Nama Maudy Mikha Maria Tambayong (19) memang telah diperhitungkan di dunia sinetron tanah air. Namun, tak banyak yang tahu bila ia sebenarnya pernah membenci sinetron. Baginya saat itu, bermain di sinetron kejar tayang hanya akan menyita waktu dan membuatnya kehilangan kehidupan sosialnya. Sebaliknya, Mikha justru ingin lebih serius di dunia musik, mengikuti jejak sang paman, Harvey Malaiholo.Namun, Deva Tambayong, ibu yang sekaligus manajer Mikha, punya pemikiran lain. Ia saat itu malah menyarankan Mikha untuk mengambil tawaran bermain sinetron. “Ibu bilang, saya enggak boleh menolak berkat Tuhan. Siapa tahu, sinetron justru membuka jalan bagi saya untuk bisa jadi penyanyi,” kisah Mikha, yang akhirnya menuruti saran ibunya.
Tak tanggung-tanggung, pertama kali membintangi sinetron Kepompong bersama Derby Romero, nama Mikha langsung melejit. Ketakutannya akan kehilangan masa remaja pun tak terbukti. Sebaliknya, menurut Mikha, sinetron justru memperluas pergaulan karena ia mendapat teman-teman baru yang menyenangkan.
“Hubungan antara pemain, sutradara, dan kru di lokasi syuting sudah seperti keluarga sendiri. Asalkan bisa bagi waktu, bermain sinetron tidak menyita waktu. Buktinya, saat itu syuting sama sekali tak mengganggu sekolah,” kata wanita yang hobi membaca buku bergenre biografi ini.
Tak lama usai membintangi Kepompong, Mikha langsung mendapat tawaran membintangi sinetron Nada Cinta, sekaligus berkesempatan menyanyikan salah satu soundtrack-nya, Cinta Pertama. Terbukti, prediksi sang ibu benar-benar terwujud. “Cita-cita terbesar saya menjadi penyanyi akhirnya kesampaian juga. Lagu Cinta Pertama menuai sukses sampai akhirnya dibuatkan album khusus soundtrack sinetron,” kenang wanita yang menyukai musik R&B ini, bangga.
Di album itu pula Mikha akhirnya bisa berduet dengan Harvey, sosok yang selalu menjadi panutannya dalam bermusik, di single Satu yang Pasti. Bisa berduet dengan sang paman, Mikha merasa sangat puas dan bangga. Baginya, Harvey tak hanya sosok ‘ayah kedua’ yang selalu mendukung penuh kariernya, tapi juga sebagai mahaguru yang selalu memberikan masukan soal musik kepadanya.
“Beliau memang role model saya. Sebagai musikus, jam terbangnya sudah tinggi. Makanya, mumpung ada kesempatan, saya ingin menggali ilmu musik sebanyak-banyaknya dari Om Harvey,” papar Mikha, penuh semangat. Pamannya itu pula yang menyarankan Mikha belajar piano klasik sejak masih berusia 4 tahun.
Kemampuan memainkan alat musik itu pun belakangan menjadi kebanggaan tersendiri bagi Mikha, terutama sebagai pendukung utama saat ia bernyanyi. “Karena pernah belajar piano klasik selama sepuluh tahun, saya jadi memahami teknik bermusik dan bisa membaca not balok. Plus, bisa mengiringi diri sendiri saat bernyanyi,” ungkap penggemar berat penyanyi Robin Thicke ini, bangga.
Menjadi penyanyi dan memiliki album sendiri memang menjadi cita-cita terbesar Mikha. Impiannya, di album berikutnya nanti, ia tak hanya bernyanyi, tapi juga menulis lagu dan bermain piano. “Saya suka musik klasik, R&B, dan orkestra. Makanya, jika ada kesempatan, saya ingin menggabungkan ketiga genre musik tersebut, dengan melibatkan musikus hebat seperti Andi Rianto dan Yovie Widianto di album saya nanti,” tutup Mikha, penuh harap.
Rizka Azizah
Foto: Dok. Femina


