Trending Topic
Ini Stres Atau Gangguan Kejiwaan?

10 May 2016


Foto: Fotosearch

Pendapat orang, lingkungan, sekolah, pekerjaan, masalah cinta, dan uang adalah hal yang paling sering menjadi pemicu seseorang mengalami gangguan jiwa seperti depresi, bipolar, atau bahkan skizoprenia.

Beberapa tahun lalu video artis Marshanda marah-marah dan memaki-maki, beredar viral di dunia maya. Banyak orang terkejut. Apa yang terjadi dengan gadis manis dan baik-baik ini?

Beberapa tahun kemudian, ia dianggap sudah kembali manis setelah menikah dan berjilbab. Siapa sangka ia kemudian bercerai, melepas jilbabnya, serta mengecat pirang rambutnya dan menampilkan foto-fotonya dengan penampilannya yang baru di akun media sosial miliknya. Ratusan komentar muncul, yang bernada mendukung dari penggemar hingga yang menghujat dari haters, yang bilang ia gila pun ada. Marshanda tak peduli, bahkan ia muncul di banyak media dan mengaku kalau ia menderita gangguan jiwa bipolar.
           
Menurut psychiatric.org, bipolar adalah gangguan kejiwaan yang menyebabkan mood, energi, dan kemampuan fungsional seseorang berubah drastis. Perubahan emosi yang ekstrem di waktu-waktu tertentu, yang dialami penderita disebut mood episode, yang melingkupi manic, hypomanic (mood sangat bahagia) dan depresif (sangat sedih), bahkan bisa menimbulkan perasaan ingin bunuh diri. Namun, penderita bipolar juga memiliki periode ketika mood mereka normal. Bipolar bisa diobati dan penderita bipolar tetap bisa hidup produktif.

Menurut  psikiater Dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, yang juga inisiator UU Kesehatan Jiwa, depresi, cemas berlebihan, dan panik termasuk gangguan jiwa neurotik, yaitu Reality Testing Ability (RTA) atau daya menilai realita tidak terganggu sehingga mampu membedakan mana yang fantasi dan realita. Sedangkan skizofrenia (gangguan jiwa ditandai dengan halusinasi auditorik, waham, perilaku kacau, bicara kacau, dan gejala negatif (menarik diri) termasuk gangguan jiwa psikotik, yaitu RTA-nya terganggu. “Ini termasuk yang dibilang kemasukan masal. Padahal itu ketakutan sementara melihat kawannya, ia merasa takut dan terkena sugesti,” kata dr. Richard. 

Mungkin Anda masih ingat, beberapa waktu lalu, pernah ada berita tentang seorang wanita model majalah pria dewasa yang bolak-balik ditangkap polisi karena kelakuannya yang aneh. Dari menjerit-jerit tanpa sebab, membuka baju di depan umum, hingga menggigit-gigit tangannya sendiri. Juga ada seorang ibu yang membunuh ketiga anaknya karena tak ingin anaknya menderita dalam hidupnya nanti. Sungguh mengerikan. “Jika melihat hal ini, mereka mengalami gangguan jiwa berat, yaitu skizoprenia,” ungkap dr. Richard.

Meski gangguan itu terdapat pada kejiwaan, penyebab utamanya justru berasal dari 3 hal yang saling berhubungan, menurut dr. Richard. Yang pertama adalah faktor organobiologis, yaitu yang berasal dari organ tubuh. Misalnya karena genetik atau keturunan, penyakit atau kecelakaan yang menyebabkan gangguan pada otaknya, hingga penggunaan obat-obatan.

“Salah satunya adalah obat diet yang mengandung aphetamin. Orang yang mengonsumsinya akan tidak nafsu makan, bersemangat dan aktif, namun ketika pengaruh obat hilang, ia ingin lagi, karena kalau tidak ia akan merasa lemas, dan tak bersemangat melakukan apapun,” jelas dr. Richard.

Namun yang paling sering terjadi adalah karena genetik atau keturunan. “Kalau salah satu orang tuanya yang mengalami gangguan kejiwaan, kemungkinan anak mengidap adalah 12%, dan kalau kedua orangtuanya, kemungkinannya menjadi 24%,” dr. Richard menjelaskan. Karenanya pernikahan antar saudara tidak dianjurkan, sebab mereka memiliki bakat yang sama, dan jika digabung akan semakin kuat, dan bisa muncul.

Yang kedua adalah psikoedukatif. Yaitu dari pengalaman, kegagalan, keberhasilan, trauma, hingga didikan dan asuhan yang biasa ia terima sejak kecil dan menjadi sifat, sikap dan kebiasaanya. Ini didukung oleh pembawaan si anak sejak lahir. Misalnya ia pemalu, tak suka bergaul, dan lain-lain. 
 
Sejak kecil, anak perlu diajarkan mengatasi tantangan dan tugas perkembangannya. Anak-anak yang memiliki orang tua yang terlalu protektif dan otoriter, tidakleluasa menentukan pilihan atau terbebani orang tua, akan sulit memecahkan masalah atau mengambil keputusan, kurang percaya diri, dan penakut ketika dewasa nanti.  
           
Sedangkan yang ketiga adalah psikososial. Yaitu faktor yang diakibatkan oleh lingkungan. “Lingkungan yang buruk termasuk agama yang terlalu fanatik bisa berbahaya. Hingga malah membuatnya selalu berpikiran negatif terhadap hal-hal yang tidak sejalan dengan agamanya. Akhirnya ia malah tertekan dan depresi,” jelas dr Richard. Begitu juga dengan seseorang yang mengalami KDRT atau kekerasan lainnya.
           
