dimulai. Napier terletak di Hawke’s Bay Region, sebelah barat daya North Island.

    Deretan rapi kebun anggur segera menyergap mata saya begitu memasuki Hawke’s Bay, dengan gerombol-gerombol kecil anggur hijau di sana sini. Hawke’s Bay merupakan daerah penghasil wine terbesar kedua di Selandia Baru. Winemaking industry Selandia Baru dimulai di sini, sejak tahun 1851, ketika misionaris Katolik asal Prancis membuka kebun anggur untuk pertama kalinya di kawasan Taradele.

Kini, kebun anggur milik para biarawan itu menjadi perusahaan penghasil anggur yang bernama Mission Estate Winery. “Para biarawan itu membuat anggur untuk keperluan misa perjamuan di gereja,” ujar Peter Holley, CEO Mission Winery.

    Siang itu, Paul Mooney, winemaker yang sudah meracik wine selama lebih dari 30 tahun, mengajak kami mencicipi anggur langsung dari tong-tong kayu oak di gudang. Hawke’s Bay terkenal dengan produksi white wine chardonnay (dari anggur hijau chardonnay) dan red wine bordeaux-blend (gabungan dari berbagai jenis anggur).

Paul memberi saya red wine pinot noir, sauvignon, dan syrah. Meski masih ‘mentah’ dan butuh diperam lagi dalam tong, pinot noir dengan warna merah keunguan (warna ikut menandakan usia wine, makin tua warnanya merah gelap hingga merah kecokelatan) dengan aroma buah yang menyeruak, rasanya sungguh nikmat.

    Puas menikmati red wine langsung dari gudangnya, saya menuju ruang makan. Kali ini saya diberi white Jewelstone Chardonnay, yang saya sesap pelan-pelan. Lidah saya merasakan rasa yang kaya, seperti perpaduan antara buah nanas, plum, citrus, dan sedikit aroma kayu oak yang eksotis. Rasanya, segelas saja tidak cukup.

    Mission Estate Winery tidak hanya menyediakan wisata kebun anggur. Mereka juga menyediakan penginapan dan ruangan yang bisa disewa untuk berbagai acara. Dari rapat-rapat hingga pesta pernikahan. Apalagi, karena dulunya milik misionaris, ada kapel kecil indah yang akan menjadi saksi janji cinta yang terucap.

    Acara wine tasting di kawasan ini bisa berlanjut ke Craggy Range yang berlokasi di Hasting District. Winery yang didirikan sejak tahun 1997 ini dikelilingi   bukit-bukit kecil berumput hijau kekuningan yang membuat saya tak puas-puas mengatakan, “Ooh indahnya…!”

Winery ini berdiri karena keinginan seorang pebisnis Australia, Terry Peabody, untuk membangun bisnis yang bisa diwariskan dari generasi ke generasi dalam keluarganya. Awalnya ingin bertani kiwi, tapi Peabody kemudian berubah pikiran untuk membuka winery ketika menyaksikan iklim dan tanah Hawke’s Bay yang bisa menghasilkan anggur berkualitas prima.

    Craggy Range memiliki Terroir, restoran bercita rasa Prancis yang romantis dan klasik. Saya memilih meja di luar, di samping deretan kebun anggur hijau yang buahnya masih kecil-kecil. Sambil menikmati matahari Hawke’s Bay, saya mencoba white wine riesling, chardonnay, dan sauvignon blanc. Dari ketiganya, favorit saya adalah riesling, yang terasa manis dengan aroma buah yang kental.

    Setelah gelas demi gelas cairan surgawi itu tandas, kini saatnya makan. Dari menu yang ditawarkan, saya memilih salad dan steak yang empuk dan dagingnya segera lumer di mulut. Dan satu lagi, makanan yang membuat saya tak berhenti mengunyah adalah fried potato-nya yang lezat.

Dipotong berbentuk kubus dengan bumbu bawang putih yang generous, potongan kentang goreng itu memiliki rasa manis dan gurih yang seimbang. Makan siang di tengah embusan angin musim gugur, sungguh menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.


Yarra Valley, Australia
Pilihan Berlianti Savitri, Redaktur Senior Boga

Dibutuhkan waktu 2 jam perjalanan darat untuk sampai di sini. Bertolak belakang dengan Melbourne yang dinamis, di sini akan ditemukan kenyamanan berbeda. Tak ada lagi gedung, lalu-lalang mobil, atau restoran mewah. Yang ada hanya bangunan klasik ala Victorian, rumah makan gaya pedesaan menggunakan bahan baku segar dari pertanian sekitar, hingga hamparan pohon anggur yang menyejukkan mata.

