<<< Cerita Sebelumnya
Adam datang untuk memaafkan mamanya, tapi demi melihat kelakuan buruk wanita itu, ia pun gelap mata.
Karena kamu ternyata cukup menyenangkan untuk diajak berteman,” jawabku setelah bisa memunculkan kembali rasa tenang. Jawaban itu aku comot asal saja dari film televisi yang aku tonton semalam.
“Bohong! Ibu bohong!” cetusnya sambil memandangku.
“Sungguh!”
“Tidak ada yang mau ngomong sama Adam. Bukan cuma teman-teman di kelas, Papa juga tidak mau ngomong sama Adam. Pagi pergi pulang malam, tidak pernah ngomong sama Adam.”
“Adam tidak pernah tanya sama Papa?”
“Takut Papa marah. Kalau marah, Papa biasanya main pukul,” jawabnya mengenaskan. Kini aku tahu dari mana bekas-bekas membiru di tubuhnya berasal.
“Adam harus mengerti, Papa kan harus bekerja mencari uang untuk Adam dan adik Hans. Jadi tidak punya banyak waktu untuk kumpul-kumpul di rumah. Tapi Hari Sabtu dan Minggu Papa pasti tidak bekerja kan? Eh, ngomong-ngomong soal hari Sabtu, tanggal 16 ini Sally ulangtahun lho. Kamu datang ya?” ajakku.
“Adam kan nggak diundang, Bu. Cuma Adam yang nggak diundang,” jawabnya datar. Tangannya sibuk mengorek rumput, entah mencari apa.
“Tidak apa-apa, Sally kan temanmu. Datang saja, atau kita pergi sama-sama?”
“Malas ah! Apalagi ada Andrew, huuu…”
“Lho, kok malas? Pasti Sally cantik sekali waktu ulangtahun besok, seperti Mamamu. Senang ya punya Mama yang cantik?” aku mulai memancing reaksinya dengan berdebar. Adam berlagak seolah tak mendengar, padahal aku yakin suaraku cukup jelas.
“Mamamu cantik sekali, Adam. Ibu pernah lihat waktu ke rumahmu itu. Wah…kalau Ibu Agnes punya wajah secantik itu, mungkin banyak yang menawari jadi bintang film ya?”
Adam mengangkat bahu, katanya,”Percuma cantik kalau jadi perempuan murahan!”
Aku kaget mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya. “Adam, masa menyebut Mama sendiri begitu? Kamu tahu apa arti omonganmu barusan?” tegurku dengan kuping memerah. “Itu bukan kata-kata yang sopan untuk diucapkan anak sekolah!”
“Tahu! Perempuan murahan! Semua orang juga tahu kalau Mama jadi perempuan seperti itu! Semua orang tahu!” serunya kalap sambil berdiri, membuatku makin terhenyak. Rasanya aku sudah salah melangkah sore ini.
“Ibu Agnes jangan coba-coba membela Mama! Perempuan murahan yang cuma bisa tidur dan makan. Seperti binatang! Perempuan kotor! Perempuan brengsek…” aku membiarkan Adam berkata-kata sepuasnya, caci maki dari anak yang merasa terbuang. Beberapa kali dia mengulang kata yang sama menghujat mamanya. Aku bingung harus bagaimana, memarahinya atau mendengarkannya saja.
“Sally dan Mama sama saja,” desis Adam sambil berjalan mondar-mandir di depanku. “Sally, mukanya cantik seperti Mama. Adam sayang sama Sally, dari pertama Adam lihat dia. Setiap hari Adam ingat dia, pengen lihat dia terus. Adam pernah cium bedaknya, wangi sekali seperti bedak Mama. Adam tambah suka sama Sally. Adam sering kasih permen, kasih bolpen yang bagus, kasih diary, tapi Sally nggak pernah bilang terimakasih. Adam lalu kasih surat, Adam bilang kalau mau jadi pacarnya. Adam sudah bilang surat itu jangan dikasih tahu siapa-siapa, tapi…Sally kasih lihat sama Marta dan Andrew, terus suratnya dibuang. Diremas-remas di depan mata Adam! Surat itu Adam buat dengan susah payah, dua hari Adam tulis. Tapi disobek-sobek, dibuang begitu saja ke tempat sampah! Mereka ketawa-ketawa, nyebut Adam si Banci. Sebalnya lagi, di depan mata Adam, Sally sengaja pegang-pegang tangan Andrew, terus bisik-bisik. Sally pacaran sama Andrew. Itu yang bikin Adam kesal! Adam marah, nggak bisa terima! Nggak bisa terima!!!” teriaknya kencang.
