
Foto dari kiri ke kanan: Petty S. Fatimah, Arini Subianto, Suci Arumsari, Melia Winata, dan Melfrida Gultom. Foto: Muhammad Zaki
Perempuan pemimpin usaha menghadapi tuntutan multi-peran yang cukup menantang di era digital dan transformasi teknologi seperti sekarang ini. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) Republik Indonesia, saat ini ada lebih dari 64,2 juta UMKM dan 60% yang berkontribusi di dalamnya adalah wirausaha wanita.
Tantangan yang dihadapi para pemimpin usaha perempuan cukup banyak, mulai dari permodalan, akses pengembangan keterampilan, tata kelola usaha, pemasaran, hingga stigma sosial yang menghambat usaha bertumbuh. Ditambah lagi, tantangan secara peran sosial sebagai seorang istri, ibu, sekaligus pemimpin usaha, menghadirkan keterbatasan dan situasi sulit bagi para wanita ketika menjalankan peran di posisi puncak.
Saat ini pemerintah berusaha mendorong terwujudnya wirausaha baru melalui terbitnya Perpres No. 2 Tahun 2022 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional.
“Kami menyadari pentingnya peran pemberdayaan ekonomi perempuan terhadap masyarakat, keluarga dan perekonomian secara luas.Untuk itu, Kementerian Koperasi dan UKM terus berupaya meningkatkan kesetaraan dan kesejahteraan ramah gender dan membangun ekosistem kewirausahaan perempuan,” kata sambutan Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki yang dibacakan oleh Ibu Christina Agustin, A.Pi., M.M., Asdep Pengembangan Teknologi Informasi dan Inkubasi Usaha, Kemenkop UKM dalam pembukaan acara DBS Treasures Indonesia Womenpreneur Conference (IWC) 2023 yang berlangsung di Plaza Indonesia, Selasa, 11 Juli 2023.
Di acara kali ini, empat pemimpin usaha wanita Indonesia yakni Arini Subianto, Presiden Direktur PT Persada Capital Investama; Suci Arumsari, Co-Founder & President Director AloDokter; Melia Winata, Co-Founder & CMO Du Anyam dan Melfrida Gultom, Deputy Head of Consumer Banking Group Indonesia, DBS, mengupas rahasia sukses mereka untuk menyemangati para wirausaha wanita. Berikut rangkuman tip dari keempat pemimpin usaha tersebut.

Kunci sukses Arini Subianto salah satunya adalah merawat motivasi. Foto: Muhammad Zaki
Pemimpin adalah Sosok yang Senang Belajar dan Bisa Memotivasi
Di kalangan pebisnis, sosok Arini Subianto sangat familiar dan sering menghiasi media, juga disebut-sebut sebagai salah satu perempuan terkaya di Indonesia. Sebagai pemangku jabatan tertinggi, ibu dua anak kelahiran 20 Desember 1970 ini menuturkan bahwa salah satu sifat pemimpin yang diperlukan untuk membawa perusahaan lebih maju adalah rasa ingin tahu yang tinggi sehingga mau belajar dan kemampuan untuk memotivasi bawahannya."Untuk maju itu dasarnya satu, ya, dan ini adalah sifat yang harus dimiliki oleh seseorang yang memimpin sesuatu, yakni motivasi," ujar perempuan yang akrab disapa Ninin.
"Karena dengan motivasi itu, keingintahuan kita akan lebih banyak. Kita jadi ingin belajar lebih banyak, kita ingin mengeksplor area yang kita belum pernah terjun. Dan itu semua terakumulasi menjadi satu drive dan drive inilah yang menular," Ninin menambahkan.
"Kalau misalnya pemimpinnya malas, pengikutnya juga akan malas. Namun sebaliknya jika kita menunjukkan motivasi, keingintahuan yang tinggi, ingin belajar lebih banyak, dengan sendirinya itu akan seperti tsunami, bergulir, menular ke yang lain," kata Ninin.
Arini Subianto boleh dibilang sosok dengan latar belakang yang beruntung karena mewarisi perusahaan keluarga. Namun bukan berarti kiprahnya tanpa hambatan. Di masa awal meneruskan estafet bisnis sebagai generasi kedua, Ninin mengaku dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah ditangani oleh dirinya yang kala itu terbilang masih sangat muda. Namun dengan kerendahan hati Ninin mengakui bahwa dirinya memang belum berpengalaman dan menyatakan bersedia belajar dari timnya yang lebih berpengalaman.
"Terus terang waktu itu sayang bilang ke tim leadership, teach me (ajari saya), karena saya tidak tahu apa-apa," kisah Ninin yang mengaku tidak pernah lelah untuk belajar di manapun posisi karirnya.

