Fiction
Adam [6]

26 May 2012



<<<  Cerita Sebelumnya

“Ehm…Adam ingat obrolan kita di sore hari waktu itu? Ibu pernah bilang kalau seorang anak yang baik harus bisa memaafkan kesalahan orang lain. Kamu memaafkan Mama, berarti kamu sudah memberikan kado ulangtahun yang paling bagus. Tidak dijual di toko mana pun, tapi harganya luar biasa mahal. Kamu mengerti, Adam?”

“Jadi Adam harus memaafkan Mama, kalau ingin memberikan kado yang bagus?”

“Iya, Ibu jamin tak ada kado lain yang sebagus ini. Setuju?”

“Adam mau, Bu! Besok pagi-pagi, Adam akan memberikan kado itu buat Mama. Sudah ya, Bu. Terimakasih!” lalu pembicaraan ditutupnya.

Ah, anak itu! Sungguh manis kalau ia masih mengingat ulangtahun mamanya, mengingat apa yang sudah dilakukan sang mama pada Adam.

Esok petangnya waktu aku terkantuk-kantuk menemani Mama yang masih lelap di ranjang, ponselku berbunyi. Deringnya yang lumayan kencang nyaris membuatku jatuh dari kursi. Sebuah nomor yang belum aku kenal muncul di monitor.

“Ibu Agnes? Tolong, tolong Adam, Bu! Tolong Adam!”

“Siapa ini?”

“Nenek Adam. Tolong Bu, Adam…dibawa ke kantor polisi! Tolong, cuma Ibu yang bisa menolong Adam!”

Aku tercekat tak bisa berkata beberapa detik. “Tenang Nek, tenang dulu. Saya tidak tahu ada masalah apa. Saya sedang cuti mengajar beberapa minggu, jadi saya tidak tahu tentang persoalan murid-murid. Nah, sekarang Nenek ceritakan apa yang terjadi,” aku mencoba tetap tenang sambil menyudut di koridor kamar rumah sakit. Isak tangis nenek itu membuatku bingung dan sulit menangkap kata-katanya.

“Adam…Adam…..dia ditangkap polisi…..”

Klik. Baterei ponselku habis dan hubungan pun terputus. Aku terbengong menatap ponsel di genggamanku. Adam, kenapa lagi kamu? Kenapa harus bawa-bawa urusan polisi sekarang? Memukul orang? Menabrak pejalan kaki dengan sepedamu? Melempari rumah tetangga dengan batu? Mencuri uang? Berbagai tuduhan buruk bersliweran di kepalaku.

Ketika kakakku muncul menggantikan tugas jaga sore, aku langsung melarikan motorku secepat mungkin menemui Adam. Rumahnya sepi, tak ada yang membukakan pintu. Dari salah seorang tetangga, akhirnya aku mendapat alamat kantor polisi yang menahan Adam. Jadi ini memang tidak main-main.

Setelah sibuk mencari dan bertanya ke sana ke mari, akhirnya aku menemukan banyak orang bergerombol di salah satu ruangan di kantor polisi itu. Kulihat ayah dan oma Adam bersandar lemas di dinding, beberapa orang yang mungkin familinya tampak memeluk dan menghibur mereka. Ketika melihatku, Nenek Adam langsung menarik tanganku dan kembali menangis.

“Tolong Bu, hanya Ibu yang bisa menolong Adam. Dari tadi dia tidak mau bicara pada polisi. Dia bilang hanya mau bicara pada Ibu saja. Sudah lima jam dia ditahan, belum makan dan belum mandi. Kasihan Adam Bu, tolong dia!”

“Iya, tapi kenapa? Apa yang sudah dilakukannya?”

Nenek hanya meratap dan menggeleng-gelengkan kepala. Melihat mataku yang bertanya-tanya, ayahnya yang bermuka kusut berkata berat,”Tuduhan berat.”

“Apa? Mencuri, memukul, berkelahi, tuduhan seberat apa?”

Ayah Adam berulang kali menghela napas sebelum akhirnya menjawab, “Pembunuhan.”

Aku tak bisa mencegah mulutku untuk berteriak. Jantungku terasa lepas dari tempatnya dan merosot ke bawah. Kedua lututku saling beradu, dan cepat aku berpegangan pada tiang kayu di dekatku, sebelum aku benar-benar jatuh.

“Tidak mungkin! Adam tidak mungkin mem…”

“Polisi sedang memeriksanya sekarang,” ayah Adam menuntun tanganku untuk duduk di bangku.

“Tapi bagaimana mungkin? Pembunuhan…ya ampun, siapa .… siapa korbannya?”

“Mamanya.”

“Apa?”

“Adam dituduh menganiaya mamanya sendiri sampai tewas.”

