Fiction
Adam [1]

26 May 2012



Mereka langsung terdiam ketika pintu kubuka dari luar. Separuh isi kelas terbirit-birit kembali ke bangkunya. Sementara yang lain berusaha menampilkan sikap manis dengan melipat tangan di atas meja, lalu kembali mengerjakan soal latihan dari buku. Beberapa bangku sudah bergeser dari tempatnya semula.

“Baru sebentar saja Ibu keluar, kalian sudah membuat pasar di sini! Teriakan kalian terdengar sampai ke ruang guru,” tegurku sambil mengedarkan pandang ke penjuru kelas. Seperti biasa kalau ditinggal guru, kelas yang alim berubah menjadi riuh seperti pesta. Dan seperti biasa kalau sudah dimarahi, 36 kepala itu menunduk dalam keheningan. Pura-pura menyesal.

Aku membatalkan niat mengambil kapur ketika lamat-lamat terdengar isak tertahan dari arah tengah. “Sally, kamu kenapa?” kuhampiri bangkunya. Rambutnya acak-acakan, karet kepangnya copot sebelah. Berulangkali kutanya, ia tetap menunduk dan menggeleng.

“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kamu menangis terus? Kevin, coba ceritakan!” aku menoleh memanggil sang ketua kelas. Dengan ragu-ragu dan tetap menunduk Kevin menjawab,”Sally berantem…terus dipukul, Bu.”

“Siapa yang memukul?”

Kali ini hampir semua mulut berbicara kencang, ”Adam, Bu!” dan suara-suara ribut bermunculan lagi. Setengah memaksa kuangkat wajah Sally, dan astaga …. ada garis memanjang di pipinya, seperti digores sesuatu yang tajam. Lengan atas kirinya juga lebam memerah. Dengan sudut mata kulirik Adam yang duduk dua bangku di belakang Sally. Anak itu sedang mengusap-usap lensa kacamata sambil menggigit-gigit bibirnya. Kira-kira apa yang sudah dilakukan Sally, sehingga ia terpancing emosinya dan langsung main hajar? Setahuku Sally masuk dalam kriteria anak manis. Ia juga cukup rajin dan tidak pernah membuat masalah serius, kecuali kebiasaan cerewetnya. Ia seringkali harus ditegur lantaran suka mengobrol di dalam kelas.

“Dan kalian hanya sibuk menyoraki saja, begitu? Tidak berniat sama sekali memisahkan dua teman yang berkelahi? Keterlaluan! Sudah kelas 5 tapi kelakuan kalian sama seperti anak TK. Sudah, sudah… diam! Sekarang kalian lanjutkan mengerjakan soal. Waktu Ibu datang nanti, semua sudah harus mengumpulkan hasilnya di meja Ibu. Dengar ya, jangan bikin ribut lagi! Adam, Sally, Kevin, Marta, ikut Ibu ke kantor!” perintahku itu langsung disambut dengungan penghuni kelas seperti lebah.

Adam memandangku dengan air muka yang seolah berkata bukan aku yang salah. Aku balas menatapnya dan berkata singkat, ”Sekarang!” Tak perlu menunggu lama, Adam keluar dari bangku dan berjalan diiringi cemoohan teman-teman sekelasnya. Sedikitpun tak ada rasa canggung atau takut seperti murid yang lain jika diperintahkan menghadapku di kantor.

Sebagai anak yang sudah tiga bulan ada di kelas baru, kuperhatikan ia bukan saja sulit bersosialisasi, tapi juga sering berlaku aneh. Dalam beberapa hari ia betah bengong di kelas, tak suka bicara. Tapi hari berikutnya, celoteh-celoteh usil sering dilontarkan Adam. Gaya bicara dan cara berjalannya sering diledek karena agak kewanita-wanitaan. Otaknya lambat dalam menerima pelajaran dan jawabannya sering ngawur kalau ditanya. Itu sebabnya murid-muridku tidak suka mengajaknya bermain. “Orangnya aneh, Bu! Bolot, nggak nyambung kalau diajak ngomong. Mana asyik gaul sama dia!” rata-rata itu komentar mereka waktu kutanya.

