Celebrity
Adaptif dan Terbuka

23 Feb 2015


Menurut Aviliani, SE, M.Si (53), berkat pendidikan yang  makin tinggi dan kesempatan yang kian terbuka untuk  menduduki posisi tinggi, kiprah wanita semakin luas. Menjabat sebagai komisaris salah satu bank BUMN, Aviliani melihat kekuatan wanita di posisi tinggi ada pada kemampuan mereka beradaptasi dengan perubahan.
“Sebagai pemimpin, wanita sering kali mendapat panggilan untuk memberikan sesuatu yang lebih pada komunitas di sekitarnya. Secara tidak sadar, mereka ikut  membantu  pertumbuhan  ekonomi  bangsa,” ujarnya.

Adaptif dan Terbuka

Menduduki posisi komisaris di Bank Mandiri Tbk., Aviliani memiliki tanggung jawab yang  begitu besar. Bukan hanya soal membuat berbagai kebijakan yang selaras dengan iklim ekonomi, sambil menghadapi persaingan dalam dunia perbankan yang begitu ketat. Ekonom dari Indonesian Development of Economics and Finance ini juga  harus  menjadi seorang  pemimpin berpendirian di kalangan direksi  yang lain --yang mayoritas kaum pria-- dan di hadapan ribuan karyawannya.

Gaya leadership apa yang Anda ikuti?

Saya mengikuti bentuk adaptive leadership. Salah satu contohnya seperti ini, saya bekerja di dua lingkungan, sebagai direksi dan karyawan. Keduanya berasal dari generasi  yang berbeda. Di kalangan karyawan, sebagian besar adalah gen Y. Mereka dilahirkan dengan kehidupan yang sudah lebih baik dibanding generasi orang tuanya. Jadi, ada yang tidak enak sedikit, mereka mudah saja keluar dari perusahaan.
    Perbedaan generasi ini harus diakui dan ditanggapi dengan cara yang tepat. Sebab, kalau kalangan direksi menutup mata, mereka juga tidak bisa memiliki karyawan  yang  berpotensi dan setia pada perusahaan. Akibatnya, kemajuan  perusahaan dan karyawannya  sendiri  juga  menjadi  terhambat.

Apa tuntutan yang dihadapi oleh pemimpin masa kini?

Sekarang eranya sudah berubah, pemimpin dituntut untuk harus terbuka. Terutama di BUMN, banyak  sekali yang mengawasi. Jadi, sekarang tidak bisa lagi seorang  pemimpin berbuat semaunya. Ini perubahan yang  signifikan dan tidak semua  pemimpin  bisa  menanggapinya  dengan baik.

Sejauh mana seorang pemimpin harus terbuka?

Tiap perusahaan memiliki culture yang harus dibentuk dengan terbuka. Supaya karyawan pada  tiap level bisa bekerja dengan ekspektasi yang sesuai. Ada harapan bahwa  tiap prestasi akan ada reward-nya. Ini harus diciptakan. Orang tidak bisa hanya kerja saja tanpa ada aspirasi apa-apa.
Di antara direksi sendiri juga harus ada keterbukaan komunikasi. Kalau terjadi gap di sini akan menciptakan konflik yang bisa dimanfaatkan pihak lain, termasuk karyawan.

Seperti apa karakter para manajer di tempat kerja Anda?

Saya sering pergi ke daerah dan mendapati banyak wanita yang menduduki posisi sebagai kepala cabang. Ternyata, di daerah tidak sekonservatif yang kita bayangkan. Tapi memang, secara objektif penempatan posisi di sini bukan persoalan gender, tapi prestasi.

Apa saja kekuatan mereka?

Bank membutuhkan orang yang tekun dan teliti soal angka. Tapi, selain urusan hitung-menghitung, mereka juga memiliki human touch yang bagus. Tidak menjadi bahan pertimbangan untuk menempatkan orang itu apakah dia pria atau wanita.
Zaman sudah berubah. Wanita tak lagi melulu ditempatkan sebagai frontliner. Mereka mampu diberi tanggung jawab yang lebih besar. Apalagi, akhir-akhir ini saya melihat bahwa yang menonjol dan berprestasi di lingkungan akademis justru kebanyakan mahasiswi. Dengan perubahan yang mendasar ini dan kesempatan yang mulai sama, ternyata wanita juga unggul. Kalau mereka tidak mendapat kesempatan, kan sayang sekali.(PRIMARITA S. SMITA)


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?