Menurut Aviliani, SE, M.Si (53), berkat pendidikan yang makin tinggi dan kesempatan yang kian terbuka untuk menduduki posisi tinggi, kiprah wanita semakin luas. Menjabat sebagai komisaris salah satu bank BUMN, Aviliani melihat kekuatan wanita di posisi tinggi ada pada kemampuan mereka beradaptasi dengan perubahan.
“Sebagai pemimpin, wanita sering kali mendapat panggilan untuk memberikan sesuatu yang lebih pada komunitas di sekitarnya. Secara tidak sadar, mereka ikut membantu pertumbuhan ekonomi bangsa,” ujarnya.
Adaptif dan Terbuka
Menduduki posisi komisaris di Bank Mandiri Tbk., Aviliani memiliki tanggung jawab yang begitu besar. Bukan hanya soal membuat berbagai kebijakan yang selaras dengan iklim ekonomi, sambil menghadapi persaingan dalam dunia perbankan yang begitu ketat. Ekonom dari Indonesian Development of Economics and Finance ini juga harus menjadi seorang pemimpin berpendirian di kalangan direksi yang lain --yang mayoritas kaum pria-- dan di hadapan ribuan karyawannya.
Gaya leadership apa yang Anda ikuti?
Saya mengikuti bentuk adaptive leadership. Salah satu contohnya seperti ini, saya bekerja di dua lingkungan, sebagai direksi dan karyawan. Keduanya berasal dari generasi yang berbeda. Di kalangan karyawan, sebagian besar adalah gen Y. Mereka dilahirkan dengan kehidupan yang sudah lebih baik dibanding generasi orang tuanya. Jadi, ada yang tidak enak sedikit, mereka mudah saja keluar dari perusahaan.
Perbedaan generasi ini harus diakui dan ditanggapi dengan cara yang tepat. Sebab, kalau kalangan direksi menutup mata, mereka juga tidak bisa memiliki karyawan yang berpotensi dan setia pada perusahaan. Akibatnya, kemajuan perusahaan dan karyawannya sendiri juga menjadi terhambat.
Apa tuntutan yang dihadapi oleh pemimpin masa kini?
Sekarang eranya sudah berubah, pemimpin dituntut untuk harus terbuka. Terutama di BUMN, banyak sekali yang mengawasi. Jadi, sekarang tidak bisa lagi seorang pemimpin berbuat semaunya. Ini perubahan yang signifikan dan tidak semua pemimpin bisa menanggapinya dengan baik.
Sejauh mana seorang pemimpin harus terbuka?
Tiap perusahaan memiliki culture yang harus dibentuk dengan terbuka. Supaya karyawan pada tiap level bisa bekerja dengan ekspektasi yang sesuai. Ada harapan bahwa tiap prestasi akan ada reward-nya. Ini harus diciptakan. Orang tidak bisa hanya kerja saja tanpa ada aspirasi apa-apa.
Di antara direksi sendiri juga harus ada keterbukaan komunikasi. Kalau terjadi gap di sini akan menciptakan konflik yang bisa dimanfaatkan pihak lain, termasuk karyawan.
Seperti apa karakter para manajer di tempat kerja Anda?
Saya sering pergi ke daerah dan mendapati banyak wanita yang menduduki posisi sebagai kepala cabang. Ternyata, di daerah tidak sekonservatif yang kita bayangkan. Tapi memang, secara objektif penempatan posisi di sini bukan persoalan gender, tapi prestasi.
Apa saja kekuatan mereka?
Bank membutuhkan orang yang tekun dan teliti soal angka. Tapi, selain urusan hitung-menghitung, mereka juga memiliki human touch yang bagus. Tidak menjadi bahan pertimbangan untuk menempatkan orang itu apakah dia pria atau wanita.
Zaman sudah berubah. Wanita tak lagi melulu ditempatkan sebagai frontliner. Mereka mampu diberi tanggung jawab yang lebih besar. Apalagi, akhir-akhir ini saya melihat bahwa yang menonjol dan berprestasi di lingkungan akademis justru kebanyakan mahasiswi. Dengan perubahan yang mendasar ini dan kesempatan yang mulai sama, ternyata wanita juga unggul. Kalau mereka tidak mendapat kesempatan, kan sayang sekali.(PRIMARITA S. SMITA)