Di ruang kantor guru, beberapa rekan yang tidak mengajar segera menyingkir dengan penuh pengertian, ketika melihat rombongan kecilku datang.

“Adam lagi?” bisik Ibu Andina di telingaku, ketika kami berpapasan. Aku tersenyum kecil,”Maaf ya, bukan mengusir. Ada insiden kecil di kelas.”

“Biasa, namanya juga anak-anak. Yang sabar lho, Bu Agnes!”

Aku segera menarik empat bangku sambil berharap masalahnya tidak seserius yang aku takutkan. Gawat kalau kejadian hari ini didengar Kepala Sekolah, apalagi ayah Sally masuk dalam jajaran pengurus yayasan.

“Ceritakan pada Ibu selengkapnya, Sally. Apa masalahnya sehingga kamu berkelahi dengan Adam?” cecarku langsung ketika keempat murid itu sudah duduk berjejer. Sally terbata-bata bercerita kalau ia sedang bergurau dengan Marta teman sebangkunya sambil mengerjakan soal latihan, ketika tiba-tiba ia diserang Adam.

“Sally dijambak, ditonjok tangannya. Padahal Sally sudah bilang ampun, tapi dia malah lari, terus ambil penggaris yang ujungnya lancip Bu, terus dia tusuk pipi Sally pakai itu. Adam bilang: Perempuan murahan, perempuan murahan gitu, Bu.…” lalu deraian tangisnya terdengar lagi. Cerita Marta kurang lebih sama dan Kevin tidak bisa memastikan sebab-sebabnya, karena kejadiannya begitu cepat. Aku berpaling kepada Adam yang mulai tampak tidak nyaman ada di ruangan. Pantatnya bergeser-geser menimbulkan suara sedikit berisik.

“Sekarang giliran kamu, Adam. Kenapa kamu pukul Sally?”

Pelan Adam membuka mulutnya sedikit, tapi tidak untuk bicara. Dia hanya menganga seperti orang keheranan. Lima menit kutunggu reaksinya.

“Apa kamu tidak suka Sally ngobrol dengan teman sebangkunya? Ayo Adam, kamu harus menceritakannya kepada Ibu. Kamu sudah memukul dan melukai teman perempuanmu, itu bukan perbuatan yang baik. Kalau Sally punya salah, beritahu kepada Ibu sekarang. Ibu akan bantu untuk menyelesaikannya. Memangnya kamu pikir kamu itu siapa? Main pukul seenaknya. Ini sekolah Adam, tempat murid-murid belajar supaya jadi pintar. Bukan tempat orang yang tidak tahu sopan santun, kamu mengerti? Nah, sekarang jangan diam saja begitu. Cepat ceritakan kepada Ibu, supaya kalian bisa segera kembali ke kelas lagi. Ayo!” desakku menahan amarah yang mulai menyembul. Yang ditanya malah melongo dengan tatapan yang membingungkan, yang aku sendiri tidak yakin apa artinya. Mungkin...mungkin seperti tatapan orang yang merasa sakit.

Berulangkali dibujuk dan dipaksa, ia tetap bertahan dengan sikap diamnya, yang sangat menyebalkan. Ah, sudah satu jam lebih aku bertarik urat leher dan akhirnya luapan kejengkelanku sulit dikontrol lagi. Kusuruh Sally ditemani dua temannya berobat ke ruang UKS sebelum aku berteriak marah kepada Adam.

“Jadi kamu tetap tidak mau cerita juga? Ibu tidak mau jadi orang bodoh yang seharian di sini duduk menanti jawaban, membuang waktu berjam-jam dan menelantarkan teman-temanmu yang ingin belajar! Kalau ini pilihan kamu Adam, baik! Ibu akan laporkan kejadian ini kepada Kepala Sekolah. Hari ini juga orangtuamu akan dipanggil dan kamu tahu apa akibatnya bagi anak yang sering cari keributan di sekolah? Kalau kamu mau cerita, mungkin Ibu bisa membantu supaya kamu tidak dikeluarkan dari sekolah ini. Apa kamu tidak capek gonta-ganti sekolah terus, Adam? Apa tidak kasihan pada Papa dan Mama? Dan apa kamu juga tidak tahu kalau tindakan kamu itu sudah melukai orang lain? Kalau orangtua Sally tidak mau terima, bagaimana? Kamu sudah menyusahkan banyak orang! Ayo bicara, jangan diam saja! Kamu kan bukan patung!” bentakku dengan nada tinggi. Sesaat anak itu bergidik kaget melihatku marah, tapi selanjutnya ya ampun! Dia tetap diam dan kembali memilin ujung celana pendeknya.