Karenanya sebelum terlambat, jika melihat seseorang yang sudah menunjukkan gejalanya, lebih baik kita segera mengajaknya berkonsultasi ke dokter. Seseorang mungkin mengalami gangguan jiwa jika ia tampak berbeda dari biasanya. Yang biasanya ramah dan senang bergaul, kini lebih sering menyendiri. Jadi senang melamun, mudah tersinggung, gelisah, dan mudah cemas.

Apa yang terjadi pada R, seorang karyawan di bagian logistic dan finance perusahaan makanan bisa menjadi contoh bagaimana tekanan pekerjaan bisa membuatnya terguncang. R, seorang karyawan di kantor cabang kami, harus diopname karena fatigue atau kelelahan. Dari suaminya, diketahui R tertekan karena beban pekerjaan, sampai sering mual-mual di hari Senin, saat akan berangkat kerja,” Jarir Nurzaman (36), seorang Head of Human Resources bercerita.

Memang, menurut Jarir, dua bulan belakangan ada sistem baru di divisi  tempat R bekerja. Awalnya, R bekerja berdua, tapi sistem baru mengharuskannya bekerja sediri. Otomatis load pekerjaannya bertambah banyak. Terlewat dari perhatian HR, rupanya tekanan ini terlalu berat untuknya, meski ia selalu berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Akhirnya, bagian HR pusat kemudian memberi R waktu istirahat dua minggu, sistem pekerjaannya pun dievaluasi, serta diperbaiki.

Gejala ini sama dengan yang menimpa anak-anak, ditambah dengan  nilai-nilainya pelajarannya yang menurun. Sudah saatnya Anda mengajak anak Anda bicara jika sudah menunjukkan gejala seperti ini, karena bila ia sampai depresi, akibatnya akan sangat buruk.

Tidak bisa tidak, dalam kasus anak, kita perlu melihat lagi data yang dihimpun Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) 2011-2015, angka anak bunuh diri cenderung sama, yaitu 12 korban pada 2012, dan 14 korban pada 2015.

Biasanya menurut keluarga, korban adalah anak yang baik, penurut, dan tidak pemarah. Karenanya keluarga sungguh tak menyangka korban akan bunuh diri.  “Kadang keluarga tidak memperhatikan adanya perubahan pada anak. Bisa jadi ia mendapat tekanan atau stres yang besar dari sekolah, ditambah tuntutan orang tua agar nilainya bagus,” jelas dr Richard.

Mengapa seorang anak bisa berpikir untuk bunuh diri? “Pengalaman hidup dan pengetahuan mereka belum terlalu banyak. Pikirannya akan cepat buntu, dan  ditambah tayangan televisi, yang bisa mempengaruhi pikiran mereka,” kata dr. Richard.

Hal ini memang bisa membuat anak-anak terganggu jiwanya. Tapi tergantung kepribadian anak tersebut. Jika kepribadiannya baik, ia mungkin tahan banting. Dari orang tua yang sama saja, anak-anaknya bisa memiliki kepribadian yang berbeda. Ada yang pendiam, pemalu, sulit bergaul, ada juga yang ramah, mudah bergaul. Ada yang tidak acuh saat menghadapi masalah, ada juga yang selalu memikirkan.   

“Kalau anak tertekan, lalu disertai kondisi anak tersebut yang pendiam, pemalu, dan tak suka mengungkapkan perasaan, stres akan menambah beban dan membuatnya jatuh. Sedangkan kalau anak tersebut kuat dan mudah bercerita mungkin ia bisa menghadapinya dengan tenang, meski tetap ada batasnya,” dr. Richard mengungkapkan.

Indri Savitri, 43, praktisi pendidikan memaparkan, di tempat praktik pribadinya, cukup banyak anak sampai remaja yang merasa berat menghadapi tantangan di luar. Gejalanya, dimulai dengan psikosomatis, dimulai dengan pusing-pusing atau sakit perut pada hari tertentu dimana ada pelajaran yang tidak mereka senangi.

“Hingga sampai tingkatan yang tinggi yang kita sebut school refusal, menolak untuk sekolah. Mereka umumnya tertekan karena merasa tidak mampu menangani masalah, baik itu kesulitan dalam pelajaran, sosialisi teman sekelas, maupun masalah dalam keluarga,” papar Indri.
Saat merasa tidak dipahami dapat muncul perasaan depresi, hingga pada tahap yang ekstrem melakukan percobaan bunuh diri, menyayat-nyayat pergelangan tangan sendiri. Bahkan pada usia 12 tahun, belum remaja penuh.

Stres yang dibiarkan mungkin juga berkembang terus jadi gangguan kejiwaan yang lebih berat. Pada anak yang merasa dituntut terlalu tinggi, akan muncul rasa cemas, rasa tidak percaya diri, dan pada kasus yang lebih berat gangguan jiwa berat.

”Saya pernah mendapati kasus anak yang merasa selalu ketakutan, sampai tidak berani ke sekolah, tidak berani ini itu, dan tidak bisa tidur. Karena anak itu sudah tidak bisa berfungsi normal, saya me-refer-nya ke psikiater sehingga anak mendapat pengobatan yang diperlukan untuk membuatnya tenang dan meregulasi pikiran dan perasaannya,” cerita Indri. (f)
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?