Tahun 2013 boleh dibilang tahunnya Benedict Cumberbatch (36) di Hollywood. Nama dan wajahnya menghiasi beberapa film yang diprediksi memecahkan box office. Setelah bermain di film Star Trek: Into Darkness yang menyedot lebih dari 413 juta dolar Amerika, Benedict juga akan muncul di seri kedua dan ketiga dari trilogi The Hobbit. Di antara pria-pria Hollywood dengan wajah dan tubuh yang seakan kelewat sempurna, Benedict adalah penyegaran baru yang mencuri perhatian para geeks, wanita maupun pria.
Membela feminis
Kisah detektif brilian Sherlock Holmes sudah ada dalam beberapa versi yang berbeda. Namun, kelihatannya masyarakat Inggris telah memilih mana versi terbaik dari karakter kesayangan mereka itu. Sherlock (2010) yang diperankan Benedict dan Martin Freeman berhasil menyedot sekitar 8 juta penonton selama 2 musim penayangannya. Di Amerika Serikat pun, Sherlock versi terbaru ini disebut-sebut sebagai salah satu serial yang paling brilian. Terpilihnya Benedict untuk bermain dalam Star Trek dan The Hobbit pun berkat Sherlock, yang sejauh ini baru tayang 6 episode, satu musim 3 episode, dengan durasi masing-masing 88 menit.
Belakangan, setelah Star Trek menggebrak box office di seluruh dunia, Benedict baru mengaku bahwa ia bukan termasuk trekkies (sebutan untuk penggemar Star Trek). Namun, setelah melihat aktingnya yang begitu meyakinkan, para trekkies pun kelihatannya tidak keberatan dan malah menyambut Benedict ke dalam dunia mereka.
Beberapa media internasional juga sudah menyebut Benedict sebagai sebuah fenonema cult. Apalagi melihat banyaknya ilustrasi yang didekasikan untuk Benedict yang beredar di internet. Yang lucu, meski ia bersyukur atas perhatian para penggemarnya yang mayoritas kaum hawa, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Pasalnya, para penggemar fanatik ini menyebut diri mereka dengan sebutan yang kurang pantas diucapkan, hingga membuat Benedict pun sedikit tak nyaman.
“Sebutan itu sebetulnya bertentangan dengan feminisme dan merendahkan kaum perempuan. Saya lebih memilih jika mereka dinamakan Cumberpeople,” ungkap Benedict kepada Caitlin Moran dalam sebuah wawancara untuk The Times.
Penggemarnya boleh saja mengelu-elukan pria bermata biru ini. Namun, tak sedikit juga yang memandang ketus. Ada yang menganggap Benedict tak hanya berparas aneh dan tidak menarik, tapi juga arogan. Tuduhan ini didasarkan atas latar belakang pendidikan Benedict di sekolah mewah yang dikabarkan berbiaya 30.000 poundsterling per tahunnya.
"Saya bukan dari kalangan atas. Kedua orang tua saya bekerja keras agar saya mendapat pendidikan terbaik. Bagi saya, kelas atas berarti Anda terlahir dalam keluarga jutawan atau bila Anda anggota keluarga kerajaan,” jelas Benedict.
Menelusuri sejarah keluarga Benedict, kedua orang tuanya, Timothy Carlton dan Wanda Ventham, adalah pelakon televisi terkenal tahun ‘70-an. Namun, jatuh-bangun di dunia seni peran membuat mereka mengarahkan Benedict untuk memiliki profesi lain yang lebih mapan secara finansial.
Masuk ke sekolah asrama khusus laki-laki, Harrow School, Benedict sempat mencicipi ilmu seni di sekolah prestisius yang berlokasi di Middlesex, Inggris, itu. Bertentangan dengan kehendak orang tuanya, yang menginginkan ia menjadi seorang pengacara, Benedict justru jatuh cinta pada seni peran.
"Banyak yang tak tahu, orang tua saya bekerja keras untuk memberikan pendidikan yang istimewa, supaya saya tak seperti mereka memilih jalan hidup sebagai seorang aktor. Sayangnya, seperti anak-anak kebanyakan, saya tidak mendengarkan nasihat mereka,” ujar pria kelahiran 19 Juli 1976 ini.
Benedict yang kala itu berusia 13 tahun memoles bakat aktingnya lewat beragam pementasan drama sekolahnya. Saking cintanya pada akting, setelah lulus sekolah ia memutuskan untuk memperdalam ilmu teater di Universitas Manchester. Di sinilah dedikasi Benedict akhirnya membuahkan hasil. Ia pun mendapat restu penuh dari orang tuanya.
Pada suatu hari usai pementasan sebuah drama, ayah Benedict mengungkapkan sesuatu yang ia ingat selamanya. “Beliau berkata, bakat dan kemampuan saya sebagai aktor lebih baik darinya dan ia tak akan bisa menandinginya. Ia siap mendukung perjalanan karier saya. Sejak itu pula, tiap hari saya bertekad untuk membuat mereka bangga,” papar Benedict, pengisi suara naga Smaug dalam The Hobbit; The Desolation of Smaug yang kini sedang dalam proses akhir produksi.(WHT)


