Trending Topic
Krisis Menjadi Ruang untuk Berkembang Bagi Perempuan

7 Oct 2021

indonesian women's forum 2021

Hari ketiga Indonesian Women’s Forum (IWF) 2021 yang berlangsung pada Rabu (29/9/2021) mengusung tema Women in Fast Changing Society menjadi penutup acara tahunan yang diprakarsai Femina sejak tahun 2018

Selama tiga hari, IWF 2021 menghadirkan topik-topik conference dan master class yang terkait dengan kondisi perempuan Indonesia saat ini dan masa depan, dan menjadi ajang para wanita untuk bertukar pikiran dan menambah skill dan wawasannya. Ribuan wanita dari seluruh penjuru Indonesia hadir dalam virtual room IWF 2021 yang tahun ini pertama kalinya digelar secara daring. Lebih dari lima puluh pembicara hadir memberikan paparan, ide, pandangan, serta ilmunya untuk mengajak kita para wanita melihat ulang peran kita dalam keluarga dan masyarakat, bisa saling berkolaborasi untuk segala sesuatu yang baik bagi kemajuan dan kesejahteraan semua. Acara ini juga menghadirkan tiga menteri sebagai pembicara kunci, yaitu Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah yang menjadi pembicara kunci di hari Senin (27/9/2021); Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, sebagai pembicara kunci di hari Selasa (28/9/2021); dan Menteri Peranan Perempuan dan Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, SE. M.Si, sebagai pembicara kunci di hari Rabu (29/9/2021). 

“Jika wanita bisa bersama-sama, maka mereka bisa menjadi sosok penggerak dan komunikator untuk perubahan dan mengatasi masalah. Kita bisa melangkah lebih jauh jika bersama-sama, apa pun peran kita,” kata Petty S. Fatimah, CCO Femina dan Direktur Editorial Prana Group saat membuka diskusi panel bertajuk Together We Can Do Better, di hari ketiga. 

Hadir sebagai panelis dalam diskusi panel tersebut adalah 
Dwi Yuliawati Faiz (Head of Programmes UN Women Indonesia), Fery Farhati, S. Psi, M.S, (Ketua Tim Penggerak PKK DKI Jakarta dan penggagas Ibu Ibukota Awards), Anggia Kharisma (President of Kids and Family Business dan Produser Visinema), dan Angkie Yudistia, Staf Khusus Presiden Joko Widodo Bidang Sosial. 

Dwi Yuliawati Faiz, Head of Programmes UN Women Indonesia, mengungkap satu riset yang dilakukan sekitar bulan 0ktober 2020, ketika pandemi sedang pada puncaknya dan ada pembatasan mobilisasi masyarakat. Dari riset tersebut terlihat ada beberapa hal selama pandemi ini yang berdampak lebih besar pada perempuan lebih daripada laki-laki. 

  1. Pekerjaan yang dilakukan. “Pekerjaan yang tidak berbayar, seperti mengurus rumah tangga, mengasuh anak, merawat orang tua atau keluarga yang sakit, itu lebih banyak  dilakukan perempuan (36%) dibandingkan laki-laki (30%). Ketika pandemi, keliatan bahwa perempuan punya tugas berat sekali,” kata Dwi.

  2. Kesehatan mental dan emosional perempuan. Pada pandemi ini, 57% perempuan mengaku mengalami stres dan kecemasan. Banyak sekali hal tidak menentu yang membuat perempuan merasa cemas dibandingkan laki-laki (48%). 

  3. Kekerasan dalam rumah tangga. Selama pandemi, KDRT yang dialami perempuan meningkat, didorong berbagai tekanan termasuk ekonomi. 

  4. Pekerjaan tak berbayar naik cukup tinggi, sementara pekerjaan berbayar sangat berkurang. “Padahal, banyak perempuan bekerja di sektor informal yang harusnya tidak terganggu berbagai krisis, lebih bisa bertahan. Tapi, di masa pandemi dampaknya ke bisnis formal dan informal,” ungkap Dwi. 