Aku memijit keningku yang terus berdenyut dan bolak-balik menghela napas. Hendak kuapakan anak ini? Aku sudah kehilangan akal. Bencana besar terbayang di kepalaku, orangtua Sally akan datang ke sini dan menuntut kepada pihak sekolah. Dan buntutnya bisa diduga, aku akan disalahkan. Sungguh suatu catatan yang merusak riwayat pekerjaanku, karena aku belum lama mengajar di sini. Kalau gara-gara masalah ini aku dipecat bagaimana? Padahal aku senang bisa mengajar di sini.

Aduh, kenapa aku meninggalkan kelas saat mengajar? Pasti mereka tidak mau mendengar alasan sakit perut yang memaksaku tertahan selama 9 menit di kamar kecil. Dan sakit yang datang tiba-tiba itu membuatku tidak sempat menghubungi guru piket, agar mengawasi kelasku. Dan di sekolah ini, itu merupakan pelanggaran besar. Gawat!

Tengah aku berpikir bagaimana cara menjelaskan duduk masalahnya kepada Kepala Sekolah, Adam mencondongkan badan ke depan dan bicara pelan,”Sally itu perempuan murahan, lho. Ibu Agnes tahu nggak?”

Bagai disengat kelabang aku ikut mencondongkan badan,”Apa?”

Adam seperti merasa senang, ia tersenyum. “Perempuan murahan memang harus dipukul, soalnya nggak sayang sama Adam sih… Sally itu seperti Mama.”

Aku menggeleng makin tak mengerti dan kembali membujuknya untuk bercerita lebih rinci, tapi aksi mogok bicara dilakukannya lagi, sampai bel istirahat berbunyi. Akhirnya aku menyerah lalu berkata, “Besok pukul 9 pagi orangtuamu harus bertemu dengan Ibu. Papa dan Mama. Dengar Adam? Pukul 9, papa dan mamamu harus bertemu Ibu di sini,” aku mengulang perintah.

Sepanjang hari itu Adam hampir tidak mengerjakan apa pun tugas pelajaran di kelas. Bolak-balik dia juga harus menghadap guru BP, untuk apalagi kalau bukan untuk menjelaskan alasan kenakalannya hari ini. Kalau Sally bukan anak pengurus yayasan sekolah yang disegani, mungkin cara penanganannya tidak seheboh ini.

Sepuluh menit menjelang bel pulang, Adam masuk ke kelas dengan muka kusut masai. Sebagian kemeja seragamnya tidak berada di tempatnya, berjuntai keluar dari ikat pinggang celana. Saat melintas melewati mejaku, sempat kulihat setetes dua tetes airmata masih menggantung di pelupuk matanya.

Selama tiga bulan Adam hadir di kelas, aku sudah memanggil orangtuanya dua kali dan selalu ayahnya yang datang. Dua kali alasan pemanggilan itu untuk kelakuan Adam yang mengacaukan suasana belajar di kelas. Ulahnya bukan cuma diperagakan saat jam mengajarku saja, tapi beberapa guru lain juga sempat berang dengan sikapnya. Mereka mendefinisikan Adam sebagai anak nakal yang kurang ajar. Monster cilik, kata Pak Ali, guru Matematika.

Pernah sekali waktu ketika Pak Ali sedang bertanya jawab soal, tiba-tiba Adam berteriak-teriak seperti orang kerasukan. Kali lain saat suasana hening karena sedang ulangan, anak itu membuat kaget seisi kelas dengan gebrakan mejanya yang sekuat tenaga. Untung jantung Pak Ali masih kuat.

