Pengobatan ISPA tergantung pada penyebabnya. Sebagian besar kasus ISPA ringan seperti influenza, menurut dr. Pompini, disebabkan oleh virus. Untuk penyembuhannya, pasien biasanya hanya disarankan istirahat cukup, banyak minum air putih untuk membantu mengencerkan dahak, dan makan makanan bergizi. “Proses pemulihannya tergantung dari daya tahan tubuh pasien,” ujar dr. Pompini AgustinaS, SpP dari RS Eka Hospital BSD. Namun, jika penyebabnya bakteri, maka dokter akan memberikan antibiotik yang harus dikonsumsi selama 5-7 hari. Dokter Pompini mengingatkan, sering terjadi salah kaprah di masyarakat. “Antibiotik bukanlah obat ‘dewa’ yang bisa menyembuhkan semua infeksi. Apabila penyebab infeksinya adalah virus, maka tak bisa dilawan oleh antibiotik,” kata dr. Pompini.
Meski begitu, ISPA karena virus bukan berarti tidak butuh pengobatan. “Awal penyakit ISPA dimulai dari gejala ringan, seperti batuk-pilek, demam. Jika dibiarkan, mungkin gejala ini menjadi berat yang ditandai dengan kesulitan bernapas dan jika makin berat dapat mengakibatkan kegagalan pernapasan,” jelas dr. Pompini.
“ISPA yang menjadi berat ditandai oleh pneumonia (radang parenkim paru) luas, gagal napas, hingga menyebabkan gagal multiorgan. Hal inilah yang juga bisa menimbulkan kematian pada ISPA,” lanjutnya. Angka kematian akibat ISPA yang berat masih tinggi terutama pada anak-anak, orang lanjut usia, orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh, dan orang dengan penyakit kronis. Kematian disebabkan penderita datang berobat sudah dalam keadaan parah. “Padahal, ISPA jika segera ditangani bisa sembuh,” kata dr. Pompini.
ISPA bisa menular lewat udara yang di dalamnya terdapat percik renik mikroorganisme (droplet transmission) dari penderita yang batuk atau bersin. “Itu sebabnya, jika sedang terkena ISPA, Anda wajib mengenakan masker atau menutup hidung dan mulut dengan tisu atau dengan lengan bagian dalam bila tidak ada masker atau tisu, agar tak menulari orang di sekitarnya,” saran dr. Pompini.
Selain itu, cairan (sekret) yang mengandung virus atau bakteri itu juga bisa menulari orang lain ketika mereka menyentuhnya lalu memegang atau mengusap hidung sehingga mikroorganisme masuk ke tubuh kita lewat hidung. Karena itu, biasakan mencuci tangan dan menjaga kebersihan.
Meski demikian, ISPA tidak menular lewat air liur. “Jadi, makan atau minum dari perkakas yang sama yang sudah dicuci tak menyebabkan transmisi virus,” jelas dr. Pompini. ISPA bisa dicegah dengan antara lain menjaga asupan gizi yang baik, vaksinasi influenza, menjaga kebersihan tangan dengan selalu mencuci tangan sehabis dari tempat umum, mengenakan masker di tempat yang sangat ramai dan padat, dan sebisa mungkin menghindari kontak dengan penderita ISPA. (f)


