
(Foto: Pexels)
Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, usulkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dijalankan secara permanen.
“Pembelajaran jarak jauh ini akan menjadi sesuatu yang permanen, bukan pembelajaran jarak jauh saja yang pure, tapi hybrid mode. Menurut saya adaptasi terhadap teknologi itu pasti tidak akan kembali lagi," ungkap Nadiem dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI.
Pembelajaran jarak jauh dinilai dapat membuka peluang efisiensi teknologi. Di samping itu, sekolah dan orang tua murid dapat melakukan persilangan metode pembelajaran.
"Karena walaupun kita sekarang kesulitan beradaptasi dalam PJJ, belum pernah dalam sejarah Indonesia kita melihat jumlah guru dan kepala sekolah dan orang tua yg bereksperimen dengan teknologi. Jadi ini merupakan suatu tantangan ke depan, akan jadi satu kesempatan untuk kita," tutur Nadiem.
Muhammad Hamid, Plt Dirjen PAUD-Dikdasmen memaparkan bahwa pembelajaran jarak jauh akan dipermanenkan dalam bentuk hybrid model, yaitu menggabungkan belajar daring dengan belajar tatap muka.
“Permanen itu maksudnya PJJ daring itu akan tetap digunakan sekolah walaupun COVID-19 sudah usai. Minimal gabungan pembelajaran daring dan tatap muka (hybrid)," ujar Hamid seperti dikutip dari detik.com.
Namun, wacana ini tak disetujui oleh Komisi X DPR RI. Syaiful Huda, Ketua Komisi X DPR RI ingin agar konsep pembelajaran jarak jauh permanen diterangkan dengan jelas.
“Saya kira perlu diperjelas apa yang dimaksud dengan permanen. Mungkin saja konteksnya adalah selama transisi pandemi saja. Kalau yang dimaksud permanen itu selamanya, tidak setuju. Sangat tidak setuju,” ujarnya.
Menurut Syaiful, pembelajaran jarak jauh hanya memenuhi dua dari enam aspek yang harus dipenuhi dalam proses pembelajaran. Enam aspek tersebut adalah nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni seperti yang tercantum dalam Permendikbud No.137 tahun 2013.
“Kalau PJJ permanen itu di level perguruan tinggi enggak masalah lah, tapi kalau untuk SD, SMP, SMA, saya kira saya tidak setuju. Karena tentu tidak semua mata pelajaran bisa di-PJJ-kan," kata Syaiful.
Bagi Doni Koesoema, pengamat pendidikan, Indonesia belum siap untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh secara penuh. Doni menilai pentingnya melakukan kajian akademis berbasis riset terlebih dahulu sebelum menerapkan pembelajaran jarak jauh. Sekolah dan guru juga harus diberdayakan dalam mengembangkan manajemen website pembelajaran di sekolah masing-masing.
"Kalau untuk pembelajaran jarak jauh permanen, saya rasa harus ada penelitiannya dulu. Karena saat ini pembelajaran jarak jauh masih mempersyaratkan pertemuan tatap muka dengan tutor, terutama di sekolah terbuka. Namun ini bukan kondisi ideal," ujar Doni seperti dikutip dari Kompas.com.
Pembelajaran tatap muka merupakan metode yang lebih efektif dan efisien hingga saat ini. Doni menyebut sebuah riset di Amerika Serikat yang menyatakan bahwa para mahasiswa tak begitu menyukai pembelajaran jarak jauh. Mereka ingin kembali ke kampus untuk kuliah tatap muka.
"Karena sebenarnya pendidikan itu jarak dekat, bukan jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh hanyalah alternatif belajar saat situasi normal belum bisa dilaksanakan. Kalau sudah normal, pendidikan itu akan efektif lewat perjumpaan langsung," ungkapnya.
Doni menjelaskan bahwa akan ada sebuah hal fundamental yang hilang saat pembelajaran dilakukan secara daring. Sesuatu yang hilang tersebut adalah sentuhan pengalaman pada realitas melalui interaksi belajar.(f)
BACA JUGA:
Mengenal Conscious Lifestyle, Tren Gaya Hidup Konsumen ASEAN, Termasuk Indonesia
Bahaya Bakteri Listeria yang Ditemukan Terkontaminasi pada Jamur Enoki Impor
Ini Empat Media Sosial yang Paling Banyak Digunakan
Topic
#BelajarOnline, #corona, #NadiemMakarim, #Mendikbud, #covid19, #newnorma