Aku terkulai lemas. Tak percaya dengan pendengaranku. Tak percaya dengan penglihatanku. Kenapa bisa begini jadinya? Lantas aku teringat percakapan terakhir kami di sore itu, ketika Adam mengamuk. Masih terngiang ucapannya yang begitu marah,”Adam mesti bunuh mereka semua! Perempuan murah, mesti ditembak! Dor, dor, dor! Semuanya orang jahat, nggak sayang sama Adam! Adam mau bunuh orang jahat itu, bunuh semua!”

Selama beberapa waktu kami saling membisu, tak ada yang berniat membuka percakapan. Ayah Adam terus mengepulkan asap rokok sambil berjalan mondar-mandir, berulangkali ia meremas kepalanya. Aku menyeret kakiku yang terasa berat mendekat ke arahnya. “Bagaimana kejadiannya, Pak?”

Bibirnya bergetar sedikit, lalu menggeleng. “Saya…saya tidak tahu persis. Pukul tujuh pagi saya sudah keluar rumah, anak-anak masih tidur. Tiba-tiba sore tadi saya ditelepon untuk kabar buruk ini.”

Sepanjang malam itu kami berada di kantor polisi tanpa bisa berbuat apa-apa. Penyidikan masih berlangsung dan tidak satu orang pun diperbolehkan untuk menemui Adam, termasuk keluarganya. Dua hari berlalu dan keadaannya masih tetap sama, kami tak bisa melihat keadaan Adam. Polisi hanya mengatakan kalau ia sehat-sehat saja.

Pukul sembilan malam, ketika aku baru sampai rumah dari kantor polisi, telepon rumahku berdering nyaring. “Halo? Halo?” sambutku terengah-engah.

“Dengan Ibu Agnes? Anda diminta datang ke kantor polisi sekarang untuk kepentingan penyidikan kasus Adam Prasojo.”

Tanpa penjelasan lebih lanjut telepon itu ditutup dari seberang. Tanpa menghiraukan keletihan dan rasa kantuk yang mendera, aku kembali bergegas ke luar rumah.

Karena Adam berkeras hanya mau bicara denganku, akhirnya polisi penyidik memutuskan untuk mengizinkan aku menemuinya. Rupanya para petugas itu benar-benar dibikin mabuk, karena Adam sama sekali tak mau membeberkan kejadian yang sesungguhnya.

“Mungkin Ibu Guru bisa membantu. Dia sama sekali tidak bisa diajak kerjasama. Mulutnya terkunci. Kalaupun dia bicara, kata-katanya ngawur dan tidak kami mengerti. Baru tadi anak itu bilang mau bertemu dengan Ibu Guru, dan berjanji akan menceritakannya kalau Ibu hadir bersama kami,” bisik seorang petugas yang mendampingiku.

Di dalam ruang pemeriksaan, ada empat petugas mengelilingi meja persegi. Dengan tangan berkeringat dingin, aku menarik kursi dan duduk di sebelah Adam. Seperti tak terjadi apa-apa, dia hanya mengangguk ketika melihatku datang.

“Adam, apa yang sudah kamu lakukan?” tanyaku sambil memegang tangannya yang memainkan ujung kaos yang sudah kumal. Bercak-bercak darah yang warnanya sudah menghitam memenuhi bagian dada dan perutnya. Sesaat aku merasa mual ingin muntah.

Melihat kedekilan tubuh dan kebingungan wajahnya, aku langsung jatuh kasihan. Dia masih di bawah umur, dan sekarang dia harus dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang pasti memusingkan otaknya. Sudah semestinya Adam didampingi orang dewasa dalam proses interogasinya.

Seorang petugas di sebelah kananku berdehem-dehem lalu memberi tanda agar aku mencoba bicara lagi. Berkali-kali aku harus mengulang pertanyaan yang sama agar konsentrasinya bisa berpindah kepadaku. Tidak heran selama lima jam polisi hampir kehilangan akal dan kesabaran untuk menanyainya. Dengan rasa frustrasi yang amat dalam aku memaksanya dengan suara keras,“Lihat Ibu, Adam! Lihat semua orang yang sedang menunggu kamu di luar ruangan ini! Kami semua cemas dan sedih, tidakkah kamu tahu? Kenapa kamu terus diam dan tidak mau menceritakan kejadian yang sesungguhnya? Kalau kamu tidak cerita, polisi tidak bisa tahu apakah kamu salah atau benar. Kamu bisa dipenjara, Adam! Ibu tidak mau kamu masuk penjara! Ibu tidak mau!” suaraku bergetar menahan tangis yang sudah akan tumpah. Adam melihat usahaku yang menggigit bibir kuat-kuat.

“Ibu menyuruh Adam untuk memaafkan Mama, kan? Ya sudah, Adam sudah memaafkan Mama.”

“Bagaimana cara kamu memaafkan Mama?” tanyaku memandang lekat matanya yang mulai gelisah dan menggelepar aneh. Sejenak dia membuang muka. “Adam ke rumah Om Johan tadi pagi, mau bilang kalau Adam sudah memaafkan Mama.”

Mendengar jawaban itu, semua petugas penyidik langsung menegakkan badan dan memasang kuping lebih cermat lagi. Semua sudah siap dengan pulpen dan notesnya.