Mengaku tidak memiliki latar belakang di dunia medis, Suci mencetuskan usaha telemedicine dari keputusasaan yang pernah dialami. Foto: Muhammad Zaki
Pantang Menyerah pada Keterbatasan
Siapa sangka bahwa platform telemedicine Alodokter didirikan oleh seorang perempuan yang sama sekali tidak punya latar belakang pendidikan di bidang kesehatan, Suci Arumsari, yang kini menjabat sebagai Co-founder dan President Director Alodokter.Kisah di balik tercetusnya ide membangun Alodokter diawali rasa frustrasi Suci karena informasi kesehatan yang simpang siur di internet. Kala itu, Suci yang masih gadis dan belum menikah mengalami masalah kesehatan serius sampai lumpuh sehingga membuat keluarganya sedih. Meski sudah ditangani oleh dokter, Suci memaksimalkan usaha kesembuhan dengan mencari informasi dari internet. Namun alih-alih mendapatkan petunjuk yang membantu kesembuhan penyakitnya, informasi yang didapat Suci justru berpotensi membahayakan kesehatannya.
"Ya, sudah kalau begitu walaupun aku tidak bisa berjalan, tapi mataku masih bisa melihat, tanganku masih bisa mengerjakan banyak hal, dan otakku masih bisa berpikir, apa yang bisa aku lakukan dengan situasi ini?," pikir Suci kala itu.
"Dari situlah awal mulanya aku mendapat ide untuk membuat Alodokter," ujar perempuan kelahiran 25 Juli 1986 ini.
Berkat kegigihan dan tujuan yang jelas ingin menyajikan informasi yang kredibel terkait kesehatan kepada masyarakat, Suci menaklukkan berbagai tantangan termasuk meyakinkan para dokter dan praktisi medis untuk bersedia bersama-sama membangun Alodokter yang dimulainya sejak 2014.

Menurut Melia, membangun usaha yang memberdayakan masyarakat sekaligus memberi solusi terhadap permasalahan sosial perlu survei dan pemahaman terhadap kehidupan lokal. Foto: Muhammad Zaki
Pertimbangkan Perspektif Pemberdayaan
Bisnis adalah tentang membawa perubahan dan menjawab masalah dengan solusi. Hal ini sepertinya menjadi landasan bagi brand kerajinan anyaman lontar Du Anyam yang memberdayakan komunitas di desa Flores, Nusa Tenggara Timur. Sosok di balik kesuksesan brand lokal yang eksklusif ini adalah Melia Winata selaku Co-Founder dan CMO Du Anyam, beserta dua rekannya.Pertama kali menginjakkan kaki di NTT, menurut Melia, dia melakukan pendekatan terlebih dahulu kepada kepala desa setempat untuk mengenalkan konsep dan ide usaha social enterprise.
Social enterprise merupakan suatu bentuk dari kewirausahaan yang tidak semata berorientasi kepada keuntungan, melainkan memberi solusi terhadap permasalahan sosial.
"Kami bertiga memiliki interest terkait isu perempuan. Jadi awalnya kami masuknya lewat kepada desa untuk ngobrol dan perkenalan, selanjutnya melihat kemampuan ibu-ibu di desa, apa yang bisa kita kembangkan lebih lanjut sehingga itu bisa menggerakkan ekonomi lokal masyarakat," ujar Melia.
Tidak mudah bagi Melia untuk meyakinkan warga lokal bahwa konsep social enterprise yang akan ia bangun dapat membawa perubahan positif bagi hidup mereka. "Karena kami orang luar, dan tiba-tiba datang dengan ide akan bisa mengubah hidup mereka. Tentu mereka tidak langsung paham," kisah Melia.
Karena itu, Melia mencoba melakukan strategi pendekatan yang berbeda, yaitu tinggal selama beberapa waktu bersama penduduk lokal untuk bisa memahami pola pikir dan melihat masalah kehidupan dari sudut pandang mereka.
"Kita harus melihat masalah kehidupan dari perspektifnya ibu-ibu di sana. Bukan dari perspektif kita. Dari situ kita bisa memahami," ujar Melia.

Melfrida memasukkan unsur spiritual juga dalam kepemimpinannya. Foto: Muhammad Zaki
Modalitas Pemimpin Perlu Terkoneksi dengan Spiritual
Kesuksesan dalam berbisnis perlu dibarengi dengan menerapkan sifat-sifat mulia. Tampaknya ini menjadi salah satu prinsip bagi Melfrida Gultom selaku Deputy Head of Consumer Banking Group Indonesia, DBS.Rahasia sukses Melfrida yang merintis karir mulai dari bawah hingga menjabat sebagai pemimpin, diakuinya tidak jauh berbeda dengan ketiga pembicara di atas. Namun ia menambahkan, kesehariannya dipengaruhi oleh nilai-nilai spiritual.
"Dari spiritual guru asal India, mengatakan bahwa seorang leader itu harus memiliki tiga hal, yaitu insight bisa berupa informasi, data, intuisi," ujar perempuan yang akrab disapa Pepi.
"Selanjutnya adalah influence, yaitu seorang pemimpin harus bisa memberikan pengaruh. Sedangkan yang ketiga adalah integritas. Integritas itu kalau belajar dari ayah saya, semua yang saya dapatkan dari kantor adalah milik kantor. Yang kamu bawa pulang adalah gajimu, bonusmu. Selain itu adalah milik kantor," tambahnya.
Itulah beberapa sifat yang dimiliki oleh pemimpin perempuan yang berhasil mengembangkan bisnis dan memberikan dampak bagi masyarakat luas. (f)
Khalifa Moon (Kontributor)
Baca Juga:
Indonesia Womenpreneur Conference Segera Dimulai! 11-12 Juli 2023
Kebangkitan UKM Perempuan Indonesia: Menguatkan Kinerja Bisnis UKM Dengan Belajar Trend dan Ilmu Baru
Bidik Pasar Gen Z, Pengusaha Wajib Berstrategi
Topic
dbsiwc2023, indonesiawomenpreneurconference2023, iwc2023, perempuanpemimpinusaha