Hari berikutnya, ia berulah dengan sama sekali tidak sudi membuka mulut untuk bicara sepatah pun. Ditanya guru agar menjawab soal, ia juga tidak mau. Seperti bumi yang kehilangan matahari, mukanya tiba-tiba bisa berubah menjadi mendung kelam. Tapi siapa menyangka, kalau besoknya dia bisa berubah menjadi mahluk yang menyebalkan, karena cerewetnya tak tertandingi. Kalimat yang sama bisa diulang pengucapannya sepuluh kali, membuat kuping gatal.

Yang paling mengganggu, kalau Adam sedang datang bawelnya. Ia suka sekali melontarkan komentar yang tidak perlu di saat guru sedang asyik menerangkan pelajaran. Mungkin menurut dia itu lucu, tapi guru yang bersangkutan jadi marah dibuatnya. Beberapa murid perempuan juga mengeluhkan gangguan yang mereka terima, karena Adam kerap menyentuh pipi atau meremas tangan mereka dengan sengaja. Dia juga senang bermain korek api yang dinyalakan di bawah bangku untuk menakut-nakuti anak perempuan. Rupanya Adam menikmati sekali saat teman-teman perempuannya menjerit ketakutan. Makin menjerit makin besarlah semangat untuk meneruskan kejahilannya.

Pernah satu kali aku harus menerima telepon di kantor guru di saat aku sedang mengajar. Berpikir bahwa hanya meninggalkan kelas sebentar, aku lalai tidak menghubungi guru piket untuk menitipkan kelasku.

Entah diselundupkan dengan cara bagaimana, seseorang melepaskan dua tikus besar yang langsung berkeliaran menghampiri anak-anak. Tentu saja suasana jadi riuh dengan jerit ketakutan. Begitu masuk ke kelas, aku menjerit kuat-kuat melihat tikus berbuntut panjang memanjat kaki mejaku. Di tengah hiruk-pikuk itu baru kusadari seorang murid perempuan menggelosor lemas di bangku depan. Aline pingsan setelah seekor tikus lari berkeliling di bawah mejanya. Setelah mengancam tidak akan mengizinkan seisi kelas pulang sampai subuh, barulah dengan takut-takut ada tangan teracung mengaku sebagai pemilik dua tikus itu: tangan Adam!

Sebagai guru kelasnya, aku benar-benar mengurut dada. Catatan kejelekannya mengalahkan rekor yang sudah-sudah. Padahal baru tiga bulan, bagaimana kalau setahun? Bisa kena darah tinggi semua guru di sekolah ini.

Lewat pembicaraan dengan ayahnya, kuharap aku bisa mengorek tentang latar belakang Adam, karena kelakuannya yang sangat minta ampun itu. Ternyata ia sudah dua kali tinggal kelas dan gonta-ganti sekolah. Yang tertulis di buku laporan sekolahnya terdahulu, hanyalah bahwa Adam sulit mengikuti pelajaran di sekolah yang bersangkutan.

Aku memang bukan lulusan fakultas psikologi, tapi dugaanku kuat kalau Adam mengalami gangguan mental. Di usianya yang ke-13, Adam tidak menunjukkan kemajuan berpikir seperti pra remaja umumnya. Adam tetap berpola pikir seperti anak kelas 5 yang berumur 11 tahun.

Tapi dalam pertemuan kami, sang ayah kukuh berkeyakinan Adam hanya bermasalah dalam hal belajar dan kurang suka bergaul. Berulang kali aku membeberkan ulah Adam yang sangat tidak bisa ditolerir, tapi berulang kali juga ayahnya tidak bergeming. “Mungkin itu salah satu cara Adam agar bisa diterima teman-temannya di sini, Bu. Saya pikir, kenakalannya masih dalam taraf wajar kan? Kalau dia berniat untuk membakar sekolah atau mencabuli gurunya, nah itu baru serius! Beri kesempatan lagi saja, Bu Agnes. Saya jamin, ini tidak berlangsung lama. Saya akan mengajarnya bersikap lebih baik,” sanggahnya pasti.

Dengan terpaksa aku hanya bisa mengangguk-angguk, enggan membantah lagi. Percuma bicara dengan orangtua yang tidak terbuka seperti dia. Sejujurnya aku berharap apa yang dilakukan Adam memang cuma kenakalan biasa. Tapi aku merasa ada sesuatu yang lebih mengganggu, yang berbeda dalam dirinya dibandingkan murid-muridku yang lain.

