
Foto: Freepik
Hasil tes PCR negatif ternyata bukan jaminan seorang penyintas COVID-19 telah bebas sepenuhnya dari gejala penyakit tersebut. Meski telah dinyatakan sembuh, tak sedikit orang yang masih mengalami sisa gejala selama beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan setelahnya. Gejala yang terus berlanjut inilah yang dinamakan dengan long COVID.
Beberapa keluhan yang kerap muncul, antara lain sakit kepala, batuk, cepat lelah, sesak napas, dan kehilangan penciuman (anosmia). Survei terbaru yang dilakukan di Inggris mengidentifikasi 203 gejala long COVID lain, yang meliputi diare, gatal-gatal, telinga berdenging, perubahan siklus menstruasi, dan disfungsi seksual. Ada pula yang mengalami brain fog (linglung dan sulit berkonsentrasi), masalah kontrol kandung kemih, herpes, gangguan ingatan jangka pendek, dan halusinasi visual.
Sesering apa gejala lanjutan ini terjadi pasca COVID-19? Berdasarkan penelitian yang dilakukan di University of Leicester, Inggris, ada sekitar 70% dari 1.000 responden penyintas COVID-19 yang mengaku masih mengalami gejala lanjutan setelah lima bulan sembuh. Mayoritas di antaranya adalah wanita.
Penelitian ini sejalan dengan hasil studi sebelumnya di Prancis, yang menyatakan bahwa jumlah wanita yang menderita long COVID adalah empat kali lipat lebih banyak dibandingkan pria. Riset lain yang dilakukan University of Glasgow, Skotlandia, menyatakan bahwa perbandingan jumlah penderita long COVID pada wanita dan pria adalah lima banding satu.
Hasil studi di University of Leicester dan University of Glasgow sama-sama menyebutkan bahwa rentang usia dominan pada wanita penderita long COVID adalah antara 40 - 60 tahun. Bahkan, wanita di bawah 50 tahun juga dinyatakan punya risiko tujuh kali lebih tinggi mengalami sesak napas dan dua kali lebih tinggi mengalami gejala kelelahan dibandingkan pria, dalam rentang waktu tujuh bulan setelah sembuh.
Apa sebab long COVID lebih sering menyerang wanita dibandingkan pria? Meski hingga kini belum ada jawaban pasti, peneliti menemukan kadar CRP (C-Reactive Protein) dalam darah yang lebih tinggi daripada nilai normal pada penyintas COVID-19 yang sembuh dalam lima bulan. CRP adalah protein yang terkait dengan kondisi peradangan di dalam tubuh.
Menurut peneliti, tingginya kadar CRP tersebut kemungkinan terjadi akibat respons imunitas tubuh yang terlalu aktif dalam memerangi virus penyebab COVID-19. Selama ini, respons imunitas tubuh yang berlebihan (autoimun) biasa ditemukan pada wanita berusia paruh baya.
Karena itu, meski masih harus diteliti lebih lanjut, peneliti meyakini bahwa salah satu langkah yang bisa diambil untuk menghindari long COVID dengan vaksinasi. Dengan vaksinasi, respons imunitas tubuh akan lebih terkendali, sehingga tidak lagi menunjukkan reaksi berlebihan dalam memerangi virus.
Bertambah satu lagi alasan untuk divaksin, kan? Yuk, segera vaksin! (f)
Baca Juga:
Indonesia Butuh Dosis Ketiga Vaksin sebagai Perlindungan Ekstra?
Vaksinasi COVID-19 untuk Anak Usia 12-17 Tahun, Amankah?
7 Fakta Vaksin COVID-19 Pfizer dari Efikasi hingga Keamanannya
Topic
#longcovid, #covid-19, #autoimun, #pandemi


