Trending Topic
Stereotipe Gender Masih Hantui Industri Perfilman dan Periklanan

7 Oct 2019


Dok. Istimewa



Bukan cerita baru bahwa diskriminasi dan stereotipe gender masih terjadi di berbagai lini kehidupan manusia. Pekerjaan, pendidikan hingga rumah tangga. Menjadi hal yang biasa mendengar bahwa wanita masih dianggap masyarakat kelas dua.
 
Setidaknya anggapan ini dibuktikan dari laporan terbaru bertajuk Rewrite Her Story yang dirilis oleh Plan International dan Geena Davis Institute on Gender in Media (GDIGM). Hasil dari analisa terhadap 56 film terlaris di 20 negara dan 108 iklan di 5 negara selama tahun 2018 menunjukkan bahwa stereotype gender masih menghantui industri perfilman dan periklanan dunia.
 
Ini dia temuannya :
 
  • 94 persen responden berpendapat bahwa perempuan pemimpin tidak mendapat perlakukan sebaik laki-laki pemimpin, hanya karena gendernya.
 
  • Tokoh perempuan dalam film empat kali lebih sering ditampilkan berbusana terbuka dibanding laki-laki (30% banding 7%) dan hampir 2x lebih sering tampak separuh telanjang.
 
  • Perempuan juga dianggap lebih efektif menjadi pemimpin di keluarga dan komunitas (81%) dibanding laki-laki (62%).
 
  •  Sementara, laki-laki digambarkan lebih efektif menjadi pemimpin di tingkat nasional (57%) dibanding perempuan (44%).
 
  • Karakter pemimpin dalam film juga masih didominasi oleh pria (42%) dibanding wanita (27%).
 
  • Jumlah aktor, frekuensi kemunculan dan porsi bicaranya juga 2X lebih banyak dibanding aktris.
 
  • Dari 250 film terlaris 2018 di Amerika, hanya 20% perempuan yang menempati posisi sutradara, penulis, produser, editor, dan sinematografer.
 
  • Hanya sekitar 2 dari 250 film tersebut yang mempekerjakan setidaknya 10 perempuan dalam satu produksi film yang sama.
 
  • Sekitar 185 film lainnya mempekerjakan lebih dari 10 laki-laki untuk posisi kunci di atas.
 
 
Di Indonesia, hasil polling Plan Indonesia dan U-Report terhadap 2.968 anak laki-laki dan perempuan berusia 12-18 tahun menunjukkan :
 
  • Sebanyak 85.3% responden menyatakan perempuan kerap ditampilkan sebagai korban kekerasan seksual.
 
  • Sekitar 77.2% berpendapat bahwa laki-laki lebih sering ditokohkan sebagai pemimpin dalam tayangan media. 
 
 
“Film dan media berpengaruh hebat pada cara pandang anak perempuan terhadap dirinya sendiri dan cara dunia melihat mereka. Anak perempuan perlu melihat diri dan karakter mereka tercermin di layar. Karakter positif dan otentik dapat menginspirasi mereka untuk berkembang. Pembuat konten di industri media dan entertainment berkesempatan mempengaruhi aspirasi anak perempuan dengan cara menghentikan stereotipe gender yang merusak,” ujar Geena Davis, aktris Hollywood yang memprakarsai penelitian ini. (f)



BACA JUGA :
Bergerak untuk Inklusi
Perjuangan RUU PKS Masih Berlanjut
Sah, Batas Minimal Usia Perkawinan Pria dan Wanita 19 Tahun

 


Topic

#stereotipegender, #kesetaraangender

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?