Kadang aku melihatnya sebagai anak yang kuat sekali rasa mindernya dan begitu menarik diri, seperti kura-kura yang terus menyimpan kepala dalam rumahnya. Tapi kadang juga Adam tampil sebagai anak yang terlalu ingin cari perhatian. Belum lagi keanehan dengan cara bicara dan gerak jalannya yang kemayu, padahal Adam bertubuh besar. Sangat besar untuk ukuran anak seumurnya malah. Tingginya saja hampir 168 cm, melebihi tinggi ibu gurunya. Insiden di kelas pagi ini membuatku makin pasti dan berani bertaruh, ada sesuatu yang ganjil dalam diri Adam. Sayangnya aku belum tahu, apa itu.

Menjelang sore setelah mengajar untuk jam terakhirku di kelas siang, aku memberanikan diri menghadap Kepala Sekolah. Seperti sudah kuduga, Pak Suryo bereaksi sangat berang.

“Anda tahu anak itu bermasalah, tapi kenapa Anda meninggalkan kelas seenaknya? Tidak ingat kejadian bulan lalu?” gelegar suaranya sangat menyalahkanku.

“Saya sudah jelaskan berkali-kali, Pak Suryo, dan sudah pula minta maaf. Sakit perut itu datangnya mendadak, dan sangat membuat konsentrasi mengajar saya buyar. Akibatnya saya jadi alpa menghubungi guru piket….tapi cerita ini benar dan tidak saya karang-karang. Bukan maksud saya untuk mengelak dari tanggungjawab, Pak Suryo. Bagaimana lagi saya harus menjelaskannya?” keringat dingin terus membasahi telapak tanganku. Aku berdoa dalam hati beliau dapat mengerti alasanku kali ini.

“Anda tahu Sally itu anak kesayangan Pak Handoko? Kalau lukanya serius sehingga membutuhkan jahitan, bagaimana coba? Apa tidak ribut orangtuanya?” Pak Suryo mengepalkan tangan sambil menggeram. Aku menunduk merasa bersalah. Tapi, aku kan bukan paranormal yang sanggup mengetahui kejadian itu sebelumnya lalu mencegah agar tidak terjadi?

“Saya…saya bersedia menerima sanksi, Pak. Ini memang salah saya,” aku berusaha menegarkan suara, padahal dalam hati aku merintih. Tuhan, kenapa anak bandel itu tidak ditaruh di kelas Ibu Mala atau kelas Pak Johanes saja? Mereka guru yang sudah senior, pasti bisa mengatasi tingkah Adam. Kenapa ia harus masuk ke kelasku, Tuhan? Kenapa ia harus menciptakan banyak masalah bagiku? Dan sekarang aku duduk seperti pesakitan di depan atasanku, kena teguran dan terancam oleh sanksi.

Suara Mbak Ida di interkom memotong pembicaraan kami. “Pak Handoko di saluran 3, Pak.” Jantungku serasa berhenti berdegup. Pak Suryo menghela napas, ”Kita lanjutkan nanti,” katanya sambil memberi tanda agar aku keluar ruangan.

Dengan gontai aku menyusuri lorong-lorong kelas. Mungkin Pak Suryo sekarang sedang dicaci-maki lewat telepon. Beliau dicaci maki untuk sesuatu yang bukan kesalahannya. Kalau memang aku harus mundur dari pekerjaanku sekarang, apa boleh buat. Kejadian tadi pagi tak bisa diulang lagi.

Hampir pukul enam sore dan aku masih bertahan di kelas yang sudah sepi, menunggu Pak Suryo memanggilku lagi. Sambil menghabiskan waktu aku merapikan isi kelas, mengosongkan lemari dari benda-benda tak terpakai. Aku segera menarik keranjang sampah yang hanya berisi sedikit kertas di dasarnya. Mataku tertumbuk pada amplop biru muda bergambarkan dua hati. Pinggirannya dihiasi ornamen pita dan bunga mawar. Sayangnya remasan tangan sudah membuat amplop manis itu menjadi kusut masai.



Penulis: Ruddy Raharjo


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?