  5. Penurunan pendapatan. Sebanyak 82% perempuan mengaku pendapatannya menurun. 

Tapi, kabar baiknya, di tengah dampak seperti di atas, Dwi membuktikan perempuan memiliki daya lenting yang hebat sekali. Ia mengatakan bahwa perempuan lebih cerdik dalam melihat kesempatan. Dari studi yang dilakukan terhadap 1600 mitra Gojek di bidang  makanan dan minuman, di mana perempuan lebih banyak berkiprah,  tampak bahwa bisnis yang dikelola perempuan meningkat penggunaan platform internetnya untuk menjual produk-produk mereka. “Kalau satu usaha tutup, mereka bergerak, penggunaan platform internet menjadi lebih besar. Ini terjadi pada bisnis yang sudah jalan maupun yang baru. Yang sudah jalan melakukan diversifikasi, berstrategi untuk melakukan penjualan menggunakan platform internet. Ini (awalnya) strategi bertahan, tapi juga dilihat sebagai peluang baru. Dan, bukan sekadar bertahan, ada juga yang malah berekspansi. Survive and growing,” papar Dwi. 

Hebatnya, kesempatan dan tantangan ini ternyata bukan hanya di lingkup bisnis. Kepemimpinan perempuan meningkat pesat di masa krisis. Dwi mengambil contoh kasus ratusan ribu pekerja migran yang dipulangkan karena pandemi dan memerlukan bantuan dalam banyak segi. “Siapa yang stepping up?
Service provider, seperti ‘rumah aman’, yang banyak dilakukan perempuan. Seorang perempuan di daerah di Jawa Barat, misalnya, tetap membuka crisis center-nya, untuk membantu para pekerja migran yang mengalami kekerasan. Jadi, layanan tetap buka,” kata Dwi. 

Contoh lainnya, seorang perempuan di Klaten ditunjuk oleh penduduk desanya menjadi satgas COVID-19. Hasilnya, tidak ada kasus terjadi di desa itu. Ada juga seorang perempuan yang bisnisnya terpuruk, suami kena PHK, tapi dia bersama teman-teman mantan pekerja garmen membuat masker. Dia menciptakan network. Ada yang membuat desain, menjahit dan marketing. Ada semacam optimism dalam diri perempuan, jika terjadi sesuatu daya lentingnya lebih kuat.

Dwi mengatakan semua ini terjadi bukan semata karena ada peluang, tapi perempuan memang pada dasarnya memiliki potensi, namun tidak menyadarinya. Ketika krisis, perempuan seperti didorong dan jadi punya kesempatan. Membangun sisterhood. “Ada kecenderungan, ketika krisis banyak kasus kekerasan. Tapi komnas perempuan mencatat ada banyak support group yang dibentuk untuk perempuan. Support group (juga terjadi) di kasus kekerasan online, banyak perempuan di-bully netizen. We step up for our sisters. Ini membuat saya optimistis. Jika kita mendapat kesempatan, menyadari potensi, dan ada ruang-ruang, kita bisa maju. Di masa pandemi ini kita bukan hanya build better tapi build better equally,” kata Dwi. 

Pandemi ini menjadi semacam
wake up call buat kita. Bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin dan memegang kendali. 

Bergerak dan Berdampak

Bukti besarnya potensi perempuan untuk menjadi penggerak komunitasnya diungkapkan juga oleh Fery Farhati, S. Psi, M.S, Ketua Tim Penggerak PKK DKI Jakarta dan penggagas Ibu Ibukota Awards (penghargaan bagi perempuan-perempuan penggerak di Jakarta). Ia menemukan ada begitu banyak perempuan hebat, kader-kader PKK di sudut-sudut Jakarta, yang menjadi penggerak dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar dan kota Jakarta.

“Ketika ada masalah di lingkup terkecil dalam keluarga, perempuan yang menyelesaikannya. Ketika kepedulian perempuan mengurus isu-isu yang ada di hadapannya diperluas di lingkungan sekitarnya, maka dampaknya akan luas. Itu yang mendorong saya membuat Ibu Ibukota Awards, agar semua bisa melihat ada banyak sosok perempuan penggerak yang punya dampak luar biasa terhadap kemajuan kota. Mereka terus bergerak dengan niat tulus, tidak harapkan pujian, menjalankan kata hati,” kata Fery. 


