“Saya belum makan. Baru sempat mi dengan telur saja.” Ungkapan umum yang ‘terprogram’ di pola pikir orang Indonesia. Sistem pencernaan ikut-ikutan ‘beradaptasi’ dengan ini sehingga kenyang tak pernah sepenuhnya jika belum bertemu nasi.
Pemikiran dari artikel The Great Food Crisis of 2011 dari majalah Foreign Policy versi online karya peneliti lingkungan Lester R. Brown, menyebut bahwa dunia sedang dihadapkan pada isu ketersediaan pangan. Ketergantungan pada satu komoditas pangan tertentu menjadi pendorong ini, beriringan dengan pertambahan penduduk dunia sekitar 80 juta jiwa per tahun, perubahan iklim, konversi lahan pertanian, dan krisis air.
Anda, satu dari sekitar 250 juta penduduk di Indonesia, harus berhenti menutup mata. Sebelum krisis pangan menghampiri, perkecil fanatisme terhadap nasi dengan menantang diri mencoba karbohidrat lokal seunik sagu, umbi-umbian, hingga labu sekalipun.
1 ORANG = 130 KG BERAS
Tradisi makan nasi sebagai makanan utama terbentuk sekitar tahun 1980-an, saat program Swasembada Beras diperkenalkan di seluruh Indonesia. Wilayah yang sebelumnya mengonsumsi jagung, ketela, atau sagu, ‘dipaksa’ mengonsumsi nasi walau di tempat tersebut tidak memungkinkan menjadi tempat tumbuh padi.
Kebijakan pangan masa lalu itu secara tidak langsung membuat masyarakat Indonesia meninggalkan kearifan lokal daerah dan beralih ke beras sebagai sumber pangan pokok. Karena minimnya keberagaman karbohidrat, beberapa makanan lokal turut menghilang secara perlahan.
“Bahkan ada makanan yang sudah tidak dikenal lagi oleh generasi sekarang dikarenakan pola makan yang ikut berubah,” buka Puji Sumedi, Staf Agro Ekosistem di Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI).
Walau program Swasembada Beras tak lagi akrab di telinga, efek jangka panjangnya mulai terasa dalam dua dekade ini. Lahan pertanian tidak sanggup memenuhi permintaan pasar akan persediaan beras yang angkanya terus melambung. Beberapa solusi di antaranya, mendatangkan beras dari negara tetangga dan meluncurkan beras miskin (raskin) di masyarakat.
Ketergantungan beras menimbulkan lonjakan konsumsi. Walhasil, kita kedatangan beras dari negara tetangga dan meluncur beras miskin di masyarakat. Selain itu, tingkat ketergantungan pada beras dalam pola konsumsi pangan penduduk Indonesia adalah salah satu penyebab masih rendahnya kualitas konsumsi pangan nasional yang belum beragam dan bergizi seimbang. “Dalam satu tahun, rata-rata konsumsi beras di Indonesia mencapai 130 kg per kapita/orang. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dari konsumsi rata-rata dunia, di mana rata-rata konsumsi beras dunia hanya 60 kg per kapita/tahun,” tambah Puji.
Saat ini pemerintah sedang berupaya menekan konsumsi beras sebesar 1,5 % per tahun, sesuai yang dimandatkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 22 Tahun 2009. Dalam Perpres tersebut disebutkan dua sasaran dari upaya diversifikasi pangan. Pertama, memasyarakatkan pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman. Kedua, mengurangi konsumsi beras/kapita 1,5% per tahun.
Perpres ini kemudian dijabarkan kembali dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 43 Tahun 2009 tentang Percepatan Konsumsi Pangan. “Regulasi yang kemudian dijabarkan kembali dalam road map Diversifikasi Pangan 2011-2015,” tambah Ir/ Sri Sulihanti, M.Sc, di Kementerian Pertanian.
ARIA NOVITASARI


