Celebrity
Anesia Tania, Menggali Potensi

17 Apr 2013

Sejenak Anesia Tania (23) terpaku, ketika di tengah keriuhan sorak-sorai penonton malam final Wajah Femina 2012, nomor pesertanya diumumkan sebagai pemenang. Ia pun melangkah menuju ke tengah panggung untuk menerima piala dengan perasaan berkecamuk. “Saat itu saya kaget banget. Saya bahkan tak mendengar ketika nama saya disebut dan tak tahu menang untuk kategori apa. Tapi, saya bangga setelah tahu saya terpilih sebagai pemenang untuk kategori Best Acting,” tuturnya, sumringah. 

Sekalipun sempat merasa tak yakin memiliki cukup kemampuan di bidang modeling, keinginan Anesia untuk menjadi bagian dari keluarga besar Wajah Femina tak pernah surut. “Setahu saya, Wajah Femina tidak sekadar mencari bakat-bakat model semata, melainkan juga menggali potensi terpendam lainnya dari masing-masing finalis. Itu sebabnya, banyak nama  besar, seperti Lola Amaria atau Isyana Bagoes Oka, yang berkibar di dunia mereka masing-masing setelah tak lagi menjadi model. Sukses mereka berawal dari Wajah Femina,” kata Anesia, yang mengaku baru pertama kali mengikuti kompetisi modeling. 

Anesia berharap, dengan mengikuti Wajah Femina, ia bisa menemukan bakat yang masih tersembunyi yang bisa ia kembangkan. Karena, pada dasarnya, ia merasa sebagai orang yang selalu ingin tahu dan suka belajar. “Hidup hanya sekali. Saya ingin merasakan dunia lain di luar dunia yang saya jalani selama ini, yaitu kesehatan,” tutur Anesia, yang tumbuh di tengah keluarga besar yang mayoritas berprofesi dokter. 

Ia mengaku sangat excited mempelajari banyak ilmu baru yang berharga saat masa karantina. Salah satunya, ilmu cara berbicara di depan banyak orang. “Keahlian itu sangat penting karena dokter sering harus presentasi ilmiah atau penyuluhan kepada masyarakat. Bila menguasai teknik komunikasi yang efektif, tentu pesan dapat diterima dengan baik,” kata Anesia, senang. 

Anesia juga menyukai kelas ‘boosting confidence’ di mana dalam sesi itu masing-masing finalis diajak menelusuri sisi lemah diri mereka dan diberi tahu bagaimana cara menyikapinya. “Kami benar-benar ‘dipermak’ habis-habisan selama 7 hari masa karantina itu untuk pada akhirnya siap menunjukkan penampilan terbaik kami di malam final,” cerita Anesia, antusias. 

Ia terkenang bagaimana ia selalu dimarahi karena cara berjalan atau sikapnya saat difoto dinilai masih salah dan tampak kaku. Tapi, ia tak pernah menyerah dan terus berlatih keras. Ia yakin, seiring waktu, keluwesannya di depan kamera akan terbentuk. 
Selain ilmu baru, ternyata ada hal baru lain yang baru diketahui Anesia pada saat karantina, yaitu sikap bersahabat dan kompak sesama finalis. Sebelumnya, ia berpikir bahwa para model itu makannya sedikit, bitchy, dan selalu jaga image. Ternyata, semua itu tidak benar. “Di luar perkiraan, sesama finalis justru saling membantu, terkadang suka bercanda dan makannya… banyak!” kata penyuka traveling dan extreme sport ini, tergelak.

Ia terkenang saat Astrini Putri sibuk membantu mencatoki rambutnya, Aisya Adiputri yang memberi tahu angle terbaik wajahnya, atau Dianna Suriani yang dengan sabar mengajari cara jalan yang benar. “Saya kagum karena kami tidak saling menjatuhkan, sebaliknya justru saling bantu. Kami tidak sekadar ikut kompetisi, menang, lalu hilang. Sejak masa karantina, WF telah jadi satu keluarga besar dan menjadi bagian dari keluarga besar femina,” kata Anesia, penuh haru. 

REYNETTE FAUSTO
FOTO: DENNIE RAMON



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?