Trending Topic
Batas Normal

20 Sep 2014


Awalnya mungkin kita menemukan keasyikan saat menggunakan media sosial. Tetapi, taruhannya kemudian makin tinggi ketika kita menambah jumlah waktu untuk terus eksis di dunia maya, dan mengabaikan keinginan untuk melakukan kegiatan atau aktivitas yang lebih penting untuk kehidupan kita.

Begitu pula jika seseorang mengesampingkan hal substansial dalam hidup, tetapi punya banyak waktu untuk ‘mantengin’ media sosial hanya untuk stalking atau memberikan komentar-komentar kurang penting atas status seseorang. “Ketika manusia dewasa berada dalam usia produktif, harusnya dia melakukan sesuatu yang lebih produktif ketimbang menampilkan dirinya terus-menerus di media sosial. Sayang, lho, waktu kita habis hanya untuk  eksis di media sosial,” kritik Nina Armando, dosen Komunikasi FISIP UI.  

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Andrew K. Przybylski dan rekan-rekan (2013), orang-orang yang mengalami ketakutan untuk tidak eksis (fear of missing out alias FOMO) berhubungan erat dengan masalah dalam pemenuhan kebutuhan psikologis dan ketidakpuasan dalam hidup. “FOMO menjadi berbahaya saat seseorang menjadi kehilangan dirinya dalam relasi dengan orang lain. Juga ketika seseorang menjadikan diri orang lain selalu sebagai pembanding, dan banyak berbohong demi tercitra mengalami kesetaraan dengan dirinya,” papar Asep Haerul Gani, psikolog.

Berinteraksi di media sosial menjadi normal ketika aktivitas tersebut memberi lebih banyak manfaat bagi diri, keluarga, dan masyarakat. “Ini dapat diketahui dari lamanya waktu yang digunakan saat memanfaatkan media sosial dibandingkan dengan waktu untuk hidup di dunia nyata, dan apakah fungsi hidup kita berjalan efektif atau terganggu dengan adanya media sosial,” papar Asep.
   
Perlu diingat, kita menggunakan media untuk mencari informasi. Kalau terlalu banyak informasi, kita jadi tidak tahu caranya menyarikan berita yang penting, gamang untuk memilah mana informasi yang tepat atau berguna, mana yang tidak. Ini juga termasuk dalam melek media. “Jangan lupa, kita bisa terjerat UU ITE jika terbukti menyebarkan berita yang salah atau materi yang berbau pornograri, misalnya,” tambah Nina.

Menjadi sosok yang tidak selalu tampil di segala lini media sosial itu normal dan tidak apa-apa. Hidup kita di masa lalu baik-baik saja kan tanpa kehadiran tablet atau ponsel pintar? Mengapa kita sekarang galau tanpa kehadiran benda-benda tersebut? Saat ini banyak orang yang merasa, tanpa ponsel di genggamannya, dunia terasa sepi karena tidak ada yang menyapa via media sosial.  

“Menyedihkan ketika melihat seseorang menyapa dunia maya, tetapi dia belum menyapa anggota keluarganya sendiri. Menyentuh mereka yang secara fisik ada di rumah dan ada di depan dia,” ungkap Nina, prihatin.   

Sudah semestinya  kita tidak hanya sebatas sebagai pengguna, tetapi pengguna yang cerdas dan ‘melek’ media. Kita harus berani menyeleksi berita mana yang akan disampaikan atau abaikan. Apakah informasi yang kita sebarkan itu memberi manfaat kepada orang lain atau tidak. Pertimbangkan juga, apakah itu menyita waktu kita atau tidak.


Apakah demi menjadi yang pertama, kita mau mengabaikan akal sehat dan sensitivitas dengan mem-posting berita-berita yang tidak jelas sumbernya dan sifatnya hanya provokasi? Think before you post. Think before you share.

Rully Larasati



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?