Semua penggerak ini sosok pembelajar. Begitu menemukan masalah, mereka tangkas bergerak mencari solusi. Ketika ada isu sampah di lingkungannya, misalnya, mereka belajar membuat bank sampah dan cara memilah sampah. Tidak hanya untuk diri sendiri, mereka mengajarkan kepada orang-orang sekitar. “Nama mereka tidak bisa dicari di mesin pencari google. Tapi dampak yang mereka lakukan luar biasa. Ferry mengibaratkan titik akupunktur; satu titik berdampak bagi seluruh tubuh. Satu hal kecil yang mereka lakukan berdampak bagi seluruh kota. Suasana Jakarta menjadi lebih penuh harapan, jauh lebih menyenangkan. Harapannya, selain kami bisa menghargai apa yg sudah mereka kerjakan, ini juga membangun suasana hangat di Jakarta dan menginspirasi anak muda,” kata Fery.

Fery mengakui bahwa PKK sudah bergerak dan bergotong royong secara nyata di dalam masyarakat sejak awal didirikan. Ia mengungkap, saat ini peran besar PKK disadari pemerintah. Misalnya, Kemendagri telah menggandeng PKK dalam upaya-upaya menyelesaikan masalah-masalah COVID-19. “Organisasi ini sangat matang, luar biasa. Tugas PKK menggerakkan, mengedukasi, memberi informasi, dan mendata. Mereka sudah melakukan pendataan sejak dulu. Ada yang disebut dasa wisma, yakni 1 orang kader bertanggung jawab mendata, menggerakkan, dan memberi informasi kepada 20 keluarga/rumah di lingkungan rumah tinggalnya. Ia bisa merangkul 20 rumah, mendata anak hingga lansia, kondisi MCK, ventilasi udara, penghasilan, dan sebagainya, hingga 300-an variabel data. Itu luar biasa,” papar Fery.

Jika dulu pendataan dilakukan secara manual, kini mereka memasuki era digital dengan menggunakan aplikasi yang makin memudahkan pendataan. Data ini dipakai pemda untuk melihat masalah yang ada di lingkungan sekitar Jakarta dari lingkup terkecil. Sehingga, kebijakan yang dibuat sesuai kebutuhan masyarakat. “Pandemi ini push the limit para kader menggunakan teknologi. Usia mereka tidak muda lagi. Banyak yang usia madya ke atas, tapi semangatnya luar biasa. Saya berharap PKK diisi anak-anak muda yang bisa melakukan aksi gotong royong atau kolaborasi,” kata Fery.  

Leader by Default

Mengangkat sosok dan peran perempuan ke permukaan bisa dilakukan dalam berbagai cara. Jika Fery menggagas Ibu Ibukota Awards, maka Anggia Kharisma, President of Kids and Family Business dan Produser Visinema, melakukannya melalui film. Banyak sekali karakter perempuan diangkat Visinema, menjadi potret yang memiliki relevansi terhadap isu perempuan saat ini. Salah satunya adalah karakter Emak dalam film Keluarga Cemara, yang menggambarkan ketahanan keluarga ketika mengalami pergolakan. Abah yang mengalami PHK dan membuat keluarga harus pindah ke kota kecil, memunculkan peran Emak sang ibu sebagai pemimpin keluarga. “Bagi saya, perempuan itu by default adalah pemimpin dan menurut saya mereka bisa mengayomi serta menjadi tulang punggung keluarganya,” kata Anggia. 

Dalam menemukan sebuah ide dan karakter dalam film, Anggia mengumpulkan data untuk mendapatkan isu sesungguhnya dalam keluarga Indonesia. Dengan demikian, karakter perempuan yang dimunculkan punya relevansi yang menarik sesuai kondisi yang ada dalam kehidupan kita. “Di Visinema, kami membut divisi family and kids business. Ini menjadi penting, ketika kami membuat sebuah konten untuk anak dan keluarga, maka ini perlu disampaikan dengan cara berbeda. Kami ingin memiliki koneksi dengan anak dan keluarga lewat konten kami, juga core values antara lain keragaman dan inklusivitas,” jelas Anggia.

Salah satu yang paling penting saat bicara soal perempuan, menurut Anggia, adalah terkait kesetaraan kesempatan. “Bukan adu kekuatan, tapi kompetensi. Kita memiliki kesetaraan, dan resilience adalah kunci. Itu yang saya bawa dalam film-film Visinema, khususnya market anak dan keluarga ke depannya. Sehingga pemberdayaan perempuan dalam karakter bukan sekadar cerita, tapi punya relevansi dan sangat connected dengan anak dan keluarga Indonesia. Story is a king, karakter yang dibuat bisa diingat dan jadi role model,” kata Anggia.

