<< cerita sebelumnyaTari segera mematikan ponsel. Ia tak hendak menerima telepon apa pun malam ini. Sambil berbaring telentang matanya menerawang menatap langit-langit kelabu rumah Nonce. Saat itu kilasan pikiran muncul dalam benaknya. Ia tahu benar cara kerja Wanto. Bekerja bersama selama dua tahun membuat Tari percaya benar pada Wanto. Kalau ia tak pergi ke Pak Wardiman pagi ini, pasti ada alasannya. Bisa jadi Pak Wardiman menggeser janji bertemu. Atau, bisa jadi Wanto telah menugaskan orang lain.
Besok pagi saja kutelepon Wanto.
Nonce masuk dengan segelas air dingin di tangannya. Tari mengambil gelas itu, meminum pilnya dan meneguk habis isi gelas. Nonce mengamati semuanya dalam diam. Meski prihatin melihat wajah pucat Tari, ia tak hendak mengganggunya dengan berbagai pertanyaan.
“Sudah. Sekarang tidur sajalah. Ayo, tidur di kamar.”
Tari tak menyahut. Nonce tak hendak memaksa. Angin dingin masuk dari pintu yang terbuka. Semilir angin dan pengaruh obat membuai Tari. Pelan tetapi pasti, kantuk menderanya. Di awal malam Tari tertidur. Tanpa mimpi. Sementara Nonce, demi kesetiakawanan yang aneh, menggelar tikar di lantai di bawah sofa Tari, meninggalkan Eta, putrinya, tidur sendirian di kamar utama. Lama kemudian Nonce baru bisa tidur. Dalam tidurnya ia bermimpi aneh. Ada seekor naga tengah mengejar-ngejar Tari. Nonce ingin menyelamatkannya. Tetapi, naga itu justru membawa lari Tari ke kerajaan naga di palung terdalam lautan teduh.
Sinar mentari pagi menerobos masuk melewati jendela kaca. Sinar mentari itu menusuk-nusuk matanya. Membuat gelisah Tari. Tak lama ia bangun dengan pikiran bingung. Rupanya, obat sakit kepala yang diminumnya masih membawa pengaruh sampai saat ini. Tari terbengong-bengong sedetik dua detik, sampai akhirnya ia bisa mendengar celoteh riang Eta dan bau harum masakan yang tengah dibuat Nonce dari dapur.
Ia mendengar langkah-langkah kecil Eta di ruang tamu. Langkah-langkah kaki itu berhenti di dekat tempatnya berbaring. Tak lama setelahnya, langkah-langkah itu menjauh menuju dapur. Kemudian terdengar suaranya yang semerdu kicau burung, “Mama… Tante Jawa sudah bangun.”
Tari tidak mendengar jawaban jelas Nonce. Hanya setelah itu suara nyaring Eta terdengar kembali, “Ah… masih tidur. Tapi, sudah bangun. Dong pu mata terbuka, baru.”
Tari tersenyum. Ia tak ingin mengecewakan gadis cilik itu. Dengan menahan rasa sakit di kepalanya Tari mencoba duduk.
Nonce masuk. “Ah... su bangun. Su, sehat? Sa baru bikin papeda deng ikan kuah asam. Masih panas. Makan, e?”
Tari mengangguk. Meski, ia tak mengerti yang dimaksud Nonce dengan papeda. Perutnya lapar benar. Terlebih, baru ia ingat, semalam ia tak makan apa-apa. Di meja makan terhampar hidangan yang begitu asing baginya. Papeda itu. Ternyata itu makanan pokok dari sagu. Bentuknya persis seperti lem yang biasa ada di kantor pos yang dipakai untuk mengelem prangko. Dan, di sebelahnya ada semangkuk penuh ikan kuah. Baunya harum. Ketika Tari mencicipi kuah ikannya, rasanya seperti gulai kepala ikan orang Aceh. Hanya, yang ini lebih asam dan lebih segar.
Makan pagi itu dipenuhi gelak tawa Eta yang begitu bersemangat menghabiskan sepiring penuh papedanya. Juga gelak tawa keduanya yang melihat kesulitan Tari menelan papeda. Tari belum pernah makan lem. Dan, ternyata sulit juga menelan lem. Karena lem tidak bisa dikunyah, tetapi harus disedot masuk langsung ke kerongkongan. Akibatnya, sebentar-sebentar papeda itu meluncur jatuh dari sendoknya dan dari bibirnya.
“Hi… hi… hik... Tante Jawa tra bisa makan….”
“Eh, Eta, sopan sedikit. Hi… hi....”