“Tahu dari mana rumah Om Johan?”

“Adam pernah menguntit Mama waktu pulang dari rumah.”

“Terus?”

Diam lagi. Adam membuang napas melalui mulut dan meraih gelas minumnya. Aku mencoba menahan diri untuk mulai bersikap santai, sedikit acuh tak acuh. Aku sudah mengenal sifatnya, kadang-kadang Adam langsung menarik diri kalau melihat lawan bicaranya terlalu ingin tahu. Beberapa saat aku mendiamkannya saja, melihat Adam seperti sedang melamun.

“Waktu sampai di rumah Om Johan, Adam ketemu Mama? Terus kamu bilang apa?”

Diam lagi, tak terdengar jawaban. Aku melihat mata Adam mulai mengerjap. Dia menangis.

“Adam bawa kue cokelat buat Mama, Bu. Hari ini ulang tahun Mama. Sengaja Adam mampir ke toko, beli kue kesenangan Mama. Di hari ulang tahun ini, Adam mau bilang kalau Adam sayang sama Mama dan memaafkan kesalahannya. Tapi…tapi waktu Adam ketuk pintu, tidak ada yang buka. Adam coba buka sendiri, terus Adam panggil-panggil. Karena tidak ada yang menyahut, Adam terus naik ke loteng. Tapi…tapi….di situ…” kerongkongan Adam mendadak seperti tercekik. Airmatanya makin menetes, dan napasnya berubah menjadi dengusan. Seperti orang yang sedang marah besar.

“Adam naik ke loteng, terus lihat ada pintu yang terbuka. Adam mengintip sebentar. Mama lagi teriak-teriak sambil tiduran sama Om Johan. Jijik, perempuan murahan. Cih!” Adam meludah ke lantai dan mengagetkanku yang terpana dengan ceritanya.

Petugas yang bertugas mengetik berita acara di sudut ruangan pun terpaku. Tiba-tiba Adam berteriak. Dia mulai menceracau, bicara tak jelas ujung pangkalnya. Kedengarannya seperti sedang memaki-maki. Suaranya kadang meninggi, melengking, lalu bergumam dengan suara berat. Persis seperti ketika dia mengamuk di kelas dulu. Kedua tangannya memukul-mukul meja seperti sedang menabuh gendang, sebelah kakinya bergoyang-goyang. Rasanya aku ingin kabur saja dari sini cepat-cepat, lalu terbang menjemput Rena untuk menggantikanku duduk di sebelah Adam.

“Ibu Guru tahu? Dia itu perempuan brengsek! Jauh-jauh Adam datang bawa kue supaya dia senang, tapi yang Adam lihat di sana itu bikin Adam gila!” Adam menggebrak meja dengan sekuat tenaga. Refleks aku bangkit dari kursi dan mundur dengan panik. Dua dari petugas penyidik juga sudah berdiri dan siap mengambil ancang-ancang untuk mengambil senjata di pinggang mereka. Adam membenamkan kepala di antara kedua tangannya yang sudah basah oleh keringat, lalu terisak-isak.

“Adam lihat Om Johan turun ke bawah, terus Adam masuk ke kamar. Mama masih ada di ranjang, tidak pakai apa-apa. Waktu dia lihat Adam datang, dia kaget lalu memaki-maki. Adam bilang kalau hari ini ulangtahun Mama. Tapi perempuan itu tidak mau menerima salam dari Adam, apalagi memeluk. Dia cuma tertawa terus mengusir Adam pergi. Terus Adam bilang kalau Adam mau memaafkan Mama asal Mama pulang lagi ke rumah yang dulu. Tapi… tapi… Mama terus tertawa, tawanya tambah keras. Mama menertawakan Adam, Bu! Tidak boleh ada yang menertawakan Adam! Tidak boleh ada yang menolak Adam! Tidak boleh ada yang mengusir Adam! Tidak boleh! Adam marah! Adam… Adam ambil gunting yang ada di meja, Adam tusuk. Adam tusuk terus, sampai dia tidak tertawa lagi! Tusuk terus, sampai dia tidak tertawa lagi! Tusuk terus, tusuk lagi, lagi, terus... tusuk…. “

Teriakan Adam makin lama makin tinggi melengking, dia histeris. Polisi mulai memborgol tangannya, tapi dia terus meronta. Mulutnya tak bisa ditutup, terus menjerit. Jeritannya mengiringi putaran bintang-bintang yang beterbangan di kepalaku. Entah dari mana datangnya, aku mulai mencium amis darah dan mendengar denting gunting yang ditusuk-tusuk. Cres, cres, cres. Erat-erat kututup telinga, tidak kuat mendengar ocehannya lagi. Makin lama tubuhku terasa ringan, melayang lalu ambruk. Tak mendengar apa-apa lagi. Tak ingat apa-apa lagi. (TAMAT)


Penulis: Ruddy Raharjo


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?