Karakter perempuan dalam film Mantan Manten bisa menjadi contoh betapa perempuan bisa memiliki daya lenting luar biasa saat menghadapi krisis. Tokoh Yasmina, manajer yang sangat berdaya, mengalami gejolak dan harus berubah menjadi perias pengantin. Artinya, ketika kita mengeluarkan potensi dalam diri dan berani bereksplor, maka kita berdaya dalam melakukan banyak hal.
 

indonesian women's forum 2021

Disabilitas Bukan Hambatan

Berkolaborasi membangun komunitas, dalam berbagai kondisi, adalah kekuatan perempuan yang tidak bisa diabaikan. Angkie Yudistia, Staf Khusus Presiden Joko Widodo Bidang Sosial, adalah salah seorang perempuan muda yang telah menggerakkan komunitas penyandang disabilitas, bahkan jauh sebelum pandemi. Sebagai penyandang tuli dengan kondisi cukup berat, ia merasakan sendiri tantangan dan kebutuhan dukungan bagi kaum disabilitas. “Ragam penyandang disabilitas itu banyak banget: intelektual, sensorik, motorik, mental, bahkan ganda. Kekuatan penyandang disabilitas ada di komunitasnya dan bekerja sama antarpihak,” kata Angkie. 

Sebagai tokoh muda yang berprestasi dalam menggerakkan komunitas disabilitas, Angki akhirnya ditarik menjadi staf khusus Presiden RI. Ia mengungkap satu pesan singkat Presiden Joko Widodo: “Tolong bantu Bapak untuk membereskan beberapa hal berkaitan dengan disabilitas.” 

Lalu, apa dukungan pemerintah bagi penyandang disabilitas? Angkie menyebutkan, penyandang disabilitas adalah kelompok prioritas, dengan jumlah yang sangat besar di Indonesia, sekitar 38 juta jiwa. Kelompok rentan ini menjadi prioritas di semua program pemerintah. Ada Undang-Undang no. 8 tahun 2016 tentang disabilitas, yang diperbarui dari UU yang sudah ada di tahun 1997.  “UU adalah produk DPR, Pemerintah melalui presiden mensahkannya, Jadi ini bukan sekadar tanggung jawab Kementerian Sosial, tapi banyak kementerian, seperti Kemenaker, Kemendikbud, Kementerian PPPA, BUMN, dan sebagainya. Kerja sama membuat program untuk disabilitas. Penyandang diasbilitas sekarang mulai bergerak. Prestasi-prestasi sudah mulai meningkat. Kemarin, di Paralimpic 2020 mereka berprestasi,” kata Angkie.

Di masa pandemi ini, kelompok disabilitas pun tentu terdampak dan membutuhkan dukungan. Fokus pemerintah adalah pemulihan kesehatan dan ekonomi. Salah satu yang sedang gencar dilakukan pemerintah adalah vaksinasi, yang menurut Angki vaksinasi untuk penyandang disabilitas itu memiliki tantangan yang luar biasa. Tapi sekali lagi Angki menunjukkan bahwa dengan bekerja sama, kekuatan terbentuk. “Kami bekerja sama, antara pemerintah pusat, pemda, komunitas, dan lembaga masyarakat, sehingga bisa tercapai 95% penyandang diabilitas divaksinasi. Kita sama-sama bangkit. Disabilitas adalah kelompok rentan, yang stimulai kehidupan dan kemandiriannya harus didorong. Pemerintah pusat
nggak bisa sendiri. Dengan kolaborasi dan sinergi, kita bisa  membuat disabilitas lebih nyaman,” kata Angkie. 

Ia berharap semua bergerak menuju Indonesia maju dan inklusif yang ramah terhadap penyandang disabilitas, hidup setara, tidak ada diskriminasi dan stigma bagi penyandang disabilitas. (f) 


Penulis: 
Gracia Danarti


Baca Juga: 
Pesan Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Darmawati untuk Para Perempuan di Indonesian Women's Forum 2021
Wanita Wirausaha Perlu Gercep, Geber dan Gaspol untuk Bangkit Hadapi Tantangan Ekonomi
Ini Kata 4 Lady Boss Tentang Tantangan dan Keunggulan Perempuan Pemimpin

 


Topic

#IWF2021, #pandemi, #konferensi

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?