“Ah, Mama juga tertawa, baru. Hi...hi....”
“Sudahlah, tidak apa-apa.”
“Ini tra bisa dibiarkan. Harus sa urus,” tegas Nonce, dengan wajah geram.
“Aku sudah ikhlas, kok, Non. Nrimo.”
“Dasar Jawa. Ikhlas… ikhlas… nrimo… apa itu? Ini bukan soal uang seratus ribu, ko. Tetapi, tong harus cari tahu duduk soalnya. Sa ada teman orang Kayu Batu di kantor. Nanti sa tanya dorang. Sebenarnya ini menyangkut soal lama. Sudahlah, nanti sa cari tahu dong pu hal-hal.”
“Sudahlah, enggak usah diperpanjang.”
“Ah, ko diam. Ko tra tau Papua, mo.”
Nonce beranjak ke meja telepon dan sibuk menelepon ke sana sini. Sebenarnya, ketika menelepon, Nonce seratus persen menggunakan bahasa Indonesia. Tetapi, dialek lokal yang begitu kental yang digunakan, juga tempo bicara Nonce yang ekstra cepat, membuat Tari tak mampu menangkap seluruh maksud perkataan Nonce.
Nonce kembali. Keringat menetes dari dahinya. Tari prihatin. Ingin benar ia menyudahi saja persoalan yang tidak perlu ini. Tetapi, kilatan sinar di mata Nonce mengurungkan niatnya.
“Besok ko ke sa pu kantor. Kantor gubernur. Tanyakan saja di mana ruangan Ibu Dra. Non-ce. Semua orang kenal. Sa tunggu jam satu siang. Tong ketemu deng Fritz. F-r-i-t-z. Dong pemuda Kayu Batu. Ingat, jam satu. Mengerti?”
Meski tak paham benar dengan penjelasan sahabatnya, Tari mengangguk-angguk. Ia hanya menangkap beberapa potong info: kantor gubernur, Ibu Dra. Nonce, jam satu siang, besok.
Karenanya, di sinilah ia kini --tepat jam satu siang-- di depan pintu tertutup yang di sebelahnya tertempel tulisan besar-besar: Kabid Bapeda. Dra. Nonce Wairata – ada. Tari mengetuk pelan. Dari dalam terdengar sahutan, “Masuk, Tar.” Itu suara Nonce.
Ruangan kerja Nonce nyaman dan luas. Ada AC yang terus menyala yang membuat ruangan ini terus-menerus sejuk. Ada komputer lengkap dengan layar LCD 17 inci terbaru di atas meja kerjanya yang ekstra besar itu. Nonce duduk di kursi yang bisa diputar 360 derajat. Ia tidak sendirian. Ada seorang pria di depannya. Pria itu duduk membelakangi pintu.
Nonce berdiri. “Tar, kenalkan sa pu teman….”
Pria itu berbalik. Tari berdiri diam di depan pintu yang terbuka. Terpaku. Pemuda itu pun tak kalah kagetnya. Katanya tergagap, “Nona….”
“…Fritz. Eh, ko su kenal deng sa pu teman Jawa, kah?” Nonce terheran-heran melihat wajah Fritz yang langsung pucat. Ia seperti baru bersua dengan hantu.
Fritz kehilangan kata-kata. Tari langsung mendapatkan kendali dirinya. “Dialah yang aku ceritakan kemarin. Yang menyelamatkanku.”
Fritz tersipu malu.
Setelah ketegangan dan kekakuan sedikit mencair, kembali Nonce mengemukakan maksudnya. Kata-katanya formal dan tegas, “Sebenarnya apa yang telah terjadi?”
Keduanya berdiri di atas bukit. Tepat di persimpangan tempat Tari berbelok ke kiri lusa lalu. Di bawah terhampar tanjung yang menjulur membelah Lautan Teduh yang bentuknya seperti juluran lidah naga itu. Fritz menunjuk hamparan luas tanah sukunya.
“Tanah suku kitorang, Kayu Batu, dari sana itu. Dari pasir dua. Terus sampai ke seluruh tanjung… sampai ke dok sembilan.”
“Tanah suku kalian luas sekali.”
Fritz mengangguk membenarkan.
“Kitorang terdiri dari empat keluarga besar. Sa dari keluarga besar Puy. Kampung tong yang di sana itu,” Fritz menunjuk beberapa deret rumah di atas permukaan air di ujung terluar dari bagian dalam tanjung.
Penulis: Nunuk Y. Kusmiana
Pemenang I Sayembara Mengarang Cerber Femina 2008