Salah satu cara asyik menikmati sebagian wajah negara bagian Victoria ini adalah   menyusuri kebun anggur dengan menunggang kuda. Dalam 15 menit, semua peserta sudah harus berganti kostum menggunakan pakaian berkuda lengkap dengan jaket dan helm pengaman. Tinggi dan berat badan anggota tim diukur satu per satu, disesuaikan dengan ukuran kuda.

Bagi yang sudah terbiasa, mungkin akan menyambut enteng ajakan ini. Tapi bagi saya yang pemula, tentu cukup menantang dan melelahkan. Diawali dengan belajar menunggang, memegang tali kendali, memacu kuda untuk berjalan, belajar belok, hingga mengerem.
Setelah mencoba beberapa putaran di pacuan, saya berhasil menemukan harmonisasi antara konsentrasi, posisi badan, dan perasaan tenang agar bisa berkuda dengan stabil.  Kepanikan  makin pudar ketika kuda mulai memasuki area kebun, dan tahu ada instruktur berpengalaman yang mendampingi.

Kawasan ini memang berjodoh dengan tanaman anggur. Selain tanahnya subur, suhu udara (sekitar 14º C) sangat ideal dijadikan lahan perkebunan anggur. Tampak akar-akar pohon anggur yang subur menjalar. Tunas-tunas daunnya yang berwarna hijau segar, begitu memukau. Dari sekitar 150 kebun anggur di sini, ada dua kebun yang banyak dikunjungi wisatawan, yakni T’Gallant dan Mantons Creek yang letaknya bersebelahan.

T’Gallant yang dirintis pada tahun 1990 ini sangat country dan klasik. Di sini juga sering dijadikan sebagai tempat ngumpul para produsen wine setempat untuk sekadar mencicipi signature wine, ‘art series’ pinot noir untuk red wine-nya.

“Warna menjadi indikator umur dan kadar alkohol red wine,” papar Kevin McCarthy, wine maker T’Gallant. Dengan kadar alkohol 13%-15%, red wine akan berwarna merah gelap. Warna merah keunguan seperti T’Gallant Juliet pinot noir yang saya cicipi, menandakan wine masih muda. Rasanya? Manis, minim alkohol, serta tersirat aroma buah blackberry dan raspberry. Sedangkan warna merah kecokelatan menunjukkan bahwa wine cukup tua.
 
Lain lagi dengan Mantons Creek, yang berdiri sejak tahun 1982, yang populer dengan white wine Chardonnay-nya. Beraroma buah, vanilla, kacang, atau cengkih. Untuk white wine yang biasanya berkadar alkohol 8-12%, warna cairannya bening kuning kehijauan. Kadangkala ada white wine berwarna bening kuning keemasan. Itu artinya anggur yang dibuat menjadi wine ini sudah cukup tua.

Sparkling wine yang juga diproduksi di sini, lain lagi. Warnanya mirip Chardonnay, bening kuning kehijauan hingga bening kuning keemasan. Rasanya lebih ringan daripada white wine dan red wine. Sewaktu saya menyesap sparkling wine ini, rasanya seperti mengulum permen poprock. Gelembung udaranya memberikan sensasi tersendiri, seperti meletup-letup saat mengelus lidah saya.

Di tengah perkebunan anggur itu, berdiri bangunan induk dengan arsitektur bangunan klasik dan interior bergaya Eropa. Pemandangan awan biru berpadu dengan hamparan ladang anggur yang hijau terlihat langsung dari bangunan induk. Duduk di teras sembari meneguk segelas sparkling wine dingin membuat saya lupa pada nyeri dan kaku di badan usai berkuda.


TIP WINE-TASTING

• Yoseptin: Canapé atau makanan kecil yang biasa disediakan di tempat wine tasting dapat membantu menetralkan rasa di lidah sehingga menjadi lebih sensitif terhadap cita rasa wine yang berbeda-beda.
• Tria: Pastikan wine memiliki suhu yang terbaik saat dicicipi supaya rasanya lebih ‘keluar’. Untuk anggur merah dalam suhu ruangan, sementara anggur putih, ice wine, dan rosé dalam suhu yang lebih dingin.
• Berli: Bagi pemula, pilih wine dengan kadar alkohol ringan (sekitar 8%). Untuk red wine, ditandai dengan warna merah yang tidak terlalu gelap (merah keunguan hingga merah muda).(f)



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?