Sorot matanya mengandung ancaman yang berbahaya, seperti bom yang siap meledak setiap saat. Bulu kudukku berdiri sementara otakku menyusun kata-kata dan mencari cara untuk menurunkan emosinya.
“Adam mesti bunuh mereka semua! Perempuan murah, mesti ditembak! Dor, dor, dor! Semuanya orang jahat, nggak sayang sama Adam! Adam mau bunuh orang jahat itu, bunuh semua!” dengan suara serak Adam berteriak, terus menyerukan keinginannya untuk membunuh. Airmatanya turun makin lama makin deras. Ia tersedu-sedu sambil menutup wajahnya.
Kedua kakiku mendadak lemas dan gemetar. Lidahku kelu, otakku buntu. Kalau saja Rena ada di sini, tentu dia tahu harus berbuat apa. Aku sibuk menyalahkan diri kenapa aku begitu lancang memancingnya dengan pertanyaan berbahaya, padahal aku tahu luka batin yang dialaminya tidak sembarangan. Aku takut Adam menjadi hilang kendali dan balik menyerangku. Tapi menyaksikan ia menangis begitu rupa sungguh membuatku tak tega. Entah kekuatan apa yang mendorongku untuk mendekatinya, padahal aku sendiri tengah dilanda ketakutan.
Perlahan dan ragu-ragu aku mengusap kepalanya lalu memeluk tubuhnya yang basah oleh keringat dan air mata. Adam makin mengencangkan tangisannya dan ya Tuhan, ia meraung seperti singa yang luka. Raungannya sangat memedihkan hatiku, membuatku tidak tahan dan guliran airmataku jatuh tanpa bisa kucegah. Kami bertangisan bersama entah untuk berapa lama. Sudah berapa lama anak ini tidak pernah dipeluk? Sudah berapa lama ia menunggu kata-kata sayang di telinganya? Sudah berapa lama ia terkurung dalam kesepian yang membuatnya sakit? Orangtua yang seharusnya melindungi dan menyayangi malah meneciptakan neraka baginya Sudah berapa lama ia tersiksa oleh dendam dan kebencian? Punya Papa yang senang memukul, punya Mama tapi entah di mana dan tidak peduli lagi pada anak-anaknya. Adam, sudah berapa lama neraka itu ada?
Di sela-sela tangisku, aku berbisik,”Jangan takut, Adam. Ada Tuhan yang sayang sama Adam, Tuhan yang membuat Adam lahir. Tuhan juga yang akan memeliharamu. Dia sayang sekali sama kamu lebih dari siapa pun. Tidak perduli kamu bodoh atau pintar, bagus atau jelek, kaya atau miskin. Tuhan sayang sama Adam.”
Adam terguguk di bahuku dan makin mempererat pelukannya. Raungannya yang tidak dibuat-buat membuatku menghayati betapa anak ini miskin cinta dan perhatian. Sepertinya anak ini tak memiliki seorang pun yang mau menerimanya dengan tangan terbuka.
Sambil membelai kepalanya dengan tulus, aku berkata hati-hati dengan suara gemetar,”Menangislah Adam, menangislah….supaya hatimu lapang. Ibu tahu Adam sakit hati dan sedih, pasti berat rasanya. Tapi Tuhan mengajarkan kita untuk saling memaafkan dan mengasihi. Adam mau kan memaafkan Papa dan Mama? Mungkin mereka memang berbuat salah dan tidak sayang sama Adam, tapi pelan-pelan Adam harus belajar mengampuni Papa, juga Mama. Adam mau?”
Adam menggelengkan kepala keras-keras,”Tidak mau! Mama sudah bikin malu Papa! Mama juga tidak pernah sayang sama Adam dan Hans. Waktu Adam sakit, dia malah pergi dengan Om Johan ke Puncak. Waktu itu Adam hampir mati di rumah sakit Bu, tapi dia malah pergi!”
Aku mengangkat wajah Adam dan menghadapkannya ke mukaku. “Ibu tahu, Adam. Mama memang sulit dimaafkan. Tapi dengar kata Ibu…memaafkan orang baik itu gampang sekali Adam, tapi memaafkan orang yang jahat itu yang sulit. Tidak semua orang bisa melakukannya. Kalau Adam bisa belajar untuk memaafkan Mama, berarti Adam sangat hebat. Mengerti?”
Adam terdiam lama lalu perlahan menjauh dariku. Dia duduk di atas batu dan terus diam di situ sampai senja makin datang, menandakan kami harus beranjak pulang. Sepanjang jalan menuju rumahnya, Adam terus menunduk sesekali menendang batu kerikil di jalan dan tidak berbicara lagi padaku sampai kami tiba di depan pagar.
“Ibu akan berdoa untuk Adam. Ingat pesan Ibu, berbuat baik kepada orang yang sudah berbuat jahat kepada kita, seperti menaruh bara di atas kepalanya. Berjanjilah untuk mencobanya, Adam. Ya, kamu mau berjanji pada Ibu? Kalau kamu ingin terbebas dari rasa sakit yang selama ini ada, sekarang saatnya. Waktu kamu memaafkan Mama, hatimu akan bebas merdeka. Kalau kamu butuh teman bicara, kamu tahu harus mencari Ibu ke mana kan?” aku kembali memeluknya.
Ketika aku bersiap pulang, Adam bertanya dengan lirih,”Kenapa Ibu baik sekali, mau jadi teman Adam?”
“Karena kamu cukup menyenangkan untuk dijadikan teman,” jawabku kali ini dengan suara bulat dan pasti. Tidak asal-asalan lagi. Adam tersenyum mendengar jawaban yang sama itu dan melihat senyumnya, membuatku percaya Adam akan belajar menepati janjinya.
Esok harinya berita buruk menghadangku. Kali ini serangan stroke Mama menghantam tiada ampun. Sudah hampir lima tahun ia berbaring di ranjang, tak bisa lagi berkata-kata dan makan seperti biasa. Pagi itu, kakakku berteriak karena mendadak Mama tidak sadarkan diri. Ketika dokter tiba, ia segera memutuskan Mama harus masuk ruang operasi hari ini juga. Cairan di otaknya harus segera disedot dan itu berarti kepala Mama harus dibedah.
Dengan perasaan kecut dan berat hati aku minta izin untuk cuti mengajar beberapa minggu. Tidak mungkin membiarkan Kakak seorang diri mengurus Mama di rumah sakit.
Di akhir minggu ketiga cutiku, ketika suatu siang aku sedang mendapat giliran jaga, tiba-tiba ponselku berbunyi.
“Ibu Agnes? Ini Adam.”
“Oh hai, Adam! Ada apa?”
“Mamanya Ibu Agnes sakit ya? Sudah sembuh belum?”
“Belum, sekarang masih dirawat dokter. Ada apa, Adam?” tanyaku lagi.
“Ehm…anu, Bu, tapi Ibu jangan marah ya? Kalau ada yang ulangtahun, bagusnya dikasih kado apa ya, Bu?”
“Siapa dulu yang ulangtahun? Perempuan atau laki-laki, masih kecil atau sudah tua?”
“Ehm…perempuan dan belum tua.”
“Yah kalau perempuan, biasanya paling suka dikasih baju atau alat kecantikan. Siapa sih, bikin Ibu penasaran saja?”
Hening sejenak. “Adam, halo?”
“Mama Adam, Bu. Besok Mama ulangtahun.”
Kini aku yang ganti terdiam sambil menahan napas. “Oh, Mama ya? Bagus sekali kamu ingat ulangtahun Mama, Adam. Kamu memang anak yang berbakti.”
“Bagusnya dikasih apa ya, Bu? Kalau baju atau lipstik sih, Mama sudah punya banyak sekali. Hadiah yang lain saja, Bu!” desak Adam bersemangat dan membuat aku berpikir lebih keras.
“Ah, Ibu tahu ada satu hadiah yang pasti Adam suka.”
“Mama suka ngga?”
“Ouw pasti!”
“Apaan sih, Bu?”
Penulis: Ruddy